Belajarlah bersyukur dari hal hal baik dihidupmu, dan belajarlah menjadi kuat dari hal buruk yang menimpamu. Hidup ini layaknya ujian, ketika bahagia menerpa rasa syukur kita diuji. Ketika berduka rasa sabar kita yang diuji. Tidak ada peningkatan diri yang dicapai tanpa adanya ujian. Percayalah setiap ujian yang hadir dan mampu kita lalui dengan sabar dan iklas kita telah berhasil menapaki satu pijakan kedewasaan.
Kebaikan akan melahirkan ketulusan dan keiklasan, berbuat baiklah sejahat apapun dunia menghempasmu. Kebajikan itu sebajik namanya dan keramahan itu seramah wujudnya. Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur dan derai air mata keiklasan ataupun resah yang menggundah gulanakan hati tidak akan melahirkan kesia siaan. Semuanya akan ranum dalam jiwa yang tenang, lapang dada dan damai.
Mengenang luka masa lalu, merasakan nestapa dan kegagalan adalah sebuah pembelajaran. Esok adalah hal yang belum nyata, tak dapat diraba ataupun memiliki rasa dan warna. Tak semestinya kita bersedih akan esok, tak seharusnya kita menyebarangi jembatan sebelum tiba diatasnya. Percaya akan takdir Allah, sebaik baiknya pembuat scenario. Bagaimana diri ini menempatkan ujian sebagai anaugrah yang akan menjadi penghargaan dan ladang pahala. Betapapun kita berusaha, sungguh Allah tahu mana yang baik dan buruk untuk kita.
Bersabarlah, bahagia dan sedih selalu bersama, menunggu waktu yang tepat untuk silih berganti. Jangan lagi kita tatap sudut kamar dengan penyesalan dan kesengsaraan. Lihatlah, tembuskanlah padangmu yang lapang, betapa beruntungnya diri ini dibanding hal hal sedih diluar sana. Sebaik baiknya ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar
Ketulusanlah yang membawa kita pada penerimaan bahwa hidup ini baik baik saja, selama kita larut dalam ketetapannya. Niscaya kita takkan diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan ataupun tenggelam dalam kerisauan.
Mengharap pertolongan Allah, percaya akan janjinya adalah buah keimanan yang suci. Bahwa setiap ketenangan akan membawa kita dalam pengawasan dan perlindungan-Nya. Membuka mata bagaimana pena pena kekuasaannya menuliskan tanda tanda keindahan pada lembar kehidupan.
Bersedihlah secukupnya, diri ini manusia biasa. Tak ada yang mengekang, bersedihlah manakala kau sadari diri ini sudah terlalu berjarak dengan-Nya, itulah kesedihan yang mulia.