Jika Aku Berusia 18 Tahun [Part 2]
Lanjutan dari [part 1]
“Kak Fabian!” seru seorang temanku dengan lantang sehingga memecah awang-awangku yang sesaat membuatku lupa bahwa aku sedang berada di lapangan sekolah, taman kanak-kanak tempatku belajar. Tanganku masih menarik kemeja putih kakak laki-laki berkacamata yang ada di hadapanku.
“Oh, namanya kak Fabian,” gumanku di dalam hati.
Orang yang berbicara lembut dan memiliki sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang yang bernah kutemui. Orang yang membuatku tersadar bahwa masih ada orang yang mau menerima kekuranganku dan sama sekali tidak mengejekku. Yaitu kak Fabian.
Melihatnya merangkul siswa-siswa taman kanak-kanak, bernyanyi dan bermain bersama kami semua, membuat anganku melambung tinggi. Aku ingin menjadi kakak sebaik kak Fabian. Seakan tubuh ini ditarik dalam dimenasi yang berbeda, kuterbangkan pikiran dalam dunia fantasi, dimana aku menjadi seorang kakak berseragam abu-abu berusia 18 tahun seperti kak Fabian.
**********************************************************************************
Dalam angan, kulihat diriku sudah tumbuh menjadi seorang pelajar SMA berpakaian abu-abu. Aku berdiri tegap di tengah kelas. Kudapati diri ini bersama sejumlah kawan-kawan untuk membicakan sesuatu yang sangat serius.
“Teman-teman, hari Rabu minggu depan kita akan mengadakan bakti sosial untuk komunitas teman-teman disabilitas.” Aku memimpin rapat sebuah komunitas peduli lingkungan. Aku bergabung di perkumpulan ini karena kak Fabian, kakak yang sangat kukagumi dan menginspirasi hidupku, juga merupakan anggota komunitas peduli lingkungan.
Dalam perkumpulan tersebut, semua teman-temanku sangat baik. Tidak ada lagi cibiran atau ejekan atas kekuranganku. Seiring berjalannya waktu, aku memiliki kemampuan berbicara yang jauh lebih lancar. Tak ada lagi teman-teman yang sengaja menjauhiku saat aku berusaha bergabung bermain sepak bola. Tiap orang tua siswa banyak yang emmbicarakanku, bukan membicarakan yang jelek, tetapi mereka meminta putra mereka bergaul denganku, karena aku anak yang pintar. Yah, aku dapat diterima dengan baik di lingkungan sosial.
Setiap pulang sekolah aku mengunjungi rumah singgah bagi anak-anak disabilitas. Mereka sama seperti diriku. Aku yakin mereka bisa hidup jauh lebih baik dari saat ini dan memiliki harapan kembali akan hidup yang tidak adil untuk mereka. Au melewati semua masa di mana semua ketidakadilan itu berpihak padaku. Kuterima semua hinaan karena keterbatasan yang aku sensiri tak pernah memintanya.
Di rumah singgah ini aku merasa nyaman dan seakan aku memiliki kawan seperjuangan, yang dikatakan banyak orang tidak beruntung. Aku bermain dan bercengkrama dengan anak-anak rumah singgah.
“Hai, adek-adek. Apa kabar?” sapaku.
Seketika hening. Mereka hanya memandangiku. Aku berusaha mengerti bahwa tak mudah bagi mereka untuk berbicara dan menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan. Aku yakin bahwa mereka pasti bisa memahami apa yang akan kukatakan.
“Adek-adek, saya tahu bahwa kita semua sedikit berbeda dengan kebanyakan anak-anak di luar sana. Tapi yakinlah bahwa kita sama dengan mereka. Sama-sama makan nasi, sama-sama menghirup udara secara bebas, dan sama-sama berhak berkawan dengan siapapun. Bagiku, kalian semua adalah orang-orang yang luar biasa.”
Kalimat-kalimat mengalir begitu saja dari mulutku, walau terkadang aku masih terbata-bata dalam menyampaikannya. Mirip seperti apa yang dikatakan oleh Kak Fabian.
Dengan usiaku sekarang, 18 tahun, banyak hal yang bisa kulakukan. Aku mengadakan penyuluhan di berbagai sekolah, yang kesemuanya adalah berkampanye mengenai kaum disabilitas adalah sama seperti orang pada umumnya dan kami memiliki hak yang sama dalam hidup ini.
Sama seperti Kak Fabian, aku berusaha menjelaskan kepada anak-anak yang mengejek temannya yang terlihat berbeda. Aku tak ingin anak disabilitas menjadi terasingkan atau anak yang pada umumnya merasa sok dan lebih diantara lainnya.
Kesemua itu adalah jiwa kak Fabian yang selalu ingin kuterapkan dalam hidupku.
*******************************************************************************
Jika aku berusia 18 tahun seperti kak Fabian, aku juga ingin melakukan banyak hal yang dapat membantu kaum disabilitas dapat diterima di lingkungannya, seperti apa yang kak Fabian lakukan.
[selesai]










