#daripadadilemari : D’ Ustaz - Muaz Malik
“Pasrah memang begitu indah, apalagi setelah kita patah”
Awalnya saya tidak berharap banyak pada buku ini. Sebagai orang visual, saya memang “Judge book by it’s cover”. Dan buku ini, secara visual sebenarnya kurang menarik saya. Tapi kemudian ada dua hal yang membuat saya akhirnya membawa pulang buku ini. Yang pertama adalah karena buku ini diterbitkan oleh The Panas Dalam Publishing, dan termasuk buku-buku awal yang diterbitkan penerbit ini. The Panas Dalam Publishing adalah lini produksi baru di bawah asuhan Pidi Baiq, seniman favorit saya. Hal kedua yang membuat saya tertarik adalah nama tokoh utama si Ustaz, yang sama dengan nama adik laki-laki semata wayang saya. hehe Alasan yang sangat personal. Tapi apa yang saya dapatkan dari buku ini sungguh tidak terduga.
Secara umum D’ Ustaz adalah novel, dengan 7 bagian cerita. Semakin ke dalam semakin terbuka, sambung-menyambung dan berkait kelindan kejadian-kejadian menyusun cerita. Tentang seorang Ustaz yang tidak ingin dipanggil Ustaz. Yang menyadari kelemahannya, tapi justru kuat karena itu, ketawakkalan dan kesadaran akan kebesaran hanya milik Allah.
Ustaz adalah seorang musisi keliling yang manggung dari cafe ke cafe, yang karena suatu takdir menjadi guru mengaji di sebuah cafe untuk para pegawai di cafe tersebut. Banyak hal yang dialami Ustaz selama ia mengajar ngaji, ia bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang, menghadapi berbagai macam kondisi susah dan senang. Terlibat perkelahian dengan preman, menghadapi masalah rumah tangga orang lain, masalah klenik, dan lain-lain. Tapi yang menguatkan Ustaz adalah pesan-pesan yang ia ingat dari Yai Umar, gurunya Ustaz saat belajar agama dulu.
Banyak pelajaran, hikmah, dan kebijaksanaan yang saya petik dari sini, tapi itu semua tidak terasa menggurui, karena dituturkan dengan cara yang tidak langsung, seperti yang menasehati itu Yai Umar sendiri, atau melalui kejadian-kejadian yang dialami Ustaz. Jeritan-jeritan batin Ustaz juga kadang bisa mengiris hati kita yang penuh hina.
Cerita yang bagi saya sangat berkesan adalah cerita awal, mengenai ‘empat puluh satu guru’. Empat puluh adalah jumlah murid Ustaz di cafe. Ustaz merasa justru mereka adalah guru bagi Ustaz, mereka yang empat puluh itu, ditambah satu di akhir cerita. Saya kadang merasa ada dalam keadaan demikian, keadaan diandalkan, menjadi panutan dalam sesuatu, berkesempatan memberikan sesuatu yang saya punya. Persoalannya, hal-hal itu sangat berpotensi meninggikan hati. Ustaz mencoba membalik keadaan dengan menjadikan dirinya murid dari empat puluh satu orang yang ia ajar. Ia mengajar mengaji, ia bertambah pandai juga mengaji. Lewat cerita-cerita mereka, Ustaz belajar banyak hal mengenai kehidupan. Jadi, Ustaz merasa dia yang dapat banyak pelajaran. Apakah demikian juga yang kalian rasakan wahai kawan-kawanku yang menjadi guru? Ah, beruntung sekali kalian.
Ustaz, secara bahasa adalah pendidik. Dari D’ ustaz saya banyak belajar kembali mengenai dakwah, hidayah, hikmah, dan pasrah. Bahwa dakwah tak perlu menunggu sempurna, hidayah itu datang dari Allah, hikmah itu tersebar di mana-mana, dan pasrah pada Allah setelah berusaha yang terbaik adalah suatu wujud keimanan. Demikian #persekutuanbuku kali ini, Jazakallah Ustaz, telah mengantarkan hikmah-hikmah ini, #daripadadilemari saja alhamdulillah saya bisa bawa ke sini.












