Mencintai orang lain itu melelahkan, paling indah adalah mencintai diri.
Game of Thrones Daily

PR's Tumblrdome
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

if i look back, i am lost
todays bird

No title available
Sweet Seals For You, Always
𩵠avery cochrane š©µ

Product Placement
š

#extradirty
official daine visual archive
One Nice Bug Per Day
ā
noise dept.
Doug Jones

tannertan36
No title available

bliss lane
I'd rather be in outer space šø

seen from Uzbekistan
seen from United States

seen from Egypt
seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from Bangladesh

seen from United States
seen from United States
seen from Serbia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Ecuador
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@oncahazellnut
Mencintai orang lain itu melelahkan, paling indah adalah mencintai diri.
1. Bangun lebih pagi & berinteraksi dengan Al-Qurāan
Membantu fokus dan energi berada di level ideal, membuat otak lebih siap belajar dan berpikir jernih.
2. Kebaikan kecil sehari-hari
Amal, berkata baik, dan mendoakan orang lain.
Apa yang kita keluarkan akan kembali berlipat ganda.
3. Growth sosial & lingkungan
⢠Memilih circle yang mendekatkan diri kepada Allah
⢠Aktif dalam kebaikan dan memberi manfaat
⢠Melatih empati dan kemampuan mendengar
4. Journaling
Membantu pertumbuhan mental, spiritual, dan produktivitas dengan:
⢠Memperjelas tujuan hidup & arah growth
⢠Menumbuhkan rasa syukur
⢠Melatih konsistensi dan disiplin diri
⢠Fokus mencatat proses, bukan hanya hasil
Intinya:
Perubahan besar tidak selalu datang dari hal besar, tapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan niat baik dan konsisten
The only thing we can control is ourselves.
Mencoba mengendalikan orang lain agar bisa berpikir dan bersikap setenang kita adalah hal yang mustahil. Kita tidak akan pernah bisa mengubah, mengontrol, atau mengendalikan orang lain.
Sakit? Memang. Hidup ini memang sering kali tidak ideal seperti yang kita inginkan.
Tugas kita adalah memilih:
apakah kita mau mengambil risiko sakit dengan menguras tenaga untuk mengubah orang lain,
atau kita memilih untuk tidak peduli dan membiarkan orang di luar sana berbuat apa pun.
Setelah banyak membaca buku tentang masalah yang aku alami, satu hal menjadi jelas: kamu tidak bertanggung jawab atas hidup orang lain.
Sekarang, cobalah untuk let them, dan hidupmu perlahan akan menjadi lebih tenang dari hari ke hari.
Ingat, jangan sibuk menghitung nikmat yang belum kamu punya. Syukurilah apa yang sudah kamu miliki, dan connect-lah dengan Allah.
Saat kuliah dan koas aku cukup sering baca buku sejenis ini termasuk didalamnya buku stoicisme.
Aku merasa saat itu masalah dalam hidupku belum terlalu komplesk, jadi ketika membaca buku tersebut aku hanya lewat saja dan tidak terlalu relate dalam kehidupanku.
Awal menikah, aku berfikir aku bisa mengubah pasanganku seperti apa yang aku inginkan, tarnyata salah besar!. Berapapun kekuatan yang kita keluarka tidak akan bisa mengubah orang lain. Dalam buku Let Them Theory ini sangat relate dengan apa yang aku rasakan setahun ini.
Untuk mengurangi stress dala hidup memang kita harus Let Them agar energi tidak terbuang sia-sia dan hidup lebih tenang.
āDi tangan lelaki yang tepat, solatmu akan diingatkan, auratmu akan dijaga, adabmu akan ditegur dan agamamu akan dibimbing.ā
Seolah-olah kebaikan seorang wanita hanya sah bila ada lelaki yang āmenjaganyaā.
Seolah-olah iman kita hanya hidup bila ada tangan lain yang memimpin. Sedangkan hakikatnya, di zaman wanita berdikari dan bekerjaya ini, yang lebih mendesak bukan mencari lelaki untuk mengingatkan, tetapi yang selalu ingin upgrade diri sendiri menjadi wanita yang qanaah, yang sedar dan beragama walaupun tiada siapa memerhati.
Kalau seumur hidup kita menunggu satu susuk untuk mengingatkan tentang solat, menjaga aurat, menegur adab dan tanggungjawab, maka apa sebenarnya yang kita sediakan untuk anak-anak yang akan kita didik nanti?
Adakah iman itu pinjaman? yang hanya hidup bila ada pasangan, dan mati bila perkahwinan berakhir?
Itulah yang paling menyedihkan. Bila seorang wanita berubah selepas berkahwin, namun apabila diuji atau diceraikan, dia kembali kepada diri yang lamaā¦lalu dikatakan, āitu bukan diri dia yang sebenar.ā
Hakikatnya, itulah diri yang tidak pernah dibina dari dalam. Ia cuma bergantung. Dan jujur, ayat itu sangat mengecewakan.. kerana ia merendahkan keupayaan wanita untuk beriman dengan kesedaran sendiri.
