PPL : antara sistem dan hati
"Aku, ingin jadi direktur!"
"Aku cuma anak nakal, tapi aku suka menulis"
"Aku suka musik."
Begitulah patah-patah kalimat yang mengapung di atas kepala anak-anak istimewa yang kini kutemui hampir tiap hari. "Aku nggak suka bahasa Jepang bu." "Ibu, aku sebenarnya suka bahasa Jepang." Sebagai individu, aku pun hingga kini ingin diperlakukan sebagai sosok individu yang berbeda, apalagi mereka. Kadang kepikiran tentang sistem pendidikan di Indonesia. Apa iya sudah bisa dibilang bagus? Terkadang kebayang, kini, ketika PPL pasti sering dipermainkan murid dengan tingkah lakunya. Keadaan yang tak jauh beda dengan 4 tahun yang lalu saat duduk di bangku SMA : mempermainkan guru PPL. Terlepas dari sikap yang kurang sopan, apa iya siklus ini harus mereka alami kelak saat mereka (anak didik) nanti tiba di posisiku? Ingin rasanya melakukan pembelajaran yang keluar sistem : merangkul tiap individu sesuai bakat dan minatnya. Maka tulisan ini pun jadi tidak enak dibaca karena kegalauan hati.
Murid-muridku, aku butuh bimbinganmu agar jadi pendidik yang baik. Sungguh, sebelum aku bertemu denganmu, aku rindu siapapun engkau. Karena Allah menciptakanmu pasti dengan tujuan yang indah, Dan aku melihatmu dengan penuh keindahan :)












