They are a Queer, but not Him: Jang Bong Hwan is back!
Dwipangga tidak mengubahku, aku mengubah diriku. Akulah yang memilih takdirku. Untuk apa aku pergi ke Kamandanu, bocah polos itu tidak tahu apa-apa tentang hidup. Bocah yang malang, bodoh, dan lugu. Ilmu bela diri yang kamu uleti tidak menghasilkan apa-apa kecuali menguatkan dinding yang tidak bisa aku terobos. Aku kutuk kekerasan hatimu itu, untuk apa? Hingga Dwipangga mencariku di Candi Walandit lalu kau berkata: Bajingan! Andai saja kamu mau mendengarkan teriakanku, akan kusesali perbuatanku. Lantas aku melompat ke jurang dan itu adalah hukuman untukmu.
Ini aku, terbangun di masa depan. Kutulis ini untuk balasan dendam, karena akulah Dewi Nari Ratih dari masa lampau. Kamu harus percaya.
Minggu, 14 Febuari 2021.
Sudah kujelaskan bahwa aku adalah Nari Ratih dari Menguntur. Apa kamu percaya?
Benar, baru saja aku membual dan membuat kalian membaca sesuatu yang amat tidak masuk akal. Hahaha. Barusan itu adalah fiksi, bahkan bukan alur asli dari kisahnya Nari Ratih. Mungkin bisa saja aku mengaku sebagai Sri Tanjung dari kisah Banyu Wangi atau menjadi Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai Ratu Majapahit. Yang mana yang sekiranya akan lebih keren ya?
Kembali ke dalam tulisan-tulisanku tentang, sebutlah, seni. Kalau kubilang bahwa hidup aku, hidupmu, hidup kita semua adalah jalan cerita di sebuah buku komik, apakah kalian tidak percaya juga? Bolehkah aku mengimajinasikan Lauhulmahfuz sebagai sebuah buku dongeng? Dengan mengimani itu, bukan kah dalam kata lain, hidupmu dan hidupku dengan takdirnya masing-masing adalah sebuah cerita?
Apa yang sekiranya akan terjadi jika si pemeran cerita mengetahui bahwa dia hidup dalam sebuah buku? Haruskah kaget atau bahagia, bahwa dia akhirnya punya kesadaran diri? Hidupnya telah bertransformasi dari 3 dimensi menjadi 4 dimensi. Ketambahan indikator tambahan yang terus berjalan, waktu. Ya, waktu. Normalnya semua pemeran akan mengikuti alur yang sesuai dengan waktu alias kronologis. Namun di gerakan literatur post-modern, ternyata waktu menjadi unsur yang menarik dan kronologi bisa dipermainkan dengan unsur lain (misalnya, kesadaran jiwa) oleh sang penulis.
Tulisan ini adalah review dari drama Mr. Queen, terutama pada 3 episode terakhir dan 2 episode epilogue tambahan (Bamboo Forest) sebagai episode yang meluruskan semua asumsi penonton. Ini adalah bentuk apresiasi untuk drama yang berhasil mengakhiri 2020 dan memulai 2021 dengan seru!
Hal tersebut lah yang terjadi kepada Kim Byeong-In.
Di episode 18 Kim Byeong-In sadar tentang perbedaan jiwa Ratu Cheorin. Terus dia jadi percaya bahwa Ratu Cheorin tetap ada di dalam tubuhnya. Lalu apakah Penulis memang membuatnya seperti itu? Ya, klaim Byeong-In dibenarkan penulis. Monolog Ratu Cheorin selepas ditembak oleh sniper di areal istana (episode 20) menyatakan kebenaran bahwa selama ini Ratu Cheorin hidup di dalam badannya sendiri, tapi tidak ingin keluar dan membiarkan Bong-Hwan mengambil alih untuk sebagian besar waktu. Hahahaha, kita semua adalah penonton yang dibodohi. Dengan ini sudah bisa dinyatakan bahwasannya entitas gabungan (Jang Bong Hwan-Ratu Cheorin) ini bukanlah karakter dekonstruksi yang dituntaskan!
Kemudian cerita berlanjut normal secara linear dengan kembalinya Bong-Hwan ke masa kini, itu juga menyatakan fakta lain bahwa era kerajaan Joseon sudah ada di masa lampau. Pengambilan 2 timestamp yang berbeda ini hanyalah faktor lain dari urutan kronologis yang memang menjadi salah satu kriteria dari aliran cerita post modern. Tapi masih ada yang janggal, apa penjelasan yang tepat bagi Byeong-In? Dia semacam cenayang. Dia juga salah satu tokoh yang jadi simbol bahwa drama ini beraliran post modern juga.
Kim Byeong-In hampir semacam 'breaking the fourth wall' secara tersirat, tapi bukan juga. Dia tidak membiarkan penonton jadi unsur yang ikut bagian dalam cerita, tapi dia berhasil menebak jiwa Ratu Cheorin yang sifatnya tidak linear. Apa ya ini namanya? Kalau Byeong-In tau tentang wacana Ratu Cheorin yang pernah mengaku secara jelas bahwa dia adalah laki-laki dan dari masa depan, seperti yang pernah dia utarakan ke Raja Cheoljeong atau secara tidak langsung ke dayang Choi atau Hong-Yeon, berarti iya dia berhasil mempercayai hal metafisika yang keluar dari mulut Ratu Cheorin. Hal ini terdengar seperti omong kosong juga, untuk ikut percaya atas karakter lain dalam tubuh Ratu Cheorin yang tidak hidup secara kronologis. Kim Byeong-In boleh dikatakan berhasil menerobos dinding ke 3½.
Coba aku kasih contoh biar hal ini terasa nyata, pengakuanku sebagai Nari Ratih bisa kamu percaya gak? Kalau kamu percaya aku adalah tokoh yang pernah hidup di periode waktu Kerajaan Singhasari, kamu akan jadi apa? Haruskah kaget atau bahagia, bahwa kamu akhirnya punya kesadaran diri atas hal-hal aneh yang diluar kendali kamu tapi nyatanya benar dengan adanya kehadiran aku (yang kamu klaim benar dan kamu percaya)?
Ending mr. Queen adalah happy ending, dan sangat sempurna tapi justru kesempurnaannya itulah yang merusaknya. Jang Bong-Hwan kembali dan kisahnya tidak diperpanjang lagi, ia senang kembali utuh menjadi lelaki. Apalagi massa ototnya gak sama sekali berkurang dan itu sesuai dengan permintaan dia di epilogue Bamboo Forest! Tapi.. apa setelah itu? Apa maksud dari scene Bong-Hwan menatap langit di kota yang sibuk, terus bengong dan berpikir kritis bahwa keadilan akan terus berdiri? Hal ini gak menyelesaikan keresahan penonton tentang jati diri Jang Bong-Hwan yang kemarin-marin... Umm bisa aja di kehidupannya yang ini dia bisa bener-bener berubah menjadi Queer in real life, haha imajinasi yang liar! Inilah hasil dari open plot, versi china dan korea tidak sama-sama menyelesaikan ini dengan perasaan tenang.


