Lelaki yang baik itu peneman, bukan asas. Pembimbing itu pelengkap, bukan sumber iman. Wanita yang benar-benar kuat akan tetap menjaga solatnya walau siapa pun di sisinya.
Akan tetap menjaga auratnya walau tiada yang menegur. Dan akan tetap beradab kerana dia tahu Tuhannya melihatā¦bukan kerana suaminya ada.
Dan itulah wanita yang bila diuji, tidak runtuh bersama runtuhnya rumah tangga. Kerana dia berdiri di atas iman yang dibina sendiri.
chinese gufeng style bedroom by ęø č”čå
Tentang Gerak Bukan Gaya
Pagi tadi, aku dan suami berjalan mengelilingi lapangan di depan Gedung Sate, Kota Bandung. Karena kebetulan kami menginap di Hotel didekat Gedung Sate Kota Bandung, jadi kami hanya perlu menyeberang jalan kecil untuk sampai di lapangan itu. Menikmati udara sejuk Kota Bandung, kami berbincang-bincang sembari melihat orang-orang yang sedang berjalan dan berlari di lapangan untuk berolahraga.
Ada hal yang tak biasa aku lihat ā ternyata masih banyak orang yang berolahraga tanpa mementingkan outfit-nya. Mulai dari bapak-bapak yang memakai kaus sponsor detergen, ibu-ibu yang menggunakan kaus biasa dan sepatu karet, hingga bapak-bapak yang mengenakan celana jeans. Pun suamiku berlari hanya menggunakan sandal selop karena sepatunya aku pakai.
Baru aku menyadari bahwa stigma-ku tentang orang zaman sekarang yang berolahraga harus mementingkan outfit itu salah. Ternyata, hal itu hanya berlaku bagi sebagian orang saja ā mungkin bagi kaum konten kreator. Bagi mereka yang tidak mementingkan media sosial, yang paling utama adalah gerak tubuh dan kesehatan.
Andai semua orang tahu bahwa olahraga sangat penting dan dapat mencegah serangan jantung, mungkin angka kematian akibat penyakit degeneratif bisa ditekan. Minimal, olahraga dapat membantu membakar sedikit lemak dalam tubuh mereka.
Mulai hari ini, ayo kita biasakan berolahraga setiap hari, minimal 30 menit berjalan kaki.
Sebuah Kota Megah di Tengah Hutan Kalimantan
Perjalanan kami saat itu memakan waktu sekitar dua jam dari pusat Kota Balikpapan menggunakan kendaraan pribadi. Karena ada acara nasional yang digelar di kota tersebut, hari itu banyak tamu dan rombongan yang mengunjungi Ibu Kota Nusantara (IKN). Sepanjang perjalanan, pemandangan yang tersaji adalah deretan pepohonan dan bukit-bukit kecil yang hijau. Sesekali tampak sekelompok monyet liar yang menunggu para pengendara melemparkan buah-buahan untuk mereka.
Memasuki wilayah Penajam Paser Utara, lalu lintas mulai dipenuhi kendaraan besarātruk-truk yang membawa barang dari Balikpapan menuju Banjar atau kabupaten-kabupaten sekitar. Barang yang mereka angkut beragam, mulai dari kebutuhan harian, material bangunan, hingga hasil perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. Beberapa kendaraan ini sebenarnya bisa menyeberang menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Balikpapan ke Pelabuhan Penajam, tetapi banyak yang memilih jalur darat demi menghemat biaya.
Jalur menuju IKN dikelilingi hutan lindung yang masih alami. Di sepanjang perjalanan, kita dapat menjumpai pohon-pohon khas Kalimantan seperti meranti, ulin, dan akasia (Acacia mangium)ājenis pohon yang kerap digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas. Salah satu perusahaan yang mengelola hutan tanaman industri akasia ini adalah milik Presiden Prabowo Subianto, bernama Kiani Kertas yang berada dalam naungan Nusantara Group (menurut pemberitaan media).
Saat mendekati kawasan inti IKN, suasana berubah. Lalu lintas mulai dipenuhi kendaraan proyek, dan debu jalanan tampak berterbangan. Kita kemudian disambut oleh gerbang IKN yang megah, berdiri di antara rerimbunan pepohonan Kalimantan. Kesan pertama begitu luar biasa, seperti berada di adegan film atau novel futuristikāmeskipun kita sudah terbiasa melihat gedung-gedung tinggi di Jakarta.
Tepat di gerbang masuk, terdapat rest area yang menyediakan layananĀ shuttle bus gratisĀ bagi pengunjung. Hal ini karena kendaraan pribadi dilarang bebas masuk ke dalam kawasan inti IKN. Di kawasan ini juga sudah tersedia fasilitas kesehatan, seperti Rumah Sakit Hermina Nusantara yang sudah mulai beroperasi.
