Cokro Manggilingan -1-
Kediri, daerah yang tidak akan mungkin pernah terlupa dari sukmanya. Di kota itulah ia memutuskan untuk tidak kembali ke tanah kelahirannya, kerajaan yang dicintainya. Ia tidak dapat menanggung malu untuk kembali ke tanah kelahirannya. Walau sampai saat ini, namanya masih dipuja dan diceritakan turun temurun di sana. Patung, cerita dan peninggalan dirinya masih terpahat oleh penduduknya.
Ia masih ingat tapak kaki pertamanya, ratusan tahun lalu saat pertama menginjakkan kakinya di tanah jawa. Saat itu ia tidak pernah terbesit di pikirannya bahwa dari saat itu ia akan mendiami sisa hidupnya di pulau ini. Dan saat itu juga ia berjanji pada dirinya untuk tidak lagi percaya penuh pada orang lain. Ia baru sadar bahwa di pulau ini, tidak sama seperti di tanahnya. Tidak ada integritas, tidak ada kejujuran, yang ada hanya tipu muslihat untuk kepentingan suatu kelompok. Semua akan dihalalkan demi untuk memuluskan sebuah tujuan.
Dulu ia termakan oleh akal licik seorang satriya. Seorang satriya sama sepertinya. Ia tidak pernah menduga bahwa seorang satriya akan melakukan hal yang hina demi sebuah kemenangan. Dijanjikan seorang istri cantik dari Jawa demi persahabatan dua negeri. Tapi itu semua adalah rencana licik dari seorang yang ambisius. Ia paham betapa satriya itu mencintai negerinya, tapi ia merasa bahwa Satriya itu lebih mencintai dirinya sendiri. Bahwa sumpah dapat melupakan keharusan norma seorang satriya.
Memang ia berkelahi dengan hebat dengan satriya itu, namun penyesalan dan ketidakpercayaannya pada norma-norma dunia, membuat ia undur dari pertarungan tersebut, ia menghilang dan hidup sebagai seorang jelata. Nama satriya tersebut dipuja dan jauh lebih dikenal darinya. Tapi seperti perkiraannya, sumpah dapat terlaksana, tapi hasil sumpah tersebut tidak akan abadi, karena tidak mengunakan norma-norma kesatriyaan. Kerajaan satriya itu hancur lebih dulu karena perpecahan di anggota kerajaan, sedangkan kerajaan di tanahnya masih berdiri sampai saat ini.
Ia mencoba berkeluarga di pulau jawa, dan beruntung masih dapat melihat anak cucunya dari berbagai generasi. Namun ia kembali memutuskan menghilang dari keluarganya karena tidak kuasa melihat anak,cucu dan cicit-cicitnya meninggal, sedangkan dirinya masih muda seperti sedia kala. Ia kembali mengembara menuju barat dan menetap saat bertemu seorang anak raja. Anak raja ini yang secara tidak sadar mengajarkannya bahwa dirinya masih dibutuhkan dan norma-norma kesatriyaan masih dapat hidup di zaman kacau balau ini. Bersamanya ia memerdekakan Negara ini dari penjajahan orang-orang kulit putih. Namun anak raja tersebut tidak pernah mau untuk membuka identitas mereka. Biarlah kita hadir sebagai pejuang tanpa nama, pesannya dulu. Ia sangat kagum dengan anak raja ini, di luar pemuda ini akan tampak arogan dan tak peduli dengan kejadian di sekitarnya, namun saat tidak ada orang yang mengamatinya, ia mulai berjuang memperbaiki keadaan yang tidak semestinya. Seorang anak raja yang tidak pernah mau hidup dalam mewahnya kerajaan. Seorang pejuang yang memilih topeng seorang urakan.
Ia merebahkan punggungnya pada sebuah kursi di halaman rumahnya. Selama puluhan tahun di hidup damainya, Ia sadar benar bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang akan mengubah dunia. Entah baik atau buruk. Ia memijit lutut kirinya lembut, rasa sakit akibat perkelahian ratusan tahun yang lalu masih sering kali kambuh tertusuk dinginnya pagi. Tersenyum kecil, ia yakin benar bahwa sebentar lagi akan terjadi sebuah perang besar. Namun tak lama ia menelan ludah, andai saja lawan hebatnya dulu tidak terlebih dahulu moksa. Mungkin saja peperangan ini akan lebih hebat. Tapi taka apa pikirnya, setidaknya di peperangan ini , akhirnya ia dapat mengembalikan keagungan nama besarnya.
Telepon genggamnya berdering, ia melihat id callernya, anak raja yang membuatnya menetap di kota ini yang meneleponnya. Dengan sigap ia segera mengangkat panggilan tersebut.
“ Ya Kang Nara?” sapanya disusul dengan jawaban yang panik dari si penelepon.
“ Masak bisa sampai seperti itu?” terusnya, terdiam sejenak lalu lanjutnya, “ ya sudah saya ke sana sekarang.” Sebelum sempat menutup teleponnya, ia sepertinya sedikit kaget,
“ Ada siapa? Diam lagi. “ Siapanya Bu ratu?” terpaku sejenak, “ memangnya anak itu siapa di laut selatan?”
Sebelum menutup penggilan tersebut, ia berujar” ya sudah Kang Nara tunggu sebentar di sana ya… Tiang berangkat segera.”










