Conflicted Heart
Aku lagi nyuci piring sehabis piket masak sambil pake headset, consider it as my healing session, tapi tiba-tiba denger suara bel.
Aku biarin nunggu yang lain bukain karena malas nyuci tangan buat buka pintu karena cuciannya belum selesai, hening beberapa saat terus bunyi lagi, karena kayanya gada yang mau bukain, mungkin karena lagi pada tidur atau pakai headset juga, aku akhirnya cuci tangan dan liat ke luar melalui peep hole,
Ada anak cewek, aku buka pintu dan ternyata anak bawwab rumah kami. Kalo ga salah anak perempuan keduanya.
Lewat celah pintu yang aku buka sedikit, dia minta tolong panggilin ‘temenku’, dengan suara pelan nyaris bisik-bisik yang bikin aku ngernyitin dahi tapi masih ga mikir aneh-aneh, aku menduga dia minta tolong dipanggilin kak Balqis, salah satu temenku yang sering minta tolong nitip dibeliin tokmiyah dan sandwich ke anak-anak bawwab rumah.
Aku tutup lagi pintunya dan mulai manggil kak Balqis tapi dia gada, terus nanya temen-temen yang lain gada yang nitip beliin apa-apa juga. Aku akhirnya balik lagi dan buka pintu, terus bilang kalau temenku gada, lagi di luar.
‘Gada yang mau nitip apa-apa ke kamu’ begitu bilangku padanya.
Kemudian dia ngomong masih dengan bisik-bisik, “tolong sembunyiin aku di balkon, mamaku mau mukul aku” katanya takut-takut.
Aku balas nanya mastiin, “Mamamu mau mukul kamu?” dia ngangguk sebagai jawaban.
Aku mikir cepat dan akhirnya milih buat nutup pintu dengan berat hati.
Hati kecilku sebenarnya pengin banget bantu dia. Aku paham betapa berat dan sakitnya hatinya sebagai anak ketika mendapat pukulan dari orang terdekat kita, terutama kalau itu dari ibu.
Tapi sebagai mahasiswi asing yang punya sedikit banget ‘kekuatan’ untuk membela diri, aku terpaksa menutup pintu dan memilih ga menolong anak itu.
Aku teringat mahasiswa indonesia yang digebukin warga karena membela diri setelah diganggu anak-anak kecil mesir.
Aku tahu keadaannya berbeda dan tempat kejadian perkara juga berbeda. Tapi aku harus berhati-hati. Takut membawa masalah untuk teman-teman lain.
Apalagi ini tuh masalah keluarga orang lain.
Aku akhirnya melanjutkan kegiatan menyuci piringku. Tepat setelah aku selesai, Rina keluar dari kamar mandi, dan aku pun cerita sekilas mengenai masalah dan keputusanku tadi. Yang dia benarkan dan pahami pula.
Aku pun lanjut buka laptop dan memutuskan untuk menulis di tumblr dengan telinga tersumpal headset.
Beberapa waktu berlalu, Dian tiba-tiba deketin aku dan manggil namaku, aku pun geser sedikit headset nya dari kupingku buat dengar perkataannya.
“Kak tadi ada dengar suara gak? Kayanya dia beneran dipukul mamanya” dan menambahkan kalau dia dengar suara tangisan anak perempuan itu dan suara seperti dibekap mulutnya. Sepertinya Dian denger tadi waktu aku cerita ke Rina.
“Kenapa yaa dia gak lari ke tempat lain ajaaa? Kemana kek lari dari mamanya dulu”
Kak Ida datang dan nanya kronologinya, kemudian setuju juga dengan keputusanku yang gak biarin anak perempuan itu masuk rumah buat sembunyi.
Sementara aku sendiri memutuskan untuk menulis kronologi dan pandanganku terhadap kejadian hari ini.
Mungkin untuk pelajaran dan pengingat untukku di masa depan.
Atau untuk aku review kembali tindakanku di masa depan. Siapa yang tahu aku punya pendapat lain nantinya.
Atau sebagai pelipur lara dan mengangkat sedikit beban rasa bersalah di hati.
8.2.22_12.11CLT
Happy Home










