Masih Kurang Terlihat
Setelah kurang lebih sebulan membuat prototype visual untuk website direktori Aksara Jawa yang sedang saya kerjakan sekarang ini, akhirnya hampir menemukan bentuk finalnya. Meskipun belum bimbingan lagi sama dosbim sih, tapi minimal saya sedikit merasa lega lah ya.
[halaman opening]
Mengambil topik Aksara Jawa bagi saya merupakan tantangan tersendiri. Karena seperti yang kita tahu, aksara-aksara lokal, khususnya aksara Jawa memang sudah gak digunakan lagi. Aplikasinya di kehidupan sehari-hari memang sangat terbatas. Paling pol ya, hanya sebagai tulisan papan nama jalan. Itu pun ukurannya kecil dan gak jarang juga banyak yang penulisannya salah. Sewaktu saya ngobrol dengan mas Fajar, kurator manuskrip di Museum Sonobudoyo Jogjakarta, dia bilang kalo pembuatan papan nama itu yang bikin pihak ketiga. Mungkin mereka cuma tinggal bikin tulisan secara digital pake font yang free, yang fungsinya juga terbatas dan hasilnya ya seperti itu. Banyak salahnya. Tapi, lebih banyak lagi yang gak sadar kalo tulisan itu salah.
Selama kurang lebih 3 bulan mencoba mempelajari aksara Jawa lagi, saya sampai pada hipotesa sementara bahwa,
secara bentuk (visual, tipografi, maupun naskah), Aksara Jawa sepertinya kurang dilirik sebagai produk budaya yang setara dengan produk-produk budaya Jawa lainnya.
Hipotesa saya tersebut bukannya tanpa alasan. Setelah beberapa kali cari jurnal sana-sini yang berkaitan dengan Aksara Jawa, sebagaian besar yang saya dapatkan membahas cara penulisannya, makna dari manuskrip-manuskrip aksara Jawa, digitalisasi informasi, ya sekitar-sekitar itulah. Jarang banget atau malah hampir gak ada yang membahas aksara Jawa secara bentuk visualnya, atau secara tipografinya misalnya. Gak ada. Padahal kalau kita lihat manuskrip-manuskrip aksara Jawa, bentuk tulisan aksara Jawa ini wwwaakkssiii pol. Rapi banget tulisan tangannya, wedana (iluminasi) yang ada di tiap naskah juga sangat-sangat indah. Saya sendiri gak habis pikir gimana caranya pada masa itu bisa membuat sebuah karya yang begitu presisi dan sangat indah seperti itu.
Yang kayak gini yang jarang banget diangkat ke permukaan. *atau mungkin karena background saya orang visual ya jadi lebih perhatian ke hal-hal semacam ini?*
Alasan selanjutnya, sewaktu saya mencoba mendapatkan feedback dari beberapa teman saya tentang prototype website direktori Aksara Jawa yang sedang saya kerjakan. Saya mendapatkan beberapa feedback yang mengatakan,
“ini masih kurang terlihat Jawa sih, aksen budaya Jawa jika hanya menggunakan aksara Jawa dan penggunaan warna, itu masih berasa kurang. Jadi, masih perlu ditambahkan hal-hal lainnya seperti gunungan wayang, karakter-karakter pewayangan, batik, dan hal-hal yang lebih populer dikenal sebagai budaya Jawa.”
Hmm, jatuhnya pasti itu-itu lagi kan.
Saya sampai sedikit harus menjelaskan pelan-pelan sih ke beberapa teman saya itu mereka kalau sebenarnya fokus tujuan saya itu agar bisa mengangkat aksara Jawa ke dalam bentuk yang lebih modern. Biar orang-orang ini gak hanya menganggap aksara Jawa ini sesuatu yang masa lalu banget, jadul, dan gak begitu penting. Tapi, beberapa teman saya tadi masih tetep ngotot perlu ditambahkan aksen-aksen semacam tadi. Hmm, ya gapapa sih. Mungkin memang ini buktinya bahwa banyak yang belum terbiasa melihat Aksara Jawa sebagai sesuatu yang bisa berdiri sendiri. Seperti batik, tari-tarian, topeng-topeng, dan produk-produk budaya lainnya. Semacam mindset kita masih menganggap Aksara Jawa ini sebagai sesuatu yang masa lalu banget, ada di kulit-kulit sapi, kayu-kayuan, nuansa warna coklat, warna yang mulai memudar, kuno banget lah intinya.
Tapi, benarkah Aksara Jawa memang gak bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih modern?
Itulah yang sekarang sedang saya coba upayakan. Minimal kalau bukan secara fungsi, secara visualnya dulu deh. Di bawah ini saya bagikan beberapa bagian yang nantinya muncul di dalam website direktori Aksara Jawa.
Mungkin nanti akan saya coba cerita lagi secara berkala tentang proses saya kali ini. Doakan lancar yes!
___ Bandung, 171217 @dimazfakhr










