Cerpen : Mendadak Semangat
Tepat pukul dua siang, gadis berkerudung itu terjaga dari tidur siangnya. Sakit kepalanya sudah hilang. Dia tertidur sepulang dari mengajar pukul dua belas tadi. "Masih harus mengajar anak2 tadi lagi,hmm kenapa mereka belum datang?"
Selesai bersiap dia melangkah menuju ruang paviliun rumahnya. Ruangan bercat putih itu masih sepi, tak ada seorangpun hanya tas - tas mereka saja yang tergeletak di lantai.
"Pasti masih pada jajan,kebiasaan!!" Ceracaunya sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2.30 lewat banyak.
Mereka datang.
Tertawa, penuh senyuman.
"Yah ka yang les dikit banget"
"Iya ka pada males mereka itu, bosen katanya" mereka bersahut-sahutan sebelum ditanya kemana kawan-kawannya?
Tiba-tiba saja gadis itu merasa kosong, pikirannya tak tentu arah.
"Mungkin karna caraku ngajar mulai buat mereka bosan yaa...harus gimana lagi ngajarnya supaya mereka ga bosan?" Tanyanya pada diri sendiri.
Dia tetap saja seperti biasa, tersenyum lalu melanjutkan materinya. Tentang gerak dan gaya.
Ia mulai mempraktekan benda yang dikenai gaya hingga mereka bisa membuat definisi sendiri apa itu gaya?
Lega, syukurnya. Entah kenapa mereka tak bilang bosan dan justru semangat juga ceria memerhatikan penjelasannya.
Lalu selang 20 menit kemudian mereka kembali lesu saat gadis itu memberikan beberapa pertanyaan pengayaan. Mereka menjawab, lalu ketika sang gadis kembali bertanya "apakah ada yang ingin ditanyakan?"
Tiba-tiba saja seorang dari mereka bertanya?
"Kak, kenapa Palestina terus diserang oleh Israel? Kenapa di Palestina selalu ada perang?"
Gadis itu tertegun mendengar pertanyaan anak itu, lalu dengan cepat ia menjawabnya " karna mereka ingin mengambil alih tanah Palestina?" Jawabnya singkat, khawatir sang murid tidak paham jika ia menjelaskan lebih banyak.
Ternyata pertanyaannya tak berujung disitu, mereka semakin semangat bertanya dan dengan mimik serius juga terbakar emosi mendengarkan sang gadis bercerita.
"Terus gimana cara kita nolong mereka ka?"
"Kenapa mereka gak pindah ke negara lain? Atau tinggal di rumahku aja kak?"
"Kenapa Palestina saat perang cuma pake batu padahal Israel pake tank, tembakan, bom?"
Dan masih banyak lagi. Gadis itu terbengong-bengong sore itu. Dulu saat seusia mereka dia tidak tahu menahu soal Palestina, bahkan baru mengerti saat duduk di bangku SMA. Tapi, sore ini...murid-murud yang paginya membuat dia sakit kepala membuatnya mengucap syukur. Anak-anak yang kelebihan energi dan tidak betah proses belajar yang hanya menjawab soal ini membuatnya tersenyum bangga.
"Murid-muridku ternyata punya rasa kepedulian tinggi terhadap sodara semuslimnya di belahan bumi lain, bahkan berkata 'saya mau ke Palestina kak, mau bantu sodara kita disana' sambil bangun dari duduknya dan meletakkan tangan kanannya di dada."
"Ah seru nih lesnya, besok les lagi lah gak jadi berenti." Ucap anak-anak itu dengan mata berbinar.
Gadis itupun tersenyum bahagia.
-
-
-
Bahagia memang tidak pernah serumit yang orang kata. Bagi seorang guru, melihat muridnya tersenyum dan mengangguk tanda mengertipun sudah cukup melegakkan juga membahagiakan. Bahagia bukan saja soal hari ini makan pakai lauk apa? Menemukan banyak PR baru untuk nantinya bisa dibagipun sudah membuat senyum-senyum bermekaran.
Semoga gadis itu dan kita semua bisa senantiasa semangat dalam menebar kebermanfaatan diri. Tidak perlu menjadi siapa-siapa jika dengan bukan siapa-siapapun kita bisa jadi sosok bermanfaat.
Semangat menebar kebaikan ya good fighter semoga kelak dari setiap benihnya tumbuh menjadi tujuh dan dari tujuh itu menjadi seratus. Selamat berbuat baik, selamat menjemput kebaikan, dan semoga dipertemukan dengan orang-orang baik. :)