Perjalanan kami lanjutkan menuju area istana negara. Di belakang bangunan istana, berdiri sebuah struktur megah berbentuk burung Garuda yang menjadikan panorama IKN tampak sangat memesona. Di sekeliling istana, gedung-gedung perkantoran pemerintah telah berdiri kokoh. Beberapa hotel juga sudah tersedia, dan apartemen sedang dibangunākemungkinan untuk tempat tinggal ASN kementerian yang akan ditugaskan di sini.
Langit Kalimantan yang biru dan awan-awan putih seolah menjadi atap alami yang menyelimuti kawasan ini. Udara terasa bersih, jauh dari polusi kendaraan seperti yang biasa kita hirup di kota-kota besar. Namun, karena cuaca yang cukup terik, sangat disarankan untuk membawa payung atau topi saat berkunjung, agar tidak kepanasan.
Di ujung kawasan pejalan kaki, kami menemukanĀ Excelso Nusantara Café serta beberapa restoran yang menyediakan minuman dingin dan ruangan ber-ACātempat yang pas untuk beristirahat sejenak sembari menikmati suasana IKN.
Mari sejenak kita kembali ke dua puluh tahun yang lalu, sekitar tahun 2005. Seperti apa kondisi Jakarta saat itu? Apakah semegah sekarang? Mungkin belum. Sarana transportasi dan fasilitas publik masih jauh dari kata ideal. Tapi hari ini, kita menjadi saksi bahwa peradaban Indonesia baru sedang dimulai.
Dua puluh tahun ke depan, bukan tidak mungkin IKN akan melampaui Jakarta. Lahan yang luas dan masih kosong di kawasan ini menyimpan potensi luar biasa untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Nusantara.
Suara ombak dikala senja di pulau kecil legundi pesawaran membawaku merenungi Wabah Monyet di Pulau Legundi.
Legundi adalah pulau kecil di kabupaten pesawaaran yang memiliki beberapa doh atau kampung. Kurang lebih penduduk di kampung ini berkisar 1000-1500 penduduk. Menempuh waktu 1,5 jam dengan kapal kecil untuk kalian bisa sampai di pulau yang indah ini.
Nelayan adalah profesi kebanyakan penduduk desa legundi selain petani koprah dan juga profesi lain. Ikan dan hasil laut dari nelayan yang jadi hidangan utama saat kita makan siang. Lobster dengan ukuran yang besar tentu akan dihargai mahal jika saya menyantapnya di restoran.
Petani koprah sebelum ada wabah monyet di Pulau Legundi bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan kilogram koprah setiap minggunya, karena memang banyak sekali pohon kelapa di pulau ini. Namun, penduduk mengeluhkan wabah monyet ini sudah menahun namun belum ada respon dari aparat pemerintahan terkait.
Monyet memang tidak makan kelapa, tapi bunga putik yang harusnya tumbuh menjadi kelapa akhirnya gagal berkembang karena rusak ulah si monyet ini. Alhasil, perekonomian di sektor pertanian terhambat dan menurun.
Pulau kecil yang indah ini menyimpan cerita sedih dibaliknya. Pustu (Puskesmas Pembantu) adalah satu-satunya layanan kesehatan yang ada di pulau namun kondisinya sangat memprihatinkan karena dampak dari tsunami 2018 sehingga bangunan yang kurang layak serta peralatan kesehatan yang kurang memadai seperti tabung oksigen.
Merujuk pasien ke yankes yang satu tingkat diatasnya pun mengalami banyak hambatan salah satunya adalah transportasi laut yang kurang memadai dan membuat dompet pasien semakin terkuras. Belum tersedianya layanan Ambulance laut membuat masyarakat mengeluh kesulitan dalam mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.
Sarana pendidikan wajib sudah cukup lengkap mulai dari SD hingga SMA. Tentu lengkap bukan berarti siswa sudah sangat terfasilitasi dalam bersekolah. Di MI yang ada di pulau ini masih belum tersedia MCK sehingga harus menumpang di rumah warga terdekat dengan sekolahan untuk bisa BAK dan BAB.
Senja disore ini menemaniku untuk banyak merenungi perbincangan yang aku cerna selama di Pulau Legundi. Pemerintah Kabupaten dan Provinsi tentu tidak boleh menomor sekiankan nasib masyarakat pulau yang sangat membutuhkan perhatian baik dari sektor ekonomi maupun kesehatan.
8 November 2024 - Pulau Legundi, Pesawaran
Point of view menikmati rezeki lebih setiap orang berbeda.
Terlahir di keluarga yang serba pas - pas an, ternyata tidak mengurangi pengalamanku dalam menikmati penjelajahan tempat baru.
