i miss writing.... what am i gonna do with all these icons
seen from T1
seen from United Kingdom

seen from Italy

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Russia
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from China

seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
i miss writing.... what am i gonna do with all these icons
Jatuh cinta sering ditandai dengan tidak bisa tidur. Karena pada akhirnya, kenyataan lebih manis daripada mimpi
Salah satu hal di malam hari yg sering aku lakukan sebelum tidur, khususnya ketika sedang tidak bisa tidur, adalah merenung. Merenungkan apa saja, yg bisa dan ingin aku renungkan. Entah itu tentang kini, masa lalu, masa depan, atau masa-masa yg mungkin ngga akan pernah ada. Hal pertama, yg kurenungkan malam atau pagi ini adalah, segala sesuatu yg harus kukerjakan besok. Makin kesini aku makin sadar, kalau kerjaan itu lama kelamaan kaya ibu2, demennya ngeborong. Dan juga kaya, ehem, kaya cinta. Wonder why.. Omong2 soal cinta, hal kedua yg (tidak) ingin, (tidak) sengaja dan (tidak) bosan aku renungkan adalah kamu. Eh bukan bukan. Bukan kamu. Tapi kita. Lah trus apa hubungannya cinta sama kita? Eleuh. Okai. Sebelumnya, assalamualaikum. Hai kita, apa kabar? Masihkah seperti dulu? Hahaha blah. Seperti dulu? Kurasa tidak. Memangnya kenapa kalau kita tidak seperti dulu? Memangnya kenapa kalau kita berubah? Hmm tidak. Entahlah. Aku ragu. Kita sebenarnya menyadari bahwa perubahan itu pasti dan memang harus terjadi. Kita pun sudah cukup mengakui bahwa sama sekali nggak ada yg salah dgn perubahan. Bukankah ‘kita’ ada karena suatu perubahan? Ya kan? :) Tapi… Tapi, sepertinya ada yg salah dengan perubahan kali ini. Dari sekian banyak perubahan yg kita lalui, perubahan inilah yg paling membuat kita merasa…salah. Ya mungkin karena kita belum bisa sepenuhnya menerima perubahan itu. Atau memamg perubahan itu sendiri yg memang tidak layak untuk kita terima? Huft.
Key lanjut. Jadi saat ini kita sedang berada di suatu waktu, dimana kita tak henti-hentinya berpikir dan bertanya-tanya tentang perubahan itu. Dan lagi, satu pertanyaan, seribu jawaban: Mengapa. Dulu. Mengapa seperti itu? Mengapa. Pertanyaannya memang hanyalah mengapa. Satu pertanyaan, beribu jawaban kan, katamu. Kita pun saat itu mencoba mengerti. Kita pikir, maksud kita sama. Tapi lihatlah, ternyata kita salah, lagi. Biasanya, seseorang yang dengan mudahnya bisa melakukan sesuatu hal kepadamu, juga dengan mudah, bisa melakukannya kepada orang lain. Dan itu terbukti. Kepada kita! Dengan mudahnya. Bisa. Kita bisa. Dengan mudahnya, memetik lalu setelah itu membuang setangkai sesuatu yg berharga itu. Sesuatu yang sesungguhnya bicara, bahwa ia tidak layak untuk kita petik, tapi kita seolah-olah memaksa. Ya, kita mungkin terlalu pintar dalam hal petik-memetik dan buang-membuang sehingga tanpa kita sengaja, atau mungkin memang sengaja, memetik, membuang, tanpa harus menyimpannya, menyiraminya, menjaganya. Mudah. Memang mudah. Ah sudahlah. Tidak ada yg mesti disalahkan disini. Karena kita berdua memang salah. Bersalah karena telah menerima semuanya. Menerima, dengan segala kepolosan kita, dengan segala kehinaan kita, dengan segala kegoyahan iman pd diri kita, hingga segala rasa bersalah pun terjaga, hingga saat ini, detik ini. Dalam hati nurani kita yg paling-paling dalam, kita berteriak, bahwa kita tidak mau melihat kita seperti itu lg, dengan orang lain. Jika memang kita kembali melakukannya, tolong, jangan diperlihatkan. Karena kita tahu, itu akan menyakiti hati kita, satu sama lain.
Untuk kamu, yg membuatku kembali mjd ababil. Dari aku, yg rindu menjadi ababil terhadapmu.
heyyyyyyy.
long taim no si. pada kangen ga sama aku?