Verás la gracia para despegar eso del pelo.
#phm#ryland grace#rocky the eridian#project hail mary spoilers





seen from Germany
seen from Türkiye
seen from China

seen from United States

seen from Spain
seen from United Kingdom
seen from China

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from Sweden
seen from United States

seen from Spain

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Spain
seen from United States
seen from Belarus
Verás la gracia para despegar eso del pelo.
Guys. Killing Cinta was not an example of bury your gays. That trope takes place when a gay character's death is metatextually treated as less important than a het character's. The unimportance of deaths in the pursuit of the rebellion is literally a central theme in this show!!! Cinta is the EIGHTH named rebel to die in this show!!! Not to mention Kreegr's men, or even the Narkina escapees. Every single one of these characters will die an uncelebrated yet ultimately important death in the pursuit of freedom!! Yes, killing a character after they've had a chance to be openly gay is a trope but they're treating it no differently than Brasso's death last arc. He too found love, and it didn't save him. The camera doesn't even link her death to vel in any way- her death is another symbolic death representing the danger of disorganization, infighting, naivety, not following orders, etc. Yes I wish some gay characters would get to survive onscreen and even live a happy life. But you're looking for it in the wrong show.
Lelah, Tapi Masih Ingin Percaya
Tuhan, aku menyerah. Di mana “yang terbaik” yang selama ini kuucapkan dalam doa, di antara malam-malam yang tak lagi punya nama? Di mana “yang terbaik” yang pernah kumohonkan pada-Mu tiga, lima tahun belakangan, sampai kata-kata itu sendiri terasa seperti batu yang habis digosok dan jadi tumpul?
Kalimat itu menggantung berulang-ulang di kepalaku. Beratus kali aku mengucapkannya dalam hati, beratus kali pula aku menelannya lagi sebelum sempat menjadi suara. Aku menipu pikiranku sendiri dengan kata sabar, dengan kata yakin, padahal di dalamnya ada ruang kosong yang minta diisi.
Aku pernah berada di satu masa ketika doa menjadi satu-satunya bahasa yang kumiliki. Aku menggumamkan “yang terbaik” dengan sisa napas yang bahkan tak sempat kuberi tanda tanya. Aku mengulangnya seperti mantra, berharap Tuhan mengerti yang tidak bisa kujelaskan.
Tapi di titik-titik tertentu, aku mulai ragu. Apakah aku benar-benar mendapat yang terbaik, atau hanya sedang belajar menelan kenyataan? Apakah doa ini masih berjalan, atau hanya memantul kembali ke diriku sendiri, tanpa ada yang menangkapnya?
Aku tidak kapok. Sekali lagi, Tuhan, aku mohonkan “yang terbaik” dari-Mu untukku. Aku mohon, meski tak tahu seperti apa rupa “terbaik” itu, meski aku tak tahu kapan akan datangnya. Aku mohon, dengan sisa yang masih ada pada diriku—napas, luka, dan sedikit keberanian untuk percaya lagi.
Finished Andor! It was amazing. Can’t stop thinking about it. So I made these
Riuh dikepalamu, orang lain juga memilikinya. Hanya saja ketika berjalan berpapasan tampak biasa saja, tapi sebenarnya mereka sama demikiannya denganmu. Mahir nya manusia tidak kelihatan bahwa sebenarnya mereka saling berantakan.
@menyapamakna1
Cassian and Vel toasting to those they have lost.
Cassian toasting to Cinta because he knew Vel could not say it. So he said it for her.
Vel toasting to Ghorman and Ferrix because they hold memories of destructions for Cassian that he would rather not relive again. So she said it for him.
Then Vel toasted Cassian’s mother. Because Vel was there at Ferrix during the funeral. And because Cassian couldn’t not say it. So she said it for him.
Together, they mourn those they have lost, helping each other carry the heavier parts, keeping them named, helping each other name them.
Untukmu, yang Tengah Belajar Melepaskan
Aku melihatmu tak hanya dengan mata, tapi juga dengan seluruh pemahaman yang kupunya. Aku melihat bagaimana langkahmu kadang goyah, bagaimana hatimu berkali-kali terlipat dalam ragu. Aku melihat bagaimana kau memegang luka itu dengan gemetar, seperti menimbang-nimbang apakah harus kau genggam lebih erat atau lepaskan.
Aku ingin kau tahu, tak ada yang salah dalam mencintai. Hanya memang ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita bertahan. Dan kau kini sedang mengajarkan dirimu sendiri untuk bertahan dengan cara yang lebih sehat, mungkin juga lebih kuat. Aku menyaksikan itu dan aku bangga padamu.
Kesedihan yang kau rasakan bukan tanda kelemahanmu, tetapi bukti betapa besar hatimu. Kau hanya perlu mengingat bahwa cinta yang layak untukmu tidak akan membuatmu merasa kecil di dalamnya.
Jangan terburu-buru memadamkan luka itu. Biarkan ia membimbingmu pada pemahaman yang lebih dalam tentang dirimu sendiri. Aku takkan meminta agar kau segera baik-baik saja. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau berhak menjadi lebih utuh, tanpa perlu mengorbankan dirimu untuk orang yang tak tahu cara mencintai dengan benar.
Jika kau ragu, tengoklah ke dalam dirimu. Di sana ada jawaban, ada cahaya, ada keteguhan yang tengah bertumbuh. Dan saat kau siap, kau akan berjalan tanpa menoleh lagi, kau akan memahami bahwa dirimu pantas melangkah lebih jauh.
Aku di sini, mendukungmu dalam diam, mengagumi kekuatan yang mungkin belum kau sadari sepenuhnya. Dan kapan pun kau butuh diingatkan bahwa kau tak sendiri dalam perjalanan ini, tengoklah ke arahku. Aku tetap dan selalu di sini, menyaksikanmu tumbuh.