Abahku lahir di salah satu kabupaten di ujung Jawa Tengah yang sudah berbatasan dengan Jawa Timur, tentu dangat jauh untuk di tempuh dengan jalur darat tapi abah selalu mengusahakan untuk bisa mudik minimal setahun sekali. Bukan selalu saat momen lebaran tapi terkadang saat haul mbah atau acara keluarga lainnya.
Dari Sumatera ke Pulau Jawa kala itu kami hanya mampu membeli tiket bus ketengan alias terpisah - pisah mulai dari rumah ke kota, dari kota ke pelabuhan dan dilanjut naik kapal, hingga sampai didepan jalan kecil sebrang masjid Jami' Lasem.
Pengalaman itu ternyata sangat mahal buatku, sejak kecil aku sudah faham urutan kabupaten dar lampung menuju ke Kabupaten Rembang dan berapa tahap aku harus naik bus hingga beberapa nama PO bus dan tingkat dinginnya AC aku pun faham.
Pengetahuan kecil yang mungkin beberapa orang menganggapnya sepele tapi sangat berharga buatku, bagaimana aku bisa menikmati setiap perjalanan bertemu dengan pedagang kecil didalam bus yang membagikan buku gambar dan pewarnanya disetiap kursi penumpang berharap agar dagangannya dibeli hingga penjual donat yang packingnya menggunakan logo M nya McD dan dulu aku tidak tahu kalau Mcd itu tidak menjual donat lalu aku percaya itu adalah donat McD karena menggunakan logonya haha.
Di usiaku sekarang yang sudah bisa bekerja dan mendapatkan gaji saat aku duduk dibangku kuliah aku bisa mengatur uangku untuk kebutuhan primer dan tersier.
Aku juga bisa menikmati perjalanan ke suatu tempat hanya dengan uang sedikit, mungkin ini mindset yang sudah dibentuk abahku sejak kecil untuk suka menjelajar tempat baru atau silaturahim oleh karenanya aku sangat suka pergi keluar.
Beberapa kali aku bisa ke Luar Negeri walau hanya ke negara tetangga dengan tiket hanya Rp. 250.000 untuk membeli pengalaman yang mahal disana, bertemu sesama traveller manca negara hingga belaja budaya yang ada disana.
Tapi berbeda dengan beberapa temanku yang memiliki uang lebih dari aku, kebahagiaan mereka tidak sama denganku. Mereka lebih bahagia ketika melihat angka rekeningnya berdigit-digit, atau mereka bahagia ketika bisa menggunakan barang branded untuk di gunakan saat mereka ke mall atau nongkrong bersama yang lainnya.
Wallahua'lam
Kebahagiaan sederhana.
Kala itu sekitar bulan Mei atau Juni 2016 aku dan keluargaku duduk disebuah resto di jalan kedaton Kota Bandar Lampung. Perbincangan kita tidak lain mengenai kampus yang akan aku ambil nantinya. Karena belum diterima di kampus kuning, akhirnya dengan sangat terpaksa aku memilih kampus hijau dengan jurusan kedokteran.
Mengambil keputusan yang bukan keinginan kita tentu sangat berat, tidak ada rasa bahagia bahkan membayangkan beratnya menjalani kuliah selama itu sudah membuat kepala penuh dan hati berdebar. Tapi mau bagaimana, anak lulusan SMA yang belum punya cukup uang untuk bayar kuliah itu harus mengubur nafsunya yang menggebu kuliah di pulau jawa.
Kedokteran penuh tekanan.
Kalau aku bisa mencegah aku akan mencegah setiap anak yang fomo untuk sekolah di kedokteran. Karena, kita akan kehilangan banyak waktu untuk bersenang-senang. Waktu dengan keluarga apalagi bagi mereka anak rantauan. Dari awal kita PKKMB (masa penerimaan mahasiswa baru) kita sudah diberikan tugas hingga tidak tidur, tekanan dari senior, tugas organisasi dan sebagainya. Ternyata memang benar itu latihan kita selama kuliah karena sering tidak tidur.
Setelah itu semua berlalu dua semester aku baru menyadarinya. Jika kita tidak ditekan kita tidak akan bisa maju. Oleh karena itu, hidup penuh tekanan adalah jalan untuk kita bisa jauh didepan.
Kebahagiaan sederhana.
Kuliah di kedokteran tentu banyak waktu tersita untuk fk. Bahkan kadang aku merasa 24 jamku habis untuk kedokteran. Karena sedikitnya waktu ternyata justru kita bisa lebih memaknai kebahagiaan. Sekedar sarapan pagi dan duduk bersama ibu ternyata sangat nikmat karena sehari penuh hingga larut malam tidak sempat mengobrol.
