Sebagai pekerja, tentunya rutinitas sehari-hari sering membuat kita jenuh dan frustasi. Kalau udah begini, solusinya adalah bunuh diri liburan. Alhamdulillah waktu itu abis gajian, gue sama temen kantor; Dion & Marimar berencana cabut ke Pulau Seribu. Lokasi pulau yang dituju masih belum jelas. Pokoknya apa aja asal pantai di pulau seribu. Kita semua belum pernah ke pulau seribu, jadi bias di bilang ini modal naked aja. Berbekal pengetahuan dari Google, akhirnya kita memutuskan untuk berangkat besok pagi jam 9. Temen kantor lain ternyata ada yang pengen ikut juga; Hendra & Istiadi. Alhasil kita berlima lah yang berangkat.
Sabtu, 29 Oktober 2016
09.00
Kita semua udah kumpul di kantor keesokan harinya. Planing hari ini adalah naik mobil ke dermaga buat nyebrang. Tapi ternyata keputusan Iis untuk ikut masih belum bulet banget, karena dia harus dateng dulu ke nikahan temennya. Jadi kita mutusin buat kondangannya pagi, dan nunggu dia selesai kondangan dulu, baru berangkat ke dermaga.
10.30
Akhirnya semua kumpul dan siap untuk berangkat. Karena udah siang, dan menurut informasi dari google, satu-satunya cara termudah adalah ke dermaga di Pantai Tanjung Pasir. Karena sebelumnya kita udah pernah ke Tanjung Pasir, jadi bukan hal yang sulit untuk kesana. Perjalanan ternyata diluar dugaan, macet. Gue gak ngerti kenapa orang-orang pada berkeliaran sabtu pagi menjelang siang. Kek kurang kerjaan aja mereka, lha mbok ya istirahat gitu lho dirumah. Quality time with fam.
*kemudian ngaca*
12.30
Lama bet di perjalanan, dan baru sampe di dermaga tengah hari. Cuaca di luar alhamdulillah cerah. Bahkan masuk katergori puanas. Aroma angin laut khas Jakarta kentara banget. Asin dan amis. Maklum, karena dermaga. Sampe disini pun kita berlima masih bego gimana caranya nyebrang. Di deket kapal yang berlabuh, ada mang-mang yang modelnya kek makelar teriak-teriak; “ayo yang nyebrang, yang nyebrang”. Kemudian gue inget kalau punya mulut, jadi gue samperin tuh dia, dan nanya,
“Siapa penemu Gagang Pintu?”
nggak nggak, bukan itu pertanyaannya,
“Kapalnya kemana pak?”, ucap pangeran.
“Ke Untung Jawa”, jawab si mang.
“Wah untung jawa ya mas, coba kalau sumatra, beda cerita ya nanti”, celoteh pangeran dengan penuh dosa.
….
Well, percakapan fiktif diatas tidak ada faedahnya. Intinya kapal yang berlabuh itu mau ke Pulau Untung Jawa, yang lokasinya gak terlalu jauh, ±30 menit dari Paris Jakarta, naik kapal tentunya. Harga Rp 50.000,- PP. Tujuan awal kita sebenernya pengen ke Pulau Tidung atau Pulau Harapan. Tapi ternyata kalau jam segini (siang), harus sewa kapal. Dan itu pasti nggak murah (gue nanya sekitar 500-700rb).
*nangis*
Kalau memang niat mau ke pulau-pulau yang jauh, bisa naik dari pelabuhan muara angke, dan bisa naik Kapal Ferry, (eh bukan kapal ferry ya? au ah) dari Dishub. Jadi harga masih sangat terjangkau. Tapi ya gitu gaes, kudu pagi-pagi buta berangkatnya. Karena dari apa yang gue tanya, kapalnya dishub cuma berangkat sekali jalan. Jadi terbatas banget.
Kompromi kami berlangsung singkat, dan akhirnya memutuskan ke Untung Jawa.
Bodo amat yang penting ke pulau.
Dari kiri, Hendra, yang pake topi, trus gue pake topi juga sama kacamata kuda, diatas gue Dion, yang paling depan Marimar (namanya Mardiyanto, tapi kita prefer panggil dia Marimar), dan diatas Marimar ada Istiadi. Nah dibelakangnya Istiadi itu pasangan antah berantah yang bikin kesel sepanjang perjalanan. Kenapa keselnya? pokokknya kesel aja liatnya.
13.00
Mobil sudah aman terparkir. Tapi masih tetep nunggu kapal penuh, macem angkot gitu deh. Gue udah karaokean 10 lagu, tidur ayam-ayam-an. Pokoknya kek berasa lamaaa banget, dan akhirnya setelah nunggu, akhirnya kapal berangkat. Dari kejauhan tampak burung-burung camar terbang rendah di atas laut, lumba-lumba berlompatan di bawahnya seperti berdansa. Suara ombak berdesir lembut pada sisi samping kapal. Indah banget asli gaes.
