Kota di Sebuah Negara Komunis
Bulan lalu aku sengaja buka aplikasi ticketing dan coba memasukan beberapa negara yang menjadi wishlist-ku karena belum pernah aku kunjungi. Akhirnya, Jepang jadi pilihan karena harga yang bisa dibilang terjangkau, tiket berangkat Rp2,3 juta dan tiket pulang Rp 1,8 juta. Menurutku ini cukup murah karena hampir sama dengan tiket domestik di ujung Indonesia, baik timur maupun barat dari Jakarta.
Pada bagian ini aku akan bercerita tentang negara transit dalam perjalanan menuju Jepang. Negara ini adalah salah satu negara komunis di Asia, yaitu Vietnam. Di negara yang belum pernah aku kunjungi ini, aku merasa udaranya sangat panas, hampir sama dengan Thailand. Maret lalu Ketika mengunjungi Thailand, suhu udara mencapai 38°C, saking panasnya hembusan angin pun terasa hangat.
Kembali ke Vietnam, aku mengunjungi Kota Ho Chi Minh. Kota terbesar di Vietnam yang padat dan ramai, tapi aku suka karena di sini harga transportasi, barang, dan makanan cukup murah, mungkin di bawah harga Jakarta. Taksi online dari bandara ke kota hanya sekitar Rp70.000, beberapa makanan halal juga mudah ditemui di daerah Ben Thanh.
Aku jadi teringat masa kecilku seitar tahun 2002-2003 dimana Abah sering menerima dan mengirim surat ke Lasem yang ditujukan kepada keluarganya di sana. Tapi aku tidak paham apa isi suratnya, karena aku masih kecil dan belum pandai membaca tulisan Arab. Abah dengan kecerdasannya dalam ilmu agama terbiasa menulis dengan tulisan Arab dan tulisannya pun bukan seperti tulisanku yang sangat mudah dibaca. Tulisan Abah seperti tulisan arab kuno karena tampak seperti kaligrafi, hehe.
Karena hanya satu hari transit di Ho Chi Minh City, selesai dari Post Office kita memutuskan untuk City Tour dengan menggunakan Hop On-Hop Off Sightseeing Bus. Dengan membeli tiket on the spot seharga Rp 100 ribu, di pemberhentian bus kita sudah bisa melihat-lihat kecantikan kota Ho Chi Minh. Bus tingkat ini keliling di beberapa titik namun kita hanya bisa melihat dari dalam bus tidak dapat turun, kecuali beberapa paket wisata tertentu.
Makanan yang wajib kita nikmati disini yang sebenarnya juga ada di Indonesia, yaitu pho (re.: Fe’e). Memang sedikit aneh cara bacanya tapi memang begitu adanya aku bertaya langsung kepada pemilik apartemen bagaimana cara membacanya, hehe. Pho 24 yang ada di Indonesia ternyata juga viral disini, tapi kita memutuskan untuk menikmati pho yang ada di Ben Thanh, di outlet halal food yang mana penjualnya adalah warga negara Malaysia.