Saat aku kuliah, aku berteman dengan 6 orang temanku dan kita sering makan siang bersama. Kala itu aku satu-satunya yang setiap hari membawa mobil, karena yang lain ngekos di dekat kamous jadi cukup mengendarai sepeda motor. Mobilku Toyota Yaris yang dengan muatan 4 orang tapi dimasuki manusia 7 orang, bisa dibayangkan sempitnya. Namun, justru kita sepanjang jalan menuju tempat makan penuh dengan tawa karena saling pangku didalam mobil.
Kebahagiaan sederhana itu yang membuat saya bisa bertahan hingga sekarang menjadi dokter dan merindukan hal-hal kecil yang sudah berlalu.
Mencoba Menerapkan Mindfulness
Apakah ini hanya aku yang merasakan atau kalian juga merasakan, aku tidak tahu. Karena terlalu banyak waktu terbuang di media sosial sehingga sering aku terlalu tergesa-gesa mengerjakan sesuatu.
Terkadang aku tidak bisa menikmati waktu dengan tenang. Terlalu banyak distraksi bahkan sesederhana menikmati rasa makanan saja kadang tidak aku lakukan. Padahal yang kita butuhkan sekarang adalah ketenangan dengan penuh kesadaran.
Restart Your Mind
Karena sering tidak nyaman karena terlalu banyak distraksi, beberapa kali aku mulai refleksi diri. Apakah mungkin yang aku butuhkan sekarang adalah ketenangan dengan penuh kesadaran tanpa adanya distraksi?
Aku mulai menerapkan beberapa hal seperti:
1. Mindful Listening
Mulai dengan menutup mata dan mendengarkan suara-suara yang ada disekitarku. Ternyata suara burung berkicau di pohon tepat didepan kamarku bisa membuat aku lebih tenang.
2. Mindful Observation
Mencoba mengamati benda yang aku pegang, aku amati bentuknya, warna dan setiap detailnya.
3. Mindful Conversation
Karena adanya handphone terkadang kita mendengarkan lawan bicara kita sambil membuka WhatsApp padahal ini salah satu bad attitude. Coba untuk fokus mendengarkan lawan bicara agar kita bisa memahami apa yang mereka katakan.
4. Mindful Creativity
Lakukan hobi yang kamu sukai, seperti sekedar mewarnai buku bergambar. Fokus setiap bagian yang akan diwarnai akan membuat kita lebih tenang.
Lakukan semua dengan perlahan dan penuh kesadaran mungkin akan bisa mengurangi stres-stres kecil yang ada di pikiran kita.
SCREEN TIME
Dulu aku kira semua penyakit itu bisa sembuh dengan cara kita minum obat, ternyata salah. Ada penyakit yang nggak bisa sembuh dengan minum obat dan penyakit ini mudah sekali kambuh yaitu ākecanduan media sosialā.
Selain aku pasti beberapa dari kalian juga sama, kadang 1 jam berseluncur di medsos itu tidak terasa. Karena semua serba mudah dengan handphone mulai dari menghubungi orang, memesan makanan, membayar makanan bahkan semua urusan pekerjaan bisa selesai dari layar handphone.
Minggu kemarin aku iseng membuka menu screen time di handphoneku dan sedikit terkejut ternyata dalam satu hari aku bisa membuka Instagram hingga 4 jam. Apakah ada yang sama denganku?
Aku juga bingung ternyata dalam satu hari banyak waktuku terbuang di medsos, dari Instagram saja sudah seperempat hari waktuku habis. Ini pun belum termasuk TikTok dan WhatsApp.
Mengatasi Over Screen Time.
Karena aku rasa kalau ini tidak aku atasi segera, aku akan terus menerus asik scroll medsos setiap hari sehinggu penyakit-penyakit lain akan muncul. Misalnya, overthinking, mata lelah, sampai anxiety.
Karena metode uninstall medos sudah pernah aku lakukan dan hasilnya selalu nihil akhirnya aku menemukan aplikasi yang bisa memperlambat aku untuk membuka medsos. Nama aplikasi tersebut adalah āOne Secā ini sangat membantu aku mengurangi screen time handphone.
Aku tetapkan dalam satu hari hanya boleh membuka medsos masing masing 1 jam. Dari aplikasi tersebut dan di bantu dengan settingan handphone tentunya agar aku bisa terus nge-rem penggunaan handphone.
Apakah Content Creator Bisa Membatasi Screen Time ?
Sehari-hari, aku menjadi content creator di bidang kesehatan. Sebenarnya memang sedikit sulid untuk mengurangi screen time karena tuntutan harus ngonten. Tapi mau bagaimana lagi, aku percaya kesehatan mentalku lebih penting. Aksesku ke medsos harus mulai dibatasi.
Karena jatah waktuku untuk bermedsos hanya satu jam, akhirnya hal yang bisa aku lakukan adalah setiap kali selesai posting aku bergegas log out dan keluar aplikasi. Sehingga aku tutup mata terhadap apa yang akan terjadi di kolom komentar, hehehe.
