Ayah Kecil
— Terjemahan sajak Li-Young Lee oleh M. Aan Mansyur
Aku menguburkan ayahku di angkasa. Dan burung-burung memandikan dan menyisir rambutnya setiap pagi, dan menarik selimut hingga dagunya setiap malam.
Aku memakamkan ayahku di bawah tanah. Dan anak-anak tangga hanya bisa digunakan memanjat ke bawah, dan utuh seluruh bumi menjelma rumah yang kamar-kamarnya adalah waktu, yang pintu-pintunya terbuka pada malam hari, menerima tamu demi tamu. Kadang-kadang aku melihat masa lampau mereka menghamparkan meja untuk pesta pernikahan.
Aku menanam ayahku di jantungku. Ia tumbuh dalam diriku, anak laki-lakiku yang asing, urat-daging kecilku yang tidak suka minum susu, kaki-kaki kecil yang tenggelam dalam arus malam yang berlalu, detak mata air kecil yang memancar dari kobar api, buah-buah anggur kecil, orang tua bagi manis minuman masa depan, anak laki-laki buah-buahan dari anak laki-lakinya sendiri, ayah kecil bekal hidupku.
Membaca sajak ini, saya menjadi ingat momen waktu menguburkan Aba, awal Juli 9 tahun lalu. Saya di sana, masuk di liang itu mengantarkan Aba ke peristirahatan terakhirnya di bumi.
Puisi ini, entah bagaimana cukup bisa menggambarkan apa yang dirasakan manusia-manusia seperti saya yang jam segini masih menulis/membaca di semacam Tumblr ini. Haha malam adalah memang teman terbaik untuk bersendiri. Juga terbang jauh ke masa lalu, dan mengingat mereka yang jauh. Orang tua, kerabat, kawan baik dan apapun yang ingin dikenang.
Sementara ‘burung-burung’, orang-orang di luar yang tidak tahu apa yang sebenarnya dihadapi hanya bisa ‘berkicau’. Dan berlalu, menjalani kehidupannya, beraktivitas pada siang hari, dan tidur dengan nyenyak di malam hari.
Ada masa-masa memang di mana saya merasa kesal dengan diri sendiri. Atas apa yang terjadi, keadaan yang membuat saya hanya bisa melakukan dialog imajiner dengan Aba. Tentang apa yang sebaiknya dilakukan laki-laki dewasa dalam keadaan tertentu. Itupun tanpa ada jawaban karena Aba sangat pendiam sekali. Haha. Tapi kemudian saya sadar bahwa keheningan malam semacam ini, bisa mendewasakan juga jika mereka diajak berdiskusi dengan baik. Salah satunya lewat kegiatan menulis ini.
Omong-omong, Aba akrab sekali dengan tanah. Beliau cukup lama menjadi dosen pertanian, dan waktu kecil saya suka membolak-balik bukunya tentang ilmu tanah. Juga majalah Trubus dan kamus istilah pertanian. Tanah mungkin memang tempat paling hangat di bumi. Dan meskipun Aba jauh di sana, di dalam tanah yang belum pernah saya injaki lagi setelah pemakamannya, saya menguburkan Aba di dalam hati.
Aba kecil, bekal hidupku.
Setahun yang lalu saya menemukan tulisan ini. Dan hari ini saya coba bacakan. Bisa didengarkan di sini.














