Belajar Apa dari Pendiri Single Moms Indonesia?
Salah satu sesi Konferensi Ibu Pembaharu yang sudah kusimak adalah sesi bersama Maureen Hitipeuw. Ini adalah sesi privat, artinya hanya seribu orang pemilik tiket VIP saja yang bisa menyaksikan. Dipandu apik oleh direktur IpediaTV, Fajrina Addien, sembilan puluh menit bergulir santai, hangat, dan akrab.
Senin, 20 Desember 2021, mulai pukul 14.00 WIB founder dari Single Moms Indonesia telah siap di belakang panggung untuk menyapa para peserta konferensi yang terdiri dari member Ibu Profesional dan juga umum. Acara 1 dekade ibu profesional tersebut memang terbuka untuk para perempuan, baik ibu maupun calon ibu, yang terpanggil menjadi seorang change-maker alias pembuat perubahan.
Sebab tiket VIP terbatas dan diumumkan lebih dahulu di kalangan internal Ibu Profesional, tak heran jika kemudian lebih banyak peserta Konferensi Ibu Pembaharu dari member komunitas ibu profesional itu sendiri. Namun, jangan khawatir. Ibu Profesional membuka pendaftaran member baru secara berkala seperti yang sedang berlangsung sejak pembukaan konferensi kemarin sampai 14 Januari 2022 nanti. Silakan mendaftar di tautan berikut agar tidak ketinggalan informasi menarik lainnya, atau kunjungi media sosial Ibu Profesional di Facebook dan juga Instagram.
Konteks single mom atau ibu tunggal yang kupahami adalah perempuan yang menjalankan perannya sebagai pengasuh anak tanpa keberadaan laki-laki sebagai suami. Hal ini bisa terjadi karena perceraian, kematian, atau sedari awal membesarkan buah hati dari hasil hubungan biologis di luar pernikahan. Ketiganya cenderung menjejakkan stigma negatif di masyarakat. Namun, bagaimanapun, perempuan yang menjalani peran sebagai single mom tetaplah manusia. Ia berhak hidup dengan baik, menjaga kualitas hidup diri dan anaknya, juga memperoleh dukungan dalam hal pemenuhan kebutuhan yang mendasar.
Tidak ada perempuan yang menginginkan kegagalan dalam rumah tangga. Oyen, begitu Maureen biasa dipanggil, pun memimpikan pernikahan yang happily ever after. Apa daya, bekal cinta saja tak cukup menaklukkan badai dan ombak yang menghantam. Pada 2010, ia mengakhiri hubungan sah yang diakui agama dan negara itu dan memulai hidup baru sebagai ibu tunggal.
Bangkit, berdaya, berkarya. Itulah pesan yang ingin ia sampaikan di sesi talkshow siang itu. Menjadi ibu tunggal bukanlah hukuman mati. Layaknya anjuran saat penerbangan yang meminta kita menyelamatkan diri sendiri dulu sebelum membantu orang lain, ketika dihadapkan dengan kondisi ini yang pertama-tama perlu dilakukan juga selamatkanlah diri sendiri. Kita perlu menyelamatkan diri dengan bersikap proaktif (dalam mencari dukungan, termasuk dari tenaga profesional) dan tanamkan mindset positif. Dengannya kita akan memiliki lebih banyak harapan dan keberanian untuk bertahan di tengah cobaan hidup. “Selama ibu baik-baik saja, percaya dan yakin anak pun akan baik-baik saja,” pesan Maureen.
Usia yang masih bergulir mengandung makna bahwa kita masih punya suatu misi yang perlu dituntaskan dalam hidup ini. Maka, raih kembali semangat kita, tetapkan visi yang ingin kita tuju. Lalu tentukan langkah-langkah apa saja yang perlu kita tempuh dalam kurun waktu yang lebih pendek, setahap demi setahap.
Fokuslah pada prioritas dan jangan terkecoh pada kerikil-kerikil kecil yang mengganggu. Kita perlu pahami bahwa ada hal yang bisa kita kontrol, tetapi ada juga yang berada di luar kendali kita. Kesampingkan ketakutan dan kekhawatiran. Jangan jadikan stigma sebagai batasan, apalagi persoalan yang belum tentu terjadi. Majulah bersama apa yang ingin kita lakukan dan pusatkan energi pada bagaimana kita menggapainya.
Pada akhirnya perceraian tidak lagi menjadi soal yang Maureen sesali dalam hidup, bahkan justru membuatnya bersyukur. Jika tidak mengalami hal tersebut, tentu ia tidak bisa menjadi dirinya saat ini: mendirikan SMI, mendapat sertifikasi dari Facebook, juga mengenal para perempuan dan tokoh-tokoh hebat sepanjang hidupnya.
Agar dapat bangkit dan berdaya, kita perlu belajar melepaskan masa lalu dan membuka diri terhadap berbagai kemampuan baru yang bisa kita capai. Kembangkan diri sesuai arah yang ingin kita tuju dan berani katakan, “Tidak,” pada persoalan yang tidak membahagiakan serta membuat tidak nyaman.
Sejujurnya, sebagai penonton aku merasa tips yang disampaikan mbak Oyen sungguh menancap ke hati. Tak perlu mengalami jadi ibu tunggal terlebih dahulu untuk bisa menduplikasi kiat yang berhasil membawa mbak Oyen menjadi dirinya saat ini. Kita semua perlu saling menyemangati agar bangkit, berdaya, dan kemudian mantap melangkahkan kaki untuk berkarya di tengah bagaimanapun cobaan yang kita lalui.
Aku juga suka sekali setiap mbak Oyen merespon pertanyaan-pertanyaan yang masuk dengan, “Wah pertanyaannya bagus sekali,” atau, “Ini pertanyaannya keren banget.” Dilanjutkan dengan nada bicaranya yang tenang dan tertata, tak heran lebih dari 6500 member telah bergabung dengan komunitas yang didirikannya sejak 8 September 2014 itu. Tak sekadar menyediakan ruang yang aman untuk saling dukung dan menguatkan, Maureen Hitipeuw juga memesona dengan keteladanannya.
Banyak yang penasaran dengan kegiatan di SMI maupun cerita pengalaman pribadi Maureen. Namun, aku tidak bermaksud untuk menjabarkannya di sini, hehe. Untuk tahu lebih lanjut, cek akun SMI di Facebook dan Instagram Single Moms Indonesia serta akun pribadi mbak Oyen @maureen.hitipeuw. Terakhir jangan lupa pesan pamungkas ini, “Kita semua memiliki kemampuan untuk bangkit dan berdaya. Tolong jangan pernah melupakan itu, seberat apapun beban hidup kita.” Go, girls, kita semua berharga!












