Verás la gracia para despegar eso del pelo.

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from China
seen from China
seen from South Korea
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Yemen
seen from Taiwan

seen from Japan
seen from United States

seen from Sri Lanka
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Brazil
seen from Yemen
Verás la gracia para despegar eso del pelo.
Guys. Killing Cinta was not an example of bury your gays. That trope takes place when a gay character's death is metatextually treated as less important than a het character's. The unimportance of deaths in the pursuit of the rebellion is literally a central theme in this show!!! Cinta is the EIGHTH named rebel to die in this show!!! Not to mention Kreegr's men, or even the Narkina escapees. Every single one of these characters will die an uncelebrated yet ultimately important death in the pursuit of freedom!! Yes, killing a character after they've had a chance to be openly gay is a trope but they're treating it no differently than Brasso's death last arc. He too found love, and it didn't save him. The camera doesn't even link her death to vel in any way- her death is another symbolic death representing the danger of disorganization, infighting, naivety, not following orders, etc. Yes I wish some gay characters would get to survive onscreen and even live a happy life. But you're looking for it in the wrong show.
Lelah, Tapi Masih Ingin Percaya
Tuhan, aku menyerah. Di mana “yang terbaik” yang selama ini kuucapkan dalam doa, di antara malam-malam yang tak lagi punya nama? Di mana “yang terbaik” yang pernah kumohonkan pada-Mu tiga, lima tahun belakangan, sampai kata-kata itu sendiri terasa seperti batu yang habis digosok dan jadi tumpul?
Kalimat itu menggantung berulang-ulang di kepalaku. Beratus kali aku mengucapkannya dalam hati, beratus kali pula aku menelannya lagi sebelum sempat menjadi suara. Aku menipu pikiranku sendiri dengan kata sabar, dengan kata yakin, padahal di dalamnya ada ruang kosong yang minta diisi.
Aku pernah berada di satu masa ketika doa menjadi satu-satunya bahasa yang kumiliki. Aku menggumamkan “yang terbaik” dengan sisa napas yang bahkan tak sempat kuberi tanda tanya. Aku mengulangnya seperti mantra, berharap Tuhan mengerti yang tidak bisa kujelaskan.
Tapi di titik-titik tertentu, aku mulai ragu. Apakah aku benar-benar mendapat yang terbaik, atau hanya sedang belajar menelan kenyataan? Apakah doa ini masih berjalan, atau hanya memantul kembali ke diriku sendiri, tanpa ada yang menangkapnya?
Aku tidak kapok. Sekali lagi, Tuhan, aku mohonkan “yang terbaik” dari-Mu untukku. Aku mohon, meski tak tahu seperti apa rupa “terbaik” itu, meski aku tak tahu kapan akan datangnya. Aku mohon, dengan sisa yang masih ada pada diriku—napas, luka, dan sedikit keberanian untuk percaya lagi.
Finished Andor! It was amazing. Can’t stop thinking about it. So I made these
Untuk setiap rencana yang patah di tengah jalan, dan untuk setiap impian yang terpaksa harus kamu kubur dalam-dalam.
Gagal bukan berarti kamu selesai. Itu hanya sebuah tanda mati yang memintamu berbelok ke arah jalan yang baru.
Hari esok tidak pernah berwajah sama dengan hari ini. Selama detak dadamu belum berhenti, kesempatan untuk memulai kembali akan selalu mekar dengan warna yang baru.
Kamu tidak kalah, kamu hanya sedang bersiap untuk melompat lebih tinggi.
Menangislah jika itu meringankan, tapi jangan biarkan kecewa mengunci langkahmu selamanya.
Riuh dikepalamu, orang lain juga memilikinya. Hanya saja ketika berjalan berpapasan tampak biasa saja, tapi sebenarnya mereka sama demikiannya denganmu. Mahir nya manusia tidak kelihatan bahwa sebenarnya mereka saling berantakan.
@menyapamakna1
Cassian and Vel toasting to those they have lost.
Cassian toasting to Cinta because he knew Vel could not say it. So he said it for her.
Vel toasting to Ghorman and Ferrix because they hold memories of destructions for Cassian that he would rather not relive again. So she said it for him.
Then Vel toasted Cassian’s mother. Because Vel was there at Ferrix during the funeral. And because Cassian couldn’t not say it. So she said it for him.
Together, they mourn those they have lost, helping each other carry the heavier parts, keeping them named, helping each other name them.