Dalam jangka panjang, pembatasan screen time medsos juga bermanfaat. Pembatasan dapat mengurangi efek jangka panjang penggunaan medsos. Contohnya, saat ini banyak orang usia remaja hingga dewasa mengalami rabun jauh karena screen time terlalu tinggi. Selain itu, banyak pula yang tidur larut malam karena asyik scrolling media sosial. Ditambah lagi dampak pada mental yang sering muncul karena medsos membuat diri kita terlalu membanding-bandingkan keadaan kita dan orang lain, yang jelas-jelas berbeda.
Maka, cara yang aku terapkan sekarang menjadi jurus untuk tetap bermedsos tapi dengan keadaan mental dan fisik tetap sehat. Bagi pembaca sekalian, yuk jaga kondisi fisik dan mental kita dari pengaruh buruk over screen time.
Silakan dicoba membuka menu screen time di pengaturan handphone kamu. Apakah melebihi batas yang kamu tentukan?
Apakah Semua Mahasiswa Kedokteran Harus Jadi Dokter?
Saat kecil kerap kali aku ditanya dan diminta,
āNanti kalau sudah besar, cita citanya mau jadi apa?ā
āJadi dokter aja ya, nanti.ā
āKalau sudah besar nanti jadi polisi aja, ya.ā
Kenapa tidak ada yang menyuruhku jadi politis, ya? Setelah besar aku sudah jadi dokter dan akhirnya aku terjun juga di dunia politik aku pun masih ditanya, āKenapa dokter malah berpoitik, mendingan praktek aja, ngapain malah ke dunia politik?ā
Sebenarnya ada apa dengan politik di mata mereka?
Tumbuh di keluarga politisi dari kakek, abah hingga kakak-kakakku tentu berbincangan harian kita di meja makan tidak terlepas dari tema politik, terutama perkembangan politik di Lampung. Hampir setiap hari perbincangan soal politik, bukan bosan justru aku aku banyak penasaran dan sangat menikmatinya. Mungkin juga yang dirasakan teman-temanku yang tumbuh di dunia yang sama.
Sekolah di fakultas kedokteran pun aku tidak meninggalkan kegiatan politik kampus. Mulai dari BEM, DPM hingga organisasi ekstra kampus seperti PMII dan IPPNU sepertinya sudah jadi rumah keduaku. Awal berorganisasi teman-temanku sampai heran, kenapa setiap pulang kuliah selalu saja aku ada agenda rapat. Bahkan tidak banyak waktuku untuk sekedar hangout di coffee shop sambal mengerjakan tugas kuliah. Mungkin memang itu salah satu bentuk aku menikmati menjadi aktivis kampus.
Saat aku sidang skripsi ada pertanyaan yang menarik dan selalu aku ingat tanggapan dari dosenku. Aku ditanya, āSelesai dari kuliah ini, Sasa akan kemana arahnya?ā Mungkin karena dosenku melihatku di media sosial sangat aktif dengan berbagai kegiatan organisasi.
Lalu beliau berkata, āTidak apa, saya suka ketika mahasiswa saya memiliki pengalaman yang luas. Tidak semua mahasiswa kedokteran harus berkarir jadi dokter.ā Mungkin itu salah satu kalimat yang memotivasiku hingga akhirnya memilih jalur ini.
Dokter yang Berpolitik
Sampai saat ini pun masih ada yang bertanya dan menyayangkan, mengapa dokter berpolitik? Mungkin aku juga sekaligus menjawab pertanyaan itu, yang selalu muncul ketika aku bertemu orang baru. Di saat teman-teman sesama dokter duduk bersama, tentu perbincangan mereka mengenai perbandingan jaga di rumah sakit ini dan rumah sakit itu, atau di klinik ini dan itu.
Meski aku tidak menjalani pengalaman yang sama dengan mereka, aku justru menyimak dengan baik perbincangan mereka. Karena sekarang aku tidak bekerja di rumah sakit, melainkan sebagai politisi. Politisi ketika menjadi anggota dewan berkewajiban menyerap aspirasi, salah satunya apa yang dirasakan dokter untuk bisa diperbaiki.
Dari sini, kita dapat menyimpulkan, bukankah kita juga butuh dokter di legislatif atau eksekutif sebagai pendorong kebijakan-kebijakan kesehatan? Bagaimana jika tidak ada keterwakilan dokter di pemangku kebijakan, siapa yang akan memperjuangkan hak para dokter?
Memang banyak poitisi tapi tidak secara penuh memahami posisi sebagai nakes dan dokter dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Maksudku, ketika sebagai dokter bisa bermanfaat untuk pasien, tapi jika jadi dokter yang berpolitik kita bisa bermanfaat untuk kebijakan kesehatan dengan cakupan yang lebih luas lagi. Bahkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Tidak selalu yang berhubungan dengan politik itu negatif. Aku pun berusaha menjadi politisi sekaligus wakil rakyat yang dapat mengikis stigma negative tersebut.
Lagipula, jika stigma negatif terhadap politisi selalu bertahan hingga membuat orang-orang baik enggan berpolitik, bagaimana nasib masyarakat yang diwakili oleh para politisi dalam pembuatan kebijakan?
120 Hari Clean Eating
Hari ini hari ke-120-ku menjalani pola hidup sehat dari mulai makan, olahraga, hingga menjaga kesehatan mental. Aku yang dulunya anak seblak dan minuman manis ternyata sekarang bisa di titik ini.
Benefit yang kurasakan bukan hanya secara fisik tapi juga secara mental. Ternyata memang benar, āyou are what you eatā. Karena bersamaan dengan makan sehat juga membawa aku keluar dari penyakit overthinking.
Untuk sampai bisa mencintai clean eating menurutku gak mudah. Awal-awal mulai pun pasti sering mengalami namanya craving atau keadaan di mana kita pengen banget makan makanan manis. Tentu saja hal ini timbul karena kebiasaanku yang dulunya selalu mengikuti nafsu untuk makan makanan dan minuman manis.
Alasan Menjalani Program Clean-Eating
Memiliki wajah yang mulus dan lembut tentu dambaan semua wanita, apalagi saat menggunakan make-up tidak perlu banyak concealer untuk menutupi bekas jerawat. Beberapa bulan lalu aku sempat konsul ke dokter spesialis kulit dan kelamin karena masalah jerawat yang menahun ini.
Singkat cerita saya diberikan krim untuk malam hari. Namun, berjalan 3 bulan jerawat di kening dan pipi tidak kunjung membaik.
Bulan selanjutnya saat kembali kontrol aku bertanya kenapa progress saya cukup lama. Lalu, beliau menyarankan untuk cut-off gula, tepung dan minyak. Karena mereka yang bisa memicu peradangan pada jerawat.
Alasan itulah yang membawaku sampai di titik ini menjaga pola makan dan berolahraga seminggu 4-5 kali agar tidak berjerawat dan memiliki tubuh yang sehat.
Hasil dari Konsisten Clean Eating
Hari ini adalah hari ke 120 kurang lebih saya menjalani clean eating dengan diselingi cheating di setiap hari Minggu. Progress yang cukup signifikan saya rasakan dan yang orang lain lihat pada diri saya. Sudah tidak ada jerawat yang muncul dan menurut penilaian beberapa orang saya terlihat semakin ceria.
Mungkin ini manfaat dari saya mengurangi minum manis sehingga mood saya tidak mudah berubah murung sehingga saya lebih produktif.
Senang bisa sampai di titik ini, semoga bisa terus berlanjut di waktu waktu mendatang.
Satu Menit Membaca Satu Halaman Al-Qur'an
Dalam satu hari kadang kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuka social media dari timeline yang paling atas hingga membuka profile orang sampai mengetahui riwayatnya. Namun, untuk meluangkan waktu satu menit membaca satu halaman Al-Qur'an masih terasa sangat berat.
Beberapa bulan lalu aku membeli buku Qur'anic Law of Attraction. Setelah membaca, aku banyak menyadari kita di zaman yang sangat canggih ini yang seharusnya tidak ada alasan untuk tidak membuka Al-Qur'an di manapun tempatnya justru lupa, jarang membuka dan membacanya. Kenapa bisa? Mungkin, karena kita terpapar banyak konten pemicu dopamin, yang bertebaran di social media. Kita mendapatkan hiburan, kebutuhan nafsu, termasuk informasi yang tidak pentingpun kita mendapatkannya.
Lalu bukannya dengan membaca Al-Qur'an juga kita mendapatkan kebahagiaan? Justru itu, harusnya dengan membaca Al-Qur'an kita mendapatkan kebahagiaan hakiki yang valid adanya, namun semua itu akan terasa jika kita bisa mencintai Al-Qur'an dan bukan hanya di mulut saja.
Penghafal Al-Qur'an yang Hanya Menghafal
Suatu hari ketika aku duduk di seat kapal menuju Merak, aku bertemu dengan mahasiswa Jogja. Ia bercerita bahwa dulu dirinya merupakan santri di salah satu boarding school di Kota Bandar Lampung. Panjang kita berbincang seputar Jogja hingga Lampung Timur, juga riwayat dia bersekolah.
Dia adalah seorang yang pernah menghafal Al-Qur'an. Tentu aku sempat kagum karena anak usia sekolah menghafal Qur'an.
Mengapa aku bilang "pernah", karena saat saya tanya sudah berapa banyak juz dia menjawab, "Saya sudah lupa sekarang". Aku tentu kaget, mengapa bisa menghafalkan Al-Qur'an lalu melupakannya? Apakah sekarang trendnya adalah "yang penting pernah menghapalkan?" Sedih tentunya ketika ada hal seperti ini.
