Dear Tumblr.. Apa kabarmu, happy eid mubarak.. Maaf lama melupakanmu, mungkin karena aku sibuk. Ah, tentu saja aku membual, tepatnya mungkin karena aku terlalu bahagia lalu kelelahan kemudian tak sempat bercerita; bahagia yang bertumpuk tumpuk.
seen from China
seen from United States

seen from Italy
seen from Türkiye

seen from China
seen from Canada

seen from Italy
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Italy

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Sweden
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Australia

seen from Italy

seen from United States
Dear Tumblr.. Apa kabarmu, happy eid mubarak.. Maaf lama melupakanmu, mungkin karena aku sibuk. Ah, tentu saja aku membual, tepatnya mungkin karena aku terlalu bahagia lalu kelelahan kemudian tak sempat bercerita; bahagia yang bertumpuk tumpuk.
You; yes you!!
Surat Cinta Untuk Yang Di Syurga
Hi.. Ngg.. hallo sobat sepuluhriburupiah. Selamat sore, kesayanganku. Apa kabar kamu sore ini di syurga sana? Pasti lebih menyenangkan, aku harap sih begitu. Dunia akhir-akhir ini semakin panas beb, maklum pemanasan global. Delapan belas agustus dua ribu empat belas; dua puluh tiga purnama sejak kepergianmu ke dunia lain yang lebih baik. Beb, maaf ya.. aku sedikit melupakan satu hal tentangmu di tujuh hari kemarin. Kamu kan sobatku paling baik, pasti mau memafkan. Kan kan kan? Ehehe… Ok jadi sebelum benar-benar terlambat aku akan mengucapkan selamat satu satu untuk dua tiga kesayangan. Tahun ini aku belum sempat membuatkan dan meniupkan lilin untukmu seperti tahun lalu. Aku kirim doa tulus saja ya untukmu. Nggg.. jadi begini, agar kamu tidak salah paham aku akan menjelaskan mengapa aku sedikit melewatkan hari istimewamu itu. Aku tengah jatuh cinta, beb. Aku tidak yakin sih benar-benar jatuh cinta. Tapi, bersamanya aku bisa tertawa lepas dan menjadi diri sendiri. Semenjak kepergianmu aku bingung hendak bercerita pada siapa. Ada beberapa sahabat memang tapi tetap saja tak selayaknya kamu. Beberapa jadi orang terdekat setelah kepergianmu, tapi aku tidak pernah menggeser posisimu. Kamu tetep ada pada tempatnya, begitupun mereka. Sobatku, kita dulu pernah punya mimpi untuk tumbuh menua bersama, hingga kini kita tetap tumbuh menua bersama walaupun telah berbeda dunia. Beberapa waktu kadang tak sadar aku menitikkan air mata ketika mengingat kisah kita. Di lain waktu ketika aku menemukan hal konyol, aku ingin segera berbagi denganmu selayaknya dahulu. Sayang, ini entah surat keberapa yang aku kirim untukmu di syurga melalui Tuhan. Tak berharap balasmu, bacalah jika kau ada waktu senggang, jangan terlalu asyik bermain bersama peri syurga; sesekali ingatlah aku sahabatmu di dunia yang lain. Sekian dulu surat dariku, sobat. Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi lain waktu saja ya ya yah.. Sayang kamu, sobat sepuluhriburupiah. With prayer; your sobsob..؊ Cirebon, 18th august ‘15😘
God, I'm Done!
Beberapa hal telah terlewati tanpa aku mau, rasanya ingin berteriak dan marah serta memaki saat menyadari semua tak sesuai rencana. Beberapa orang datang dan pergi tanpa kesan, tapi yakin saja semua bukan untuk kesia-siaan. Lelah rasanya terus memakai topeng; berpura-pura. Ingin berontak dan meninggalkan semua, tