Catatan Kaki dari Negeri di Atas Awan, Dieng
Gak perlu ahli sejarah ternama untuk tahu bahwa dataran tinggi terbesar di dunia itu, ada di Nepal dan Tibet. Sementara itu kawasan Dieng masuk dengan bangga di nomor 2.
(perjalanan dilakukan pada 31 Juli – 2 Agustus kemarin, namun tulisan baru diposting, yang nulis galau mau posting soalnya)
Memulai hari dengan padat, perjalanan yang telah lama direncanakan dengan segala keribetannya lantaran terlalu banyak acara yang harus dihadiri, akhirnya tibaa. Meeting Point, Stasiun Gambir di bilangan Medan Merdeka. Pasukan yang saya tunggu Pandu, Priyo, Farah, dan Chacha. Pasuka huru-hara kehidupan saya, yang secara bergantian bergiliran meramaikan berjalannya hari-hari saya. Tim Piknik Dieng kali kemarin, menyusut secara perlahan lantaran ada sejumlah rekan yang membatalkan rencana perjalanannya. Mundurnya seorang rekan saya yang bertindak sebagai ‘pemandu wisata’, sempat membuat surut niat ini sih. Tapi hari terus berjalan, waktu terus berputar seiring bulan berpindah tempat, dan biaya sudah dibayarkan, jadi Piknik Dieng kali ini harus terlaksana. Mengusung semangat 45, saya mencoba mengambil alih peran sebagai Pemandu Wisata Perjuangan a.k.a dadakan, padahal belum pernah juga sih.
Menggunakan moda transportasi darat, Kereta Api, dan di kelas eksekutif kamu memulai perjalanan kami. Tujuan pertama adalah Stasiun Purwokerto, dan setelah kurang lebih 5 jam perjalanan tibalah kami di kawasan ‘ngapak’ (bukan dalam artian negatif ya). Belum selesai perjuangan menuju lokasi, keluar stasiun mas bersenyum kecut dari travel menjemput kami dengan mobil sewaan. Aaahhh, perjalanan yang memang tidak mulus sama sekali, 3 jam kami harus berkelok-kelok di jalan penuh hambatan serta butiran debu baru sampailah di kawasan dataran tinggi Dieng. Oh iya sepanjang perjalanan, memasuki waktu subuh, kami juga menyempatkan diri mampir di musholla terdekat. Jadi untuk Priyo, Chacha, Pandu dan Farah bisa terlebih dahulu menunaikan ibadah sholat. Sedangkan saya cukup bersantai di kawasan musholla akibat mabuk perjalanan. Anyway, ini bukan sekedar perjalanan biasa, supir travel kami memiliki hobby untuk menyetir tanpa rem soalnya, jadi seluruh peserta perjalanan kali itu saat pemberhentian di musholla merasa kesenangan luar biasa. Hahaha
Voilla, Piknik Dieng untuk Festival Budaya Dieng 2015 (Dieng Culture Festival 2015). Udara yang luar biasa dingin memaksa kami untuk berjalan-jalan tanpa membersihkan diri, untuk saya, farah dan chacha, masih lengkap dengan riasan malam sebelumnya. Terlalu malas mencuci muka. Tapi biarlah… Mie Ongklok yang menjadi makanan khas daerah dieng menjadi pilihan kami, namun ternyata makanan seperti ini tidak cocok untuk saya, farah, dan chacha. Makanan tradisional yang kami pilih cukup mie Instan lengkap dengan telor rebus. Kembali ke penginapan seadanya namun ternyata memiliki fasilitas air panas (yang baru kami ketahui kemudian), kami memutuskan untuk beristirahat. Ooh iya karena antusiasme yang tinggi setiap ada acara Festival Budaya Dieng setiap tahunnya, harga penginapan di sini melonjak hingga 2 kali lipat. Saya mendapat penginapan dengan tarif 300 ribu per malam (bisa diisi 3 orang), dan biasanya di luar event tarif penginapan hanya 150 ribu per malam. Penyewaan mobil atau motor juga, mengalami kenaikan signifikan dibanding hari biasa.
Aahhh piknik itu memang selalu menyenangkan, apalagi kalau bepergiannya bersama kawan-kawin terkasih. Kawasan dieng yang terletak di 2 kabupaten yakni Banjarnegara dan Wonosobo (*cmiiw), menyajikan wisata sejarah dan budaya yang menarik. Komplek Candi Arjuna dan sekitarnya menjadi tempat kami memuaskan hasrat akan dataran tinggi nan hijau, dengan sentuhan ramah penduduk sekitar. Candi Gatot Kaca, Candi Semar, dan Candi Srikandi, merupakan beberapa candi yang tersebar di kawasan dieng yang kami nikmati. Hamparan pemandangan luas bagai negeri di atas awan memang menyejukkan pandangan mata kami hari itu. Tak puas menikmati kawasan seputar Candi, kami melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki ke kawasan telaga warna, serta sejumlah kawasan wisata sekitar telaga warna yang saya tak hafal namanya.
Masih dengan tenaga yang seadanya, belum cukup beristirahat setelah terguncang beberapa jam di perjalanan kami berbagi keriangan bersama. Menikmati sajian makanan dari penduduk sekitar mulai dari manisan carica, dan jajanan anak-anak. Bunda chacha yang palng doyan jajan! Mungkin disebabkan jarak perjalanan kaki kami yang bisa mencapai 14 kilometer (*cmiiw), jadi perut-perut kelaparan juga minta diisi sesering mungkin. Bunda chacha juga sih yang paling sering teriak bertanya “ini kapan sih sampenya?”, hahahaha. “maklum ci, kan si bunda emak-emak”, kata si farah.
