that boy who wins the best actor category really is a personification of cute.

seen from South Africa
seen from China

seen from South Africa
seen from Malaysia

seen from Japan

seen from Germany
seen from Germany
seen from United States

seen from Japan
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Thailand
seen from China
seen from United States

seen from China

seen from Japan
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
that boy who wins the best actor category really is a personification of cute.
for the first time, forever
Tiga hari yang lalu, 6 Mei 2015, saya dan dua orang teman baik saya untuk pertama kalinya mencoba berbicara di forum yang cukup besar. Mempresentasikan makalah, bukan hanya di depan kelas, tetapi di depan orang-orang asing yang tidak kami kenal. Orang-orang dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari kami. (Hei, kami bahkan belum lulus sarjana. Jangan bercanda!)
Ah ya, hari sebelumnya saya sempat kehilangan bukti registrasi yang membuat dua orang teman saya kalang kabut. Saya menganggapnya pertanda buruk, sekalipun saya bungkam soal hal ini. Kami berkeliling perpustakaan, lalu kembali lagi ke fakultas, hanya untuk selembar kertas sialan yang pada akhirnya ditemukan terselip di dalam kamus. Saya lupa jika saya menyelipkannya di sana. Sia-sia sekali.
Perasaan menjadi sosok yang inferior, tentu saja ada. Semua orang di sana memiliki aura (err—entahlah. Saya tidak punya kosakata lain untuk mengekspresikannya.) profesional, tampak sudah saling kenal satu sama lain. Sedangkan saya? Siapa saya? Saya ini ... apa? Hanya mahasiswa semester enam yang cukup sinting untuk mengikuti event besar semacam ini hanya dengan bermodal nekat. Gila.
Gugup, keringat dingin, dan perasaan ingin mengubur diri hidup-hidup bergantian datang sepanjang pagi hingga siang. Bahkan secangkir teh pun tidak habis tertelan. Ini mengerikan! Saya berkali-kali ke toilet, kandung kemih saya selalu terasa penuh. Entah karena terlalu banyak minum, entah karena gugup. Rasanya seperti menghadiri prosesi pemakaman dirimu sendiri. Saya memakai terusan kasual berwarna hitam, omong-omong. Seperti orang berkabung. Barangkali saya memang berkabung atas harga diri saya, yang sudah terjual habis dengan bayaran nekat.
Saya sempat merasa tenang—sebentar, hanya sebentar—ketika peserta lain menyajikan makalah mereka. Kegugupan saya bertukar dengan perasaan relaks yang menyenangkan. Perasaan menyenangkan yang selalu saya dapatkan ketika saya mendengarkan orang lain bicara tentang topik-topik yang saya sukai. Juga rasa ingin tahu yang sempat membuncah. Semuanya menutupi rasa gugup yang sempat merayap. Hanya saja itu tidak bertahan lama. Usai makan siang, semua kegugupan, tegang, keringat dingin, dan segala macam kecemasan kembali tercampur. Rasanya lebih buruk dari sebelumnya. Tubuh dan mental saya berkonspirasi membuat saya ketakutan sampai rasa-rasanya saya siap terjun ke danau saat itu juga. Kalau waktu itu kalian melihat saya tenang dan biasa saja, itu hanya topeng, omong-omong.
Sayangnya saya sudah tidak bisa mundur. Sekalipun perasaan saya semakin tidak karuan seiring waktu yang tak mau berhenti. Jantung saya tidak bertalu-talu seperti mau meledak. Detaknya teratur, tetapi keras. Saya bisa mendengar suaranya, jelas sekali. Saya tidak mengalami kesulitan bernapas yang menyusahkan, meskipun paru-paru saya terasa menyempit. Oksigen yang saya hirup rasanya tidak bisa memenuhi kebutuhan tubuh saya—padahal saya bernapas dengan normal. Kelenjar keringat di telapak tangan saya tidak mau berhenti bekerja. Telapak tangan saya basah dan dingin.
Lebih dari semua itu, saya khawatir jika saya melupakan apa yang akan saya katakan, nanti. Bagaimana jika pikiran saya tiba-tiba kosong? Bagaimana jika suara saya mendadak tersangkut di kerongkongan? Bagaimana jika tayangan yang sudah kami buat dengan sedemikian rupa tampak berantakan dan buruk di layar? Bagaimana jika ada pertanyaan yang tidak mampu saya jawab? Serta masih banyak bagaimana dan bagaimana yang lain meluap dalam sinapsis-sinapsis otak saya. Semuanya terdengar mengerikan. Lebih mengerikan dari mimpi buruk, lebih menyeramkan dari cerita horor tengah malam. Dan, saya memilih untuk hidup di dunia zombie apocalypse dibandingkan berada di situasi seperti ini. (Ya, ya. Saya mungkin terlalu banyak membaca buku dengan zombie, naga, kuda terbang, dan monster di dalamnya.)
