E: terimakasih untuk tidak mencariku
U: aku tak pernah mencarimu. sesekali hanya kutengok namun aku tak bergeming untuk mengetahui lebih lanjut
U: salahku. Aku terlalu peka pada perasaanku hingga tak sadar perasaanmu
U: kuharap tidak. Aku tak pernah sanggup membayangkan bersamamu lagi
E: sebegitukah aku menyakitimu?
E: bisakah kita bicara lebih?
U: apa yang mau kau ucapkan?
E: entah. Aku baru menyadari perasaanmu waktu itu. Aku baru sadar begitu teganya aku.
U: tak usah kau khawatirkan. Aku melupakanmu sesuai katamu waktu itu. Terimakasih tidak pernah menghubungi setelah itu. Dan kini kupertanyakan kenapa kau menghubungiku?
E: aku hanya ingin menjalin silaturahmi
U: silaturahmi antara kita terjalin jika kita tak pernah bicara seperti ini. Biarkan waktu berjalan tanpa pernah membuatmu menengok masa lalu. Aku lebih menghargai jika kamu menata masa depanmu
E: bisakah masa depanku itu bersamamu?
U: bisakah kau hentikan pembicaraan seperti ini?
E: kasih aku alasan kenapa kau menyuruhku berhenti. Aku bertanya-tanya apa kau masih ada rasa terhadapku?
U: tidak.. aku hanya tak ingin larut dalam pusaran masa lalu dan mengenang kenangan hanya tinggal kenangan. Aku ingin menatap masa depan. Bukan meratap masa lalu. Aku ingin kau juga begitu
E: bisakah kau memberiku kesempatan?
U: bukankah ini sudah kuberi kesempatan?
U: kau menyapaku dan kita mengobrol bersama. Tak lebih. Kukira itu termasuk kesempatan.
U: aku kejam untuk masa depanku
U: kurasa pembicaraan ini sudah selesai
E: bisakah kau balas perkataanku dengan pemikiranmu didalam kepala batumu itu?
E: kau bisa mendapatkanku
U: aku tak merasa ingin mendapatkanmu
E: aku menyesal. Aku menginginkanmu
U: maafkan aku. Aku tak menginginkanmu
E: kau egois. Pernahkah kau memikirkanku sesekali? Pernahkah kau mengingat bagaimana kita dulu? Kau melupakannya begitu saja?
U: aku tak pernah lupa. Tapi itu hanya kenangan. Aku menginginkan masa depan. Apa kau pernah merasa menjadi aku? Yang saat kutahu sebegitu sayangnya aku padamu kau menyuruhku melupakanmu. Kau bilang aku kejam. Kau lebih kejam. Kau memulai memutus tali pertemanan. Memandangku tak lebih dari orang asing. Kau lebih keras kepala. Dan saat aku sudah sanggup berdiri melupakanmu kau datang meminta perasaan yang sudah lama terkubur didalam. Kau yang egois. Tak pernahkah kau rasakan itu?
E: begitukah aku? Aku minta maaf.. maafkan aku..
U: aku sudah memaafkanmu sekian lama. Yang kuinginkan sekarang adalah kita sudahi ini. Dan jalani kehidupan kita masing-masing. Aku percaya pada hidupku. Dan kau dengan hidupmu. Jangan pernah menengok lagi kearahku. Karna kau punya arah yang harus kau bahagiakan.