“Jangan ucapkan maaf...”
dan
“Kata andai hanyalah sebuah angan-angan yang tidak bisa mengubah takdir manusia...”
Kenapa bisa begitu? Temukan jawabannya di novel Denting Piano Adante
seen from Germany
seen from Venezuela

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Croatia

seen from United States

seen from Croatia
seen from Italy

seen from Italy
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Argentina
“Jangan ucapkan maaf...”
dan
“Kata andai hanyalah sebuah angan-angan yang tidak bisa mengubah takdir manusia...”
Kenapa bisa begitu? Temukan jawabannya di novel Denting Piano Adante
December, well, Hello :)
Penghujung tahun. Bulan terakhir. Penutup cerita. Desember. Yang paling indah di Desember salah satunya adalah menggemanya lagu natal di seantero negeri. Seakan lagu natal itu musik terindah ketiga di dunia setelah suara percik hujan dan debur ombak. Well, this is December. So what? Desember ini adalah penutup segala cerita gue baik cerita kemelut sedih yang menuai lelah dan air mata juga cerita bahagia yang bahkan gue melayang saking terbangnya. Desember selalu sama dalam setiap tahunnya di hidup gue. Acara natal, acara keluarga, acara tahun baru. Seakan 'hanya' menjadi rutinitas. Yang membuat nafas Desember beda adalah, lagu natal. Hanya itu yang buat gue seneng di Desember tahun-tahun lalu. Desember tahun ini, ada rasa sejuk lain yang hadir pelan-pelan, memeluk gue erat dengan damai Natal yang pernah atau mungkin sempat gue lupakan. Desember tahun ini mengajarkan gue segala hal tentang kebersamaan, pengorbanan, cinta yang tidak memaksakan, lalu mengikhlaskan, juga rindu yang mencemaskan. Well, this is December. Then? Kalau aja otak gue punya memori penyimpanan internal yang ga akan rusak seberapa parahpun virus yang mengganggunya, gue mau menyimpan Desember tahun ini. Gue mau menyimpan segala puncak apresiasi dan rasa bersyukur gue di bulan ini, gue mau moment ini selamanya hidup di kepala gue sesulit apapun langkah gue di tahun-tahun selanjutnya. Karena Desember kali ini, "kosong" yang melingkupi keseluruhan diri gue runtuh dengan orang-orang baru. Karena Desember kali ini, air mata gue selama 4 tahun tuntas dengan segala rasa ikhlas yang kini mampu gue berikan seutuhnya. Karena Desember kali ini, gue berani bermimpi lebih gila, sekali lagi. Karena Desember kali ini, untuk pertama kalinya gue jatuh cinta tanpa ingin apa-apa. Karena Desember kali ini, gue lebih mampu bersyukur atas segala yang sudah terjadi, belum terjadi, dan akan terjadi. Desember kali ini, entahlah. Gue gak mampu lagi mendeskripsikan segala keajaiban Natal yang terjadi di hidup gue. Desember kali ini, well. Just hello December, thankyou for awesomeness moment! 💕
Hay, kamu! -masalaluku-
Hay kamu! Ini hari kamis. Dulu kita sering saling menggamitkan lengan dengan aku yang meringis karena habis kena gerimis. Hay kamu! Sudah berapa hari kamis yang kita lalui dengan saling menggaris? Atau sudah berapa kamis yang mungkin (lebih banyak aku) kita lalui dengan menangis? Karena cerita kita berakhir tragis? Hay kamu! Kamis ini, ku dengar kamu kembali masuk rumahsakit karena alergimu. Apa kau baik-baik saja? Maaf, semua pesan untukmu hanya tertumpuk di draft saja. Karena aku terlalu mengedepankan egois. Hay kamu! Aku sering mengingatkanmu sampai kau bilang aku ceriwis. Tapi lihat? Kau baru tak ku perhatikan sesaat lalu kau malah jatuh sakit. Hay kamu! Apa kau baik-baik saja? Tanpa aku? Apa saat hidupmu penuh lika-liku, kau tak butuh jawabanku untuk sekedar membantu? Hay kamu! Ini hari kamis. Dan aku masih saja menangis. Ini rahasia yang manis. Karena cintaku kepadamu ternyata masih akan terus begini, entah sampai berapa kali Kamis. Noted: jangan sembarangan minum obat, bodoh! Apa kekasih barumu tak cukup pandai untuk sekedar mengingatkanmu obat mana yang boleh dan tidak boleh kau minum. Baik-baiklah disana. Jangan buat sekujur tubuhku beku hanya karna mendengar kau masuk UGD.
Aku iri kepada mentari. Dia tetap pongah mesti sendiri. Sedang diri ini. Menghela nafas saja terasa berat karena cintamu yang sudah berhenti.
Walau begitu aku tetap cinta pagi.
Seberapapun jauh kau melangkah, pulanglah ke pelukanku saat kau lelah.
menunggy kepulanganmu dengan harap yang menggebu
Ada di depan tuts hitam putih ini Mengirisku penuh luka Padahal ini adalah hal yang amat ku cintai Ah ya, dulu semakin lebih cinta karena hadirmu ada Lalu setelah kau pergi Aku bisa apa selain termangu bisa lalu kehilangan suara (pianoku)?
Dulu suara dari sini merdu, sekarang sendu. Bahkan sering mengiris kalbu. Entah sudah berapa lama aku rindu.