Susah tidur, cerita aja kali ya. Banyak yang nanya nih, kok diam-diam udah punya pacar, kenapa diam-diam udah lamaran padahal ga pernah keliatan bareng siapa-siapa. Bukan gak mau, tapi waktu itu, kemarin, dua tahun yang lalu ; kita berdua belum bisa.
Dua tahun kenal, oh nggak. Lebih. Dia mutualku di Twitter sejak 2017 atau 2018 (lupa karena dia kinda ia alias sering ga aktif, aktifnya bulan puasa karena mau ikut/liat #sawityowit, anak Twitter tua mana suaranya?!)
Berawal dari sini (pic tertera) kita tukeran ID Instagram, beberapa tahun berlalu (sehhh), dia cuma jadi penonton story, bahkan mungkin nggak ya wkwk, kalau postinganku lewat dia like, aku inget usernamenya. Udah cuma segitu.
Sampai akhirnya selesai seminar hasil studi S2ku di 2020, aku istirahat, bosen nonton Kdrama aku coba install game yang waktu itu diinstal semua orang, PUBG.
11 12 Mobile Legends yang aku install juga, dengan skill yang yah gitu deh. Main sama adik kost, temen kampus, share result di story.
Baru deh dia nimbrung reply story Instagram yang masuknya ke Direct Message, minta ID, main bareng berbulan-bulan dan janjian di Whatsapp kalau mau login, ditungguin di lobby (hahaha). Dia pernah main bareng temen-temen S2ku, yang entah temen-temenku itu sekarang notice atau engga. Idk, but if you know, you really know. Yes he is.
Dia bilang kalau dia ya gitulah gausah dijelasin wkwk, intinya dia ga berniat cuma jadi pacar. Dia juga udah di masa yang cukup pacaran sama kaya aku, udah bosen banget, udah me time jadi berkurang, yang didapat cuma sakit hati wkwk akhirnya yaudah, dua tahun berkabar tapi ga ketemu.
Suatu hari (?) hmm sebelum masuk waktu subuh, iya dulu begadangnya sampai subuh, kadang aku tidur dulu, trus dia bangunin ngajak main game (karena aku minta bangunin atau kebangun sendiri trus pengen ikut main, gabut banget anaknya). Waktu itu dia bilang kalau ada yang mau dia omongin tapi lewat telepon. Ga ada kepikiran apapun sih selain kepikiran dia mau ngomong "aku tuh sebenernya uda punya pacar, jangan baper yaa" hmm maaf ya aku emang orangnya suudzon.
Pertanyaan orang lain yang juga selalu ditanyain ke diri sendiri :
KOK BISA ? GIMANA KALO SUAMI ORANG, GIMANA KALO DIA VIDEO CALL PAKE JOKI? EMANG BENERAN TINGGAL DI KOTA X? MAHASISWA UNIV Y?
Tenang, kalau kutanyain ke diriku sendiri sekarang, aku bisa jawab. Kenapa?
1. Aku orangnya sedia payung sebelum hujan, sebelum aku terlanjur sayang, aku harus pastiin identitasnya. Harus. Ga lucu patah hati karena orang yang kita gatau dia ada di bumi atau bukan, ada di bumi belahan mana. Jangan -jangan dia alien.
Di zaman yang canggih meski ga canggih-canggih amat ini, mudah bukan mencari data seseorang bermodal nama lengkap + tanggal lahir? Cek ristekdikti segala buat tau status mahasiswanya, beneran udah selesai kuliah atau belum, bahkan dia mahasiswa universitas itu atau bukan (btw aku udah cerita ke dia kalo di awal aku sempat cek ini dan dia geleng-geleng karena aku ga percaya). Ada satu lagi takdir baik yang bikin aku gak mundur. Adik perempuannya adalah teman sekelas istrinya temanku sewaktu SD dan rumah mereka berdekatan. Aku semakin yakin dia itu manusia, ada, dikenali beberapa orang dekatku, dan ya benar dia orangnya, bukan orang lain.
2. Waktu itu, aku baru putus. Jadi aku merasa kalau aku dikasih bahagia bahkan walau cuma sedikit, sekecil apapun aku bersyukur. Bahkan kalo cuma dikasih temen hahahihi. Kalau nanti orang ini, bukan orang yang ditakdirkan buat aku, yaudah berarti bukan. Pasti dikasih jalan untuk pisah seperti yang dulu-dulu itu. Jadi aku melangkah pelan-pelan, maju, dengan kaki yang ringan. Aku udah ga takut patah hati. Udah selesai dengan diri sendiri.
3. Aku melewati 2 tahun tanpa lihat orang ini langsung, ga bisa jalan-jalan, makan, nonton film, karaoke, photobox, hal apapun yang orang biasa lakukan. Itu semua ga bikin aku ngerasa terbebani, karena aku punya me time lebih banyak. Dia suka main game, aku suka nonton Drama. Kita berdua menghargai waktu kita masing-masing tanpa saling melupakan kalau ada kabar yang harus ditukar setiap hari.
4. Dia ngenalin aku dengan teman-temannya disana. Akupun sama. Meski aku belum berani speak up ke orang tuaku, seperti yang udah-udah ujungnya begitu, aku simpan dia selama dua tahun. Diapun juga. Sampai akhirnya untuk pertama kali aku berkomunikasi dengan Ibunya, lalu dia dengan Ibuku. Keluarganya yang ramah dan tidak terlihat hanya basa-basi juga bikin aku yakin dia untuk aku.
Cerita ini panjang, kalau di TikTok aku gatau jadinya berapa part, termasuk gimana perjuangan dia datang baik-baik sendirian, ketemu aku dan orang tuaku, langsung melamar, ga datang kerumah bawa martabak tapi bawa cincin.
Kalau ada yang bilang, kenapa bukan orang yang dekat, kenapa harus mencari jodoh sejauh itu? Aku selalu bilang, sejak dulu aku ga pernah nyari jodoh, bukan lagu Wali yang harus minta cariin sana-sini siapa yang mau nikah dengan orang seperti aku.
Aku ketemu orang ini gak sengaja. Lebih tepatnya takdir baik Allah. Toh aku pernah punya hubungan dengan orang dekat, satu kota, tapi karena takdirku bukan orang itu, Allah bilang tidak pas, ya memang tidak.
Aku cuma bisa berdoa, menjelang hari bahagia aku dan dia kami bisa sabar melewati masalah kecil yang biasanya jadi besar bagi sebagian orang yang akan melalui jenjang ini.
Aku tahu mungkin tulisan ini mudah sekali ditemukan, bisa jadi juga ; udah ada yang menceritakan ulang karena aku pernah menceritakan ini ke beberapa orang, dan aku ga masalah. Menurutku, cerita ini mirip happy ending yang cuma ada di drama. Tapi percayalah sebenarnya aku tidak pernah seyakin ini, kalau berakhirnya disini 😊
0:28 WIB 25 Mei 2021, Rengat, Indragiri Hulu, Riau.