Sebuah Pertemuan
Sudah sewajarnya,
Setiap pertemuan itu menimbulkan kesan dan mungkin juga pesan. Terlebih ketika bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya. Rasa sungkan dan malu merupakan hal yang biasa terjadi ketika duduk berhadapan, bingung akan memulai pembicaraan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan sebelum bertemu juga menguap begitu saja saking groginya. Pertemuan pertama bisa menjadi penentu apakah akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Kesan yang ditimbulkan pada saat bertemu akan menjadi isyarat pada apa yang akan terjadi setelah pertemuan. Apakah tercipta hubungan yang semakin dekat atau justru saling menjauh.Pertemuan pertama berilah kesan yang istimewa jika kamu memang sudah lama mengidamkan pertemuan itu, siapa tahu dia yang kamu temui adalah bagian dari masa depanmu, tapi tanpa harus dibuat-buat dengan gaya lebay.
Manusia itu makhluk yang pandai menyembunyikan apa yang dia rasakan, termasuk perasaan. Cenderung lebih senang berasumsi dengan apa yang dilihat, apa yang dia rasakan dari pada harus menanyakan secara langsung. Mungkin gengsi, mungkin malu, apalagi perempuan, jangan sampai memulai duluan –katanya-. Pertemuan dapat mengungkap penasaran meski tidak semua, terhadap apa yang dirasa sebelumnya. Lalu akan membandingkan ekspektasi dengan realita yang terjadi saat pertemuan.
“Oh ternyata”, “Hmm.. memang benar” – batinmu.
Pertemuan bisa sekaligus menjadi sebuah perpisahan, tergantung kesepakatan. Namun, tak perlu dipermasalahkan, bagaimanapun juga pertemuan dan perpisahan itu ibarat sebuah garis lingkaran. Terjadi titik balik, akan ada pengulangan, meski harus menunggu. Tak mengapa jika dalam pertemuan (terlabih jika itu kali pertama) banyak bertanya. Karena asumsi manusia itu sering salahnya. Tapi juga harus jaga sikap, jaga diri, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kamu juga harus mempertimbangkan bagaimana dia, siapa tahu dia terpaksa menemuimu karena tidak enak hati. Jika pun kamu tanyakan juga pasti jawabannya “tidak”. Manusia itu suka berpura-pura dan menyembunyikan perasaanya. Namun, dari gestur tubuhnya kamu seharusnya bisa menebak apakah dia nyaman atau tidak.
Sebenarnya tak ada yang perlu dirisaukan dari sebuah pertemuan (terlebih jika itu kali pertama), semua tergantung sudut pandangmu, semua tergantung pikiranmu. Berteman itu bisa dengan siapa saja, dengan penjahat sekalipun. Selama kamu menganggapnya baik-baik saja, tidak akan terjadi hal yang aneh-aneh, aku yakin semesta juga akan mendukung. Apalagi jika sebelumnya kamu sebelumnya juga pernah bercakap meski di dunia maya atau melalui pesan selular. Anggap saja itu teman lamamu yang sudah lama tidak bertemu.
Kamu tak perlu menemuiku jika belum siap untuk bertemu.
Jangan sampai aku mencuri waktumu hanya untuk menuruti kemauan sepihakku.
Pertemuan itu bukan paksaan yang akan menimbulkan penyesalan.
Aku harap pertemuanku denganmu seperti bintang bertemu malam.
Indah dan penuh kebahagiaan.
Semarang, 13 Mei 2015