55 Detik Nembaca 1 Juz
Berbeda cerita saat minggu lalu saya sowan ke ndalem seorang kiai di Lampung Timur. Beliau menceritakan pengalamannya saat menyimak kiainya murojaah dengan sangat cepat, jelas dan tidak perlu ditanyakan makhorijul hurufnya.
Dalam waktu 55 detik, beliau bisa murojaah 1 juz. Saat ditanya, "Yai njenengan murojaahnya bagaimana metodenya?" Beliau menjawab, "Yo saben dino pas kerjo gawe boto yo karo nderes" (ya setiap hari saat kerja membuat bata, sambil ngaji). Tentu beliau levelnya bukan "yang penting pernah hafal" tapi "sangat mencintai Al-Qur'an".
Meluangkan waktu satu menit untuk membaca satu halaman per hari sebenarnya sangat mudah, ketika hati kita sudah jatuh cinta kepada Al-Qur'an.
Haruskah Bersekolah di Kampus Ternama?
Perjalananku pulang ke Lampung kali ini ditemani oleh buku yang baru saja aku beli dari Periplus Bandara Soetta dengan judul "The Art of Thinking Clearly" yang ditulis oleh Rolf Dobell.
Awalnya aku bingung mau membeli buku dengan genre apa, karena di etalase depan tertata rapi barisan buku karya idolaku yaitu Haemin Sunim. Tetapi sepertinya kali ini aku dalam fase mental yang sehat dan jiwa baik-baik saja, belum waktunya membaca lagi buku-buku Sunim yang identik dengan genre self reflection.
Mataku tidak berhenti membaca satu persatu judul buku yang berada di etalase seolah seperti sedang berburu dan akan menembakkan peluru. Kira-kira buku mana yang akan aku tembak dan ambil sebagai sasarannya?
Dan, mataku terhenti saat membaca judul dari buku ini. Penjelasan singkat di belakangnya membuatku jatuh cinta pada buku ini walau dari hanya dari cover depan dan sinopsis di cover belakang.
Apakah Kampus Terbaik Pasti Melahirkan Orang Sukses?
Karena waktu boarding sudah datang aku segera membayar buku dan bergegas menuju Gate E6 untuk masuk ke pesawat. Kursiku kali ini berada di bagian jendela. Duduk di bagian jendela sebenarnya bukan seat favoritku karena sangat menyusahkan jika ingin ke toilet, tapi kali ini berbeda, aku justru sangat menikmati duduk di dekat jendela.
Mengapa? Karena Allah memberikan sunset cantiknya di sore ini untuk menemaniku membaca buku.
Ada cukup banyak bab di buku ini, dan aku baru membaca beberapa di antaranya. Namun ada satu bab yang membuatku berfikir lama yaitu "Does Harvard Make You Smarter?"
Aku mengerutkan jidat dan bertanya dalam fikiranku sendiri: Bukannya kebanyakan orang menilai bahwa sekolah di Harvard membuat orang semakin pintar, ya? Tetapi penulis mengatakan bahwa banyak orang sukses kalangan atas bersekolah di Harvard, lalu apakah bisa kita sebut bahwa Harvard adalah sekolah yang paling bagus?
Kita tidak tahu, bisa jadi itu adalah sekolah yang kurang bagus. Lalu yang dilakukan mereka adalah sesederhana mengundang orang sukses untuk sekolah di Harvard, agar nama Harvard wangi.
Kembali ke Kualitas Individu
Lalu aku berpikir, aku pun menempuh pendidikan di kampus negeri yang tidak masuk dalam 3 besar kampus terbaik di negeri ini. Namun, aku memiliki banyak teman yang tingkat kecerdasannya itu bisa mengalahkan anak-anak yang sekolah di kampus negeri terbaik di Indonesia.
Bisa jadi, kampus yang saat ini dinobatkan sebagai kampus-kampus terbaik, dahulu memiliki mahasiswa pintar yang kebetulan berkuliah di sana. Sehingga, nama kampus ikut tersohor sebagai kampusnya orang-orang pintar.
Namun banyak juga aku temui, sekolah di sekolah ternama itu menjadi ajang gengsi. Seolah jika bersekolah di sekolah yang sangat terkenal akan pasti menjadi manusia sukses.
Poin yang bisa aku dapatkan, bukan berarti kampus yang namanya tersohor pasti akan melahirkan mahasiswa yang sukses.
Bukan berarti pula kampus yang tidak tersohor tidak bisa mencetak mahasiswa yang sukses. Pada dasarnya, semua kembali kepada pribadi masing-masing bagaimana berjuang untuk meraih kesuksesan.
---
Waktu penerbangan Jakarta ke Lampung hanya memakan waktu 40 menit, tentunya aku belum selesai membaca. Tapi sudah datang waktu untuk landing di Bandar Udara Raden Inten II.
Aku segera menutup buku. Bersiap keluar pesawat dan melanjutkan perjalanan hingga larut malam nanti.