Perihal Cinta Dua Manusia
Sejak kecil, aku percaya bahwa cinta manusia itu tiada yang abadi~
Aku berkali-kali melihat sepasang insan yang terlihat ideal, cocok, dan sempurna. Namun pada akhirnya, jalan perpisahanlah yang terpaksa mereka tempuh karena mereka selalu sibuk sendiri-sendiri, tidak ada rasa percaya, dan tidak ada yang memprioritaskan satu sama lain.
Aku juga berkali-kali bertemu dengan sepasang remaja yang menjalin cinta seakan-akan dunia hanya milik mereka. Namun aku juga sudah biasa berjumpa dengan sebagian dari mereka yang kandas. Takjubnya, mereka bisa bertemu setelah kandas, namun seakan-akan tidak ada rasa kenal.
Lebih parahnya, aku juga berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya karena perbedaan dan menerima kondisi yang cukup ada. Merelakan cintanya pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya. Sebagian orang mencoba menjalani kondisi tersebut selamanya hidupnya, namun sebagian orang mencari hati yang lain.
Selain itu, aku pun melihat diriku sendiri semasa pubertas. Sesekali aku jatuh cinta dan terus mengejarnya 3 tahun karena aku yakin bahagia saat aku memilikinya. Namun saat berakhir kegagalan, cinta tersebut dengan mudahnya hilang dan tergantikan dengan cinta satu hari di masa ospek kuliah.
Namun, aku tidak 100% percaya bahwa cinta manusia itu sementara.
Sejak kecil juga, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibuku bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh.
Sekarang aku sedang memikirkan hal tersebut. Apa rahasianya manusia tidak bosan saat menjalin cinta? Persis dengan orangtuaku, apakah aku bisa menjalin cinta tersebut? Semoga dalam perjalanan hidup ini aku menemukan jawabannya.