Salah satu puncak acara dalam Festival Budaya Dieng 2015 ini adalah pelepasan Lampion. Filosofi di balik pelepasan lampion ini adalah harapan yang kita sampaikan bisa terbawa ke langit sebagaimana lampion diterbangkan, lalu dikabulkan. Manis romantis malam itu berjalan, banyak mereka yang berkumpul mulai dari grup pertemanan, pasangan, atau keluarga yang memenuhi kawasan kompleks Candi Arjuna untuk bersama-sama menerbangkan lampion. Pada malam itu juga saya beserta tim Piknik Dieng merasakan betapa sesungguhnya kami beruntung, bisa menikmati acara kali ini dan merasakan berkat Tuhan yang luar biasa. Melihat kawan-kawin mengembangkan senyum merekah menerbangkan lampion, yang sebenarnya tidak mudah, juga membawa kegembiraan tersendiri di hati saya. Toh seperti kata pepatah, kegembiraan itu meningkat saat bisa dibagi bersama orang lain bukan? Apalagi yang tidak kalah menarik dari acara malam itu? kesempatan bisa piknik tentunya, lantaran banyak mereka yang memilih bersembunyi di balik meja kerja, beralasan mengurus pekerjaan, serta sejuta alasan lainnya. Bukan bermaksud nyinyir, tapi sebegitu bahagianya kah kalian-kalian yang membanggakan pekerjaan sehingga tidak bisa piknik? Pada akhirnya kalian Cuma bisa nyinyir sama saya yang suka piknik.
Yang tidak boleh ketinggalan lagi disambangi kalah berkunjung ke dataran tinggi Dieng ini adalah puncak sikunir, yang katanya kita bisa benar-benar menikmati Golden Sunrise. Foto sunrise di atas diambil oleh Pandu yang memilih menembus kedinginan di jalan gelap, dan menempuh perjalanan sepi ke puncak sikunis. Terima kasih pandu, jadi kami bisa menikmati indahnya puncak sikunir. Dan masih dalam rangkaian acara Festival Budaya Dieng 2015, acara “Pemotongan Rambut Gimbal” juga menjadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu. Rambut Gimbal ini tidak langsung muncul saat anak-anak di kawasan ini lahir, namun seiring berjalannya waktu rambut gimbal ini mulai terbentuk. Anak-anak gimbal yang ada di kawasan ini, setidaknya yang saya temukan saat Piknik Dieng memiliki mata berwarna biru, cokelat, atau warna-warna cerah lainnya. Warna bola mata mereka yang asli tanpa menggunakan lensa kontak, membuat saya terpana.
Untuk melakukan pemotongan anak rambut Gimbal, sang orang tua dari anak-anak gimbal itu harus mengabulkan apapun permintaan sang anak. Namun menurut cerita dari seorang pemandu wisata yang saya temui saat itu (yang dulu pernah berambut gimbal), lantaran masih anak-anak permintaan kebanyakan dari mereka pun biasa saja, mulai dari binatang ternak seperti kambing, sekeranjang buah, bukan mobil atau kendaraan elektronik yang luar biasa mahal. Sang pemandu wisata berseloroh, “kalau dulu saya udah ngerti duit, mungkin mintanya yang macem-macem”.
Dengan muka terbakar, padahal udara di kawasan dingin itu luar biasa dingin, panas terik di hari kedua kami di Dieng, kami kembali ke kawasan kompleks Candi Arjuna untuk mengikuti ritual pemotongan rambut dieng. Sebelumnya tentu saja kami menikmati sarapan khas yang dibuat oleh penduduk sekitar, serta minuman Purwaceng yang juga menjadi ciri khas kawasan dieng. Sedikit cerita tentang ritual ini, yang menjadi daya tarik utama untuk turis lokal dan mancanegara. Anak-anak berambut gimbal dipercaya merupakan keturunan dari “Tumenggung Kolo Dete”, seorang pertapa Majapahit. Rambut Gimbal perlu dipotong, sebagaimana kepercayaan masyarakat sekitar kalau pemotongan itu tidak dilakukan maka sang anak beserta keluarga bisa mendapatkan nasib sial.
Selain pemotongan rambut anak gimbal, dalam acara juga ada pemandian anak gimbal serta sebelumnya arak-arakan, dan peluruhan rambut gimbal ke telaga warna. Rangkaian acara sederhana yang mempunyai daya tarik dan nilai tersendiri bagi kami, menambah sedikit lagi ilmu di kepala kami. Luar biasa bukan bisa mengenal sisi lain budaya Indonesia, yang jumlanya banyak sekali.
Selesai mengikuti ritual pemotongan rambut gimbal kami kembali ke penginapan untuk selanjutnya packing, menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh yang jumlahnya tidak sedikit, menghabiskan isi kantong, memenuhi tas pulang, serta sedikit kembali menghitamkan kulit yang sebenarnya sudah mulai menghitam. Hahahaa….. perjalanan pulang kami tempuh kembali dengan supir yang sama, menyetir dengan gayanya yang luar biasa pendiam, misterius, serta tampaknya tidak menggunakan rem saat berkendara. Saya, Priyo dan Bunda Chacha setelah 3 jam perjalanan menuju purwokerto langsung menuju stasiun, sedangkan Pandu dan Farah kembali menghabiskan 1 malam di purwokerto. Sampai stasiun drama antara Priyo dan Bunda terjadi, hahahaha….. Sang kuda besi kelas eksekutif kembali membawa saya ke Ibukota.
Terima kasih kawan-kawin atas perjalanan kali ini. Sampai jumpa di piknik selanjutnya.