Oke ini gue ngarang.
Pokoknya banyak burung-burung laut yang gue nggak tau namanya apa, terbang bergerombol. Sepanjang perjalanan angin dan ombak menurut gue lumayan kenceng. Pokoknya serem aja sih doyong ke kanan kiri kek mau jatoh. Bukan sesuatu yang gue suka, tapi seru aja ngalaminnya. Gue inget temen gue Adam pernah naik kapal beginian dalam kondisi Ujan deres. Itu lebih ekstrim pasti ya.
13.45
Pulau Untung Jawa sudah terlihat dari kejauhan. Biasa aja sih, but still, siapa sih yang nggak suka liat pantai di pulau yang belum pernah kita datengi. Tiba-tiba ngerasa excite yang menggebu-gebu. Ada dermaga kecil di selatan pulau, yang ternyata sudah di isi oleh kapal lain, dan akhirnya kapal yang kita naiki berlabuh di dermaga timur. Saat itu kondisi dermaga timur masih dalam pembangunan, jadi jauh berbeda dengan dermaga utama.
Berasa artis, karena tiba-tiba banyak abang-abang caper mulai mendatangi orang-orang yang turun dari kapal. Kita juga di datengin. Ternyata nawarin penginapan, paket 3in1, dll. Dan gue akhirnya kepincut sama salah satu Guide bernama Mas Fandy buat cari homestay.
Iya, karena besoknya masih minggu, kita mutusin buat nginep disini. Yang akhirnya di anterin sama Mas Fandy ke homestay dengan biaya kamar Rp 250.000,- per hari. Kamarnya ada yg AC sih, cuman lagi penuh. Jadi kita cari yang seadanya. Kamarnya cukup sih buat kita berlima bobok mesra jejeran, di cukup-cukupin sih lebih tepatnya. Gak perlu mewah, yang penting ada tempat aman buat naroh tas & barang lainnya. Fasilitas homestay meliputi TV, Kipas, Kamar Mandi dalem, Kasur. Standar lah. Ibu-ibu yang kelola namanya Ibu Yoyon. Orangnya baek dan santai.
Karena pulau ini terhitung dekat dengan Jakarta, jadi fasilitas yang ada di pulau ini terbilang lengkap untuk ukuran pulau kecil. Puskesmas, Kantor Polisi, Sekolah, serta tempat makan lengkap. Tetep nggak ada McD atau KFC sih, but it’s okay.
15.00
Setelah barang-barang aman di homestay, kita jalan-jalan keliling pulau. Yak beneran muterin pulau.
Dari homestay kita lurus kearah pantai yang ada didepan, jarak deket banget, cuma 20m mungkin. Pokoknya deket banget deh. Pasirnya oke lah, beneran pasir pantai. Tapi kecil. Jadi space buat bikin Kastil Pasir seukuran monas sangat mustahil. Pantainya gak terlalu panjang, karena langsung gabung dengan dermaga dishub dan dermaga nelayan. Jadi disepanjang pantai juga ada beberapa kapal dan jet boat yg berlabuh.
Meskipun panas, kita semua seru kok foto-foto disitu. Sampai pada moment ketika Marimar melihat sosok abu-abu tergeletak lemas tak berdaya di pinggir pantai; Tikus yang ukurannya lebih gede dari anak kucing, mati. Gak tau gimana ceritanya dia sampai disitu, pokoknya kejadian itu merusak mood. Jadi kita langsung naik ke jalan yang menuju dermaga nelayan.
Dari situ langsung lanjut kearah Bumi Perkemahan Pulau Untung Jawa, yang sekaligus ke arah hutan mangrove.
Kita berhenti sejenak di Gazebo kecil, jalan bercabang ke arah Pantai Sakura dan ke arah Hutan Mangrove-nya.
Yang disayangkan dari hutan mangrove-nya adalah kebersihan. Nggak tau gimana asal-usulnya berbagai sampah bisa nyangkut di akar-akar mangrove, yang pasti banyak bener disana sampahnya, kotor. Setelah foto-foto sebentar di mangrove, kita kelaperan, dan untungnya disitu ada warung yang menjual makanan dan minuman sederhana. Kita beli Indo*ie & gado-gado. Syukurlah harga sama aja kek di Jakarta, haha.
Perjalanan berlanjut ke Pantai Sakura. Sepanjang jalan, kita ngelewatin rumah penduduk, bahkan kita juga ketemu anak-anak SMA yang lagi napak tilas, mungkin acara camping sekolah.
Sampai di pantai, gue kecewa sih. Kenapa? Karena pasirnya nggak sesuai harapan gue.
