Hay pemilik Agustus😀,,Aku sudah berusaha ikhlas dengan rasa dan mulai berdamai dengan cerita. Untuk kamu, Mungkin saja aku terlalu memprioritaskan dirimu hingga aku lupa bahwa aku juga butuh sesuatu untuk ku, bukan selalu kamu.
Masih ingat kan? Ketika itu aku ingin bercerita dan kau pun mempersilakan seolah bersedia menjadi pendengar setia, dan pada akhir aku bercerita kau pun menjadikanku berhenti bersuara terpaku oleh diam karena sebuah kata yang kau tujukan untuk ku, ini tentang prihal rencana suka, kau pun membalas memilih yang lain. Aku bukan cengeng tapi entahlah air mataku memang nakal tidak mau di ajak berdiskusi, ia turun membasahi pipi meski sudah ku berkata padanya aku baik-baik saja.
Lalu sejenak ku berfikir tentang pasrah, dan iya aku mengaku kalah dengan pilihan sedang kau pemilik pilihan itu, aku hanya punya inisiatif mengajukan proposal kepada Tuhan meminta izin untuk menulis namamu dalam melengkapi tulisan cerita perjalananku. Dan ternyata Tuhan lebih memberikan hal yang lain, yakin pasti akan lebih baik. Mungkin aku terlalu egois makanya aku kalah. Begitu ya?,, Jadi aku berkata, sudahlah. Cukup dengan kau tau tentang rasa ini dan tak perlu ku terima kembalian rasa yang sama. Mungkin rasaku terlalu pahit, sedang kau begitu manis, cocok bukan dengan bubuk kopi yang pernah ku berikan? Sedikit agar kau tau rasa pahit yang ku nikmati dan tetap aku sukai.