Lucunya, saya merasa baik-baik saja ketika giliran kami berbicara sudah tiba. Suara detak jantung saya tidak lagi mengganggu. Tangan saya masih sedingin es, tetapi tidak lagi licin dan berkeringat. Setidaknya, saya masih bisa memegang mikrofon dengan benar. Suara saya terdengar cukup normal, dan tidak tercekik di tenggorokan. Meskipun pengaturan napas saya buruk—sangat buruk. Saya beberapa kali kehabisan napas di tengah-tengah kalimat. Bukan masalah besar, sebenarnya. Meskipun bagi saya itu agak mengganggu. Barangkali saya harus belajar bernapas dengan benar setelah ini.
Setelah beberapa hitungan waktu yang terasa seperti selamanya, akhirnya sesi presentasi kami usai. Lega. Saya lega sepenuhnya. Lega dan bahagia. Saya bahkan tidak sanggup mendeskripsikannya. Hanya saja, tiba-tiba audtorium gedung empat terasa lebih cerah dari sebelumnya, dindingnya tampak lebih putih, dan sinar lampu putih di atap berpendar lebih terang. Yang paling terasa, atmosfer ruangan tidak terasa mencekik seperti sebelumnya. Jika tidak tahu malu, barangkali saya sudah melompat-lompat sambil berdansa. (Saya sungguhan melompat sambil meredam sorakan bahagia di toilet bersama teman saya beberapa saat kemudian.)
Ah ya, saya sempat tersandung kabel yang terjulur melintang di ruangan ketika turun dari panggung. Barangkali saya masih hangover pasca presentasi perdana, waktu itu. Daaan, itu persis di depan dosen linguistik favorit saya—kami, saya dan teman saya. Saya masih agak linglung ketika beliau menjabat tangan kami. Untungnya, otot-otot wajah saya bereaksi lebih cepat untuk menampilkan senyum alih-alih ekspresi kosong.
Saya capek, omong-omong. Dan nggak tahu mau cerita apa lagi. Yang jelas, terima kasih banyak. Untuk Widya dan Ratih, teman yang mau-maunya terjebak di seminar ini dan stres selama dua minggu bersama saya. Untuk Teh Novi, dosen yang menawarkan proyek ini kepada kami. Untuk semua orang yang bersedia mendengarkan kami ketika kami menyajikan makalah. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Saya cinta kalian.
Salam,
Tia
polsci professor: well, think about this. where is the capital of the united states? what state is it in?
polsci professor: besides a mess
done list
talked to SAC advisor
scheduled appointment with polsci advisor
went over polsci notes with new study buddy
sent in job application
going to print off polsci readings
to do
FINAL PAPER TOPIC/outline??? god that's optimistic
talk to french professor about extension because hell week for PCN (tomorrow)
do one polsci reading (between dances?)*
nano???????????haha*
HOUSING*
french reading (maybe tonight also maybe tomorrow)**
do readings for sound, put clip on google doc for class*
start???? sac paper????
sometimes I think about how I'm probably going to major in polsci but then I think about how much my polsci class is killing me rn and I get sad
anyway something weird happened last night
I woke up at 4am because I think my body is no longer used to sleeping more than 4 hours, whoops. I was feeling kind of crampy so I decided to take some naproxen, but we didn’t have any water in the room. We have these lounges with sinks in them, and one’s right across the hall so I figure I’ll just pop over there and fill up a mug.
So I wander in, yawning and scratching my boob because it’s four am and no one’s awake so who cares. The lights of the lounge are off so it takes me a second to realize there’s a dude.
A dude. Dressed in all black, sitting in the dark on the couch, just staring at me.
I sort of stare at him for a second and go ahead and get my water anyway because I just woke up and my brain isn’t functioning enough to realize that someone sitting alone in a dark lounge dressed in all black is NOT NORMAL BEHAVIOR and I went about my business and took my meds and did some work because college and I went to the bathroom half an hour later and he was still there??
this seemed perfectly acceptable at the time it’s just when I woke up this morning that I thought back and wHAT THE FUCK
I take my coffee black now
a six word story about my college experience