Kerikil semua :(
Jadi kesan pertama yang gue rasakan adalah ini pantai buatan dengan pasir pantai berupa remukan trumbu karang yang di tumpuk rapi di pinggir pantai. Gak enak buat jalan-jalan sepanjang pantai. Tapi ya karena udah sampai disini, gak ada salahnya gue basah-basahan dikit, dikit banget, cuma kaki. Soalnya masih trauma dengan sosok abu-abu tadi. Jadi mood masih terjaga. Syukurlah~
17:30
Lanjut perjalanan dari Pantai Sakura ke arah dermaga dishub, tapi baru sampai mini mercusuar (bener gak namanya?) langsung gerimis. Lari-lari kecil ala india, kita lanjut berteduh bentar di dermaga tengah, tempat yang tadi ketemu sosok abu-abu. Dari arah barat matahari sudah mulai tenggelam. Gue selalu suka suasana sunset, dimanapun. Dan gerimis mulai mereda. Jadi kita mutusin buat foto-foto sebentar. Setelah puas menikmati sunset di dermaga, kita memutuskan untuk balik dan istirahat.
Di depan homestay ada Taman Pantai Arsa. Di dalam taman banyak fasilitas mini outbound untuk anak-anak sekedar menikmati permainan di pinggir pantai. Cuma karena saat itu suasana gelap, jadi kita memutuskan untuk melihatnya dari luar saja.
21:00
Setelah istirahat sebentar, kami berlima pergi ke arah cafe di dekat dermaga timur, sekedar menikmati suasana malam di pantai sambil minum yang hangat-hangat. Sekali lagi, kalau untuk soal harga, rata-rata sama dengan di Jakarta. Gak ada harga yg keterlaluan meskipun ini tempat wisata. Sekitar jam 11 malam kita balik buat istirahat.
Minggu, 30 Oktober 2016
04:00
Ini gue masih tidur.
05:30
Nah sekarang udah bangun.
Tapi ternyata Dion, Marimar & Iis udah bangun duluan buat cabut ke dermaga Dishub buat menikmati sunrise. Jadi gue sama hendra baru nyusul. Jembatan ke dermaganya super. Tinggi cuiy, tiati deh, meleng dikit tewas. Intinya, kita menikmati sunrise dengan foto-foto sepagian.
Mas Fandy, guide yang kemarin, juga nawarin paket 3in1 berupa Snorkeling, Banana Boat, Donut. Bukan gaes, ini donat yang di tarik Jet Boat, bukan buat sarapan. Yah meskipun pagi itu gue bener-bener laper. Cuma bayar Rp 100.000,- dapet paket lengkap diatas, itu plus biaya kapalnya. Paket ini harus dijalanin pagi-pagi. Kenapa? karena air di trumbu karang masih bersih, belum banyak orang yang kesana, jadi kemungkinan besar masih banyak ikan berdansa salsa disana.
Tapi karena Dion siang ini ada ujian di kampusnya, terpaksa dia harus ada di Meruya sekitar jam 11-an mentok. Jadi kita batal buat menikmati paket 3in1 tersebut. Sedih? Yaiyalah. Berhubung Mas Fandy orangnya ramah, baik hati dan tidak sombong, jadi dia gak masalah paketan yg kita ambil dibatalin. But someday, in case kalau gue ada planning kesana gue pasti coba.
08:00
Menurut info Mas Fandy, kalau mau balik ke daratan, musti jam 8 pagi standby di dermaga barat. Packing barang dll, akhirnya kita balik naik kapal ke Tanjung Pasir. Oiya, Rp 50.000,- yang kita bayar kemarin itu tiket pulang pergi, jadi pas pulang naik kapal apa aja (asal model kapalnya sama) ke Tanjung Pasir.
Sesampainya di parkiran mobil, kita langsung pulang dengan membayar biaya parkir Rp 25.000,-. Untuk motor kalau gak salah Rp 15.000,-.
Pulau Untung Jawa memang gak sebagus pulau-pulau yang lebih jauh seperti Tidung atau Harapan. Tapi jika ingin menikmati liburan bersama keluarga dengan budget minim, mungkin bisa menjadi pilihan. Tapi jika ada budget lebih, mending ke pulau lain yang lebih jauh. Semakin jauh pulau, semakin bagus air lautnya, tapi tentu saja biaya jadi lebih mahal.
Makasih yang udah sempet baca tulisan ngawur ini, sampai ketemu di liburan mendadak berikutnya :D
Ada yang jatuh saat kumpulan uap air penuh
Hujan,
Begitulah saat kau mulai mengingat kembali elemen kita,
Aku pernah berkata bahwa air adalah elemen kita
Karna sering kali saat bersama, kita bertemu sapa pada berkah-Nya
Kau ingat saat kita berpayung karena lapar? Iya, klasik memang, dan aku masih mengingatnya.
Tapi aku lupa hari apa itu,
mungkin hari sabtu
Aku yakin bagian kanan-ku basah karena tangan kiriku sibuk memelukmu dari serangan hujan.
Hangat
Aku masih ingat teman kost-mu menertawai kita
Dan ironisnya sekarang aku sendiri yang menertawai kenangan itu.
PS: Ini di tulis, eh di ketik di google keep Mei 2014, baru ngeh kalau belum di post, haha