ciaaaaaat 🐣🐣🐣 #curugorok #latepost #friends #garut #swissvanjava (at Curug Orok)
seen from T1

seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from Austria
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Australia
seen from Austria
seen from Finland

seen from Türkiye
seen from Singapore
seen from Morocco
seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United States
ciaaaaaat 🐣🐣🐣 #curugorok #latepost #friends #garut #swissvanjava (at Curug Orok)
Air terjun #curugorok #garut #jawabarat (di Curug Orok)
Explore Garut #latepost #curugorok #garut #jawabarat #explore (di Curug Orok)
Terimakasih GPS (Garut bagian 2-end)
14 April 2012
Pagi yang cerah seakan mengantarkan perjalanan touring untuk destinasi selanjutnya, curug orok. Lokasi curug ini terletak di desa Cikandang, kecamatan Cikajang, kabupaten Garut, Jawa Barat. Alasan memilih lokasi ini karena sejalan dengan rute pulang ke arah Bandung dan paling dekat dengan lokasi kita sebelumnya di pantai Santolo.
Kalau di GPS sih bilangnya jarak tempuh sekitar 2 jam, nah kenyataannya jarak tempuh hampir 2 kali lipat, 4 jam dan bahkan lebih untuk bisa mencapai lokasi ini. Maklum buta arah dan akhirnya nyasar lagi. Lagi-lagi nyasar yang disuguhi panorama yang juara, gugusan pantai terbentang sepanjang mata memandang. Itung-itung mengobati penyesalan selama nyasar di jalan.
Untuk sampai ke curug Orog, perlu pengorbanan lebih. Stamina yang mulai terkuras dan cuaca yang sedikit tidak mendukung. Saat berkendara sempat datang mendung dan rinai gerimis, namun masih bisa ditoleransi jadi kita tetap memutuskan untuk berkendara.
Sesampainya di kecamatan Cikajang, kita melewati pertigaan Papanggungan dan kita mengikuti tanda jalan sampai dengan masuk ke gerbang “Wana Wisata dan Bumi Perkemahan Angling Darma: Curug Orok, Ci Kahuripan, Curug Kembar”. Disini banyak sekali wana wisatanya, namun kita hanya tahu yang menuju curug Orog. Saat itu setelah gerimis kita baru sampai lokasi gerbang, untuk menuju ke pelataran parkir kita disambut jalanan berbatu yang licin.
Sampai juga kita di parkiran curug Orok, dengan tiket masuk sebesar Rp 10.000,-/orang dan Rp 1000,-/motor kita melenggang untuk menuruni tangga menuju ke curug. Tak sabar kita melihat keanggunan curug. Sangat disayangkan timing kita tidak tepat, datang setelah hujan. Alhasil air dari curug berwarna coklat keruh tapi kesegaran udaranya dan turunnya kabut menambah keindahan serta kemistisan dari suasana curug saat itu.
Legenda curug ini cukup membuat miris, sebelum bernama Curug Orok, curug ini bernama Curug Sanghyang Prabu Gebur. Nama Curug Orok konon berasal dari cerita masyarakat setempat tentang seorang wanita yang pernah membuang bayi hasil hubungan gelap di curug tersebut pada tahun 1968.
Walaupun air curug ini keruh saat itu, namun disamping lokasi terdapat kolam pemandian gratis yang bersumber dari mata air alami. Berbeda dengan curug, air di sini sangat jernih. Tanpa banyak meracau lagi, bermainlah kita di kolam ini.
Jika sudah sejauh ini, baru sadar kita kalau waktu seakan terus memburu. Tibalah bagi kita untuk mempersiapkan perjalanan pulang dan mengakhiri destinasi garut ini.
Target sebelum jam 19.00 WIB kita sudah di kota Bandung, namun sepertinya itu tidak juga dicapai karena kita masih juga bergantung pada intuisi dan GPS tentunya.
Perjalanan pulang ke Bandung nampak lancar, kita memilih jalur selatan karena salah satu dari kami tak asing dengan jalur ini. Saat melewati lingkar nagreg aku sempat terkesima, karena jalan mulus ini lengang dan terkesan seperti arena balapan. Namun dikala arus lebaran jalanan ini tampak penuh dengan kendaraan.
Sekitar pukul 18.30 sampailah kita masuk di Bandung namun belum sampai di Bandung kota. Istirahat, sholat, dan melepas pegal menjadi pilihan kita. Malam semakin bergerak larut, kita tidak ingin sampai di Bandung tapi terlalu larut. Terus bergerak ke arah Bandung menjadi pilihan terakhir kami dengan muka tidak karuan dan badan yang semakin pegal-pegal.
Untung saja, sekitar pukul 21.00 atau mungkin lebih sampailah kita di Kota Bandung. Niatan langsung istirahat dari perjalanan ini pun kandas, keseruan dari kita nampaknya belum rela untuk kita akhiri. Akhirnya kita memutuskan kumpul, makan bersama, dan membicarakan kesan dan destinasi selanjutnya. Akhir dari beribu terimakasih kita adalah pada alat canggih bernama GPS ini, kesesatan bagi sebuah destinasi akan indah saat sampai di destinasi yang menjadi pengharapan.
Perjalanan touring Garut ini nampak singkat, dari awal yang tidak saling kenal menjadi sebuah perkumpulan yang memberikan banyak kesan, tantangan, pengalaman, dan juga sahabat-sahabat baru.