Layar kosong, atau mungkin halaman kosong di aplikasi word adalah pemandangan yang paling sering saya lihat di tahun-tahun kuliah dan tidak aktif media sosial. Layar ini yang sering dilihat ketika capek dan ingin curhat. Kadang juga bikin depresi, ketika saatnya harus menulis dan tidak bisa menulis apa-apa.
Layar ini sempat jadi teman saya berkelu-kesah-sedih-susah atau saat terlalu senang. Rasanya nostalgis menulis lagi seperti ini di user interface word setelah keranjingan unggah tulisan di story Instagram.
Yah, tulisan saya juga berubah. Kalimatnya jadi pendek-pendek dan tiap paragraf hanya berisi 2-3 kalimat. Kentara perubahannya.
Setidaknya saat ini menulis juga usaha untuk mengasah rasa atau bahasa simpelnya berempati. Ngasah empati. Empati somatik, empati macam-macam. Ingin kembali mudah menangis in behalf of others. Lalu overwhelming dan kehabisan tenaga untuk megerjakan urusan sehari-hari.
Ah, sudah lama juga sejak saya frustasi memilih diksi yang nyaman untuk dipilih dalam mengungkapkan sesuatu.
Akhirnya apa ya, menulis ini juga sebagai usaha kalibrasi setelah banyak events yang menghancurkan hati dan diri. Bila dianalogikan dengan keadaan terkubur, saya ingin mengoreh tanah supaya bisa keluar dari liang ini. Bahkan untuk menyerah dan mencoba tetap menerima juga memaknai keadaan terkubur ini saya enggan. Selagi masih ada tenaga, walau nyala-padam, saya ingin tetap keluar dari liang ini. Kembali ke keadaan diri yang lebih baik, entropi yang lebih rendah. Jalan menuju lebih baik, tingkat kekacauan yang lebih rendah, toh juga sebuah fitrah bagi yang hidup.















