Lost wallets and emotions
Bismillah, hari ini(07-08-2017) saya merasa sangat diberkati seperti blessed banget lah pokoknya, Alhamdulillah.
Kenapa? Karena hari ini saya mendapatkan kembali dompet saya yang telah hilang beberapa hari ini, saya mencarinya kesana kemari di seluruh bagian rumah, mencari di kamar, di ruang tamu , di dapur , di tempat menjemur cucian, bahkan kedalam tempat yang tidak mungkin sekalipun, yaitu di dalam kulkas.
Sebenarnya saya baru melakukan pencarian itu kemarin hari, disaat saya ingin pergi keluar untuk berkunjung kerumah mbah(nenek/oma/grandmother) saya di suatu daerah di kota balikpapan yang bernama new village atau bahasa kerennya kampung baru. Pada saat itu saya merasa kesal sekali seperti orang panic, rasa campur adik eh aduk mau marah tendang semua barang yang menghalangi jalan didepan saya saat sedang mencari dompet di dalam rumah. Seperti anak kecil. Ya memang, saya sadar hal itu kekanak-kanakan bahkan saya tahu hal itu tidak berguna sama sekali tapi saya tetap saja melakukannya. Mungkin karena sekarang saya belum bisa mengendalikan emosi yang bergejolak di dalam diri saya sehingga menjadikan objek disekitar sebagai media penyalur emosi , saya tendang , pukul, lempar, tinju, sikut, uppercut, bicycle kick, german supplex barang barang di sekitar saya sampai saya puas. Namun nyatanya setelah melakukan itu semua saya belum puas namun saya sudah lelah dan akhirnya saya menyerah lalu melupakan hal hal yang barusan.
Kemudian saya putuskan untuk melanjutkan hari dan tetap pergi kerumah mbah saya mengendarai motor dengan tidak membawa dompet yang dimana isi dompet itu adalah stnk, dua buah sim , ktp , kartu anggota perpustakan smp, dan beberapa lembar uang. Dengan rasa was-was di tilang saya meluncur ke rumah mbah bersama adik saya, Alhamdulillah di perjalanan tidak ada razia. Sesampainya di rumah mbah saya langsung di sambut oleh nenek, kai, bule, pale, dan ibu saya yang sudah duluan sampai ketempat mbah. Tujuan saya kerumah mbah kali ini adalah untuk membantu hal hal kecil yang bisa saya bantu untuk mempersiapkan acara arisan keluarga. Namun sebelum melakukan hal-hal tersebut saya memakan dua bungkus nasi kuning yang dibeli mbah saya tadi pagi seharga enam ribu rupiah satu bungkusnya. Ya , kebetulan saya sangat suka nasi kuning. Jadi menurut penilaian saya nasi kuning itu enak, sebenarnya satu bungkus sudah cukup kenyang namun disuruh habiskan dua bungkus sekaligus, disuruh tambah lauk sendiri dari dapur pula. Setelah makan saya membuang bungkusnya di tempat sampah dapur. Setelah itu arisan dimulai setelah ashar, saat semua anggota keluarga yang ikut arisan datang dan berakhir setelah semua yang arisan pulang setelah maghrib. Lalu saya pulang ~
Langsung skip ke saat saya menemukan dompet saya, karena saya sudah malas untuk mengetik lebih lama lagi haha.
Nah pada hari itu saya sudah tidak peduli kepada dompet saya yang tidak ketemu ataupun hilang pun saya sudah agak menyerah sambil berharap dompet saya ketemu. Kemudian tibalah saatnya untuk menjemput adik saya pulang dari les lalu adik saya memberitahu bahwa dompet saya berada di dalam tas lesnya dan saya merasa senang tentunya. Lalu membeli tahu bakso .
Jadi intinya, don’t lose hope to your god keep your trust. Don’t be like me who cant resist my emotion which is so childish. God does not sleep bruh. We must respond to every event that happen in our life wisely. Maybe it’s a test or maybe its our punishment of any bad things we made. But most importantly we can go through all those events with ikhlas . Ya Rabbi, forgive me and thanks for everything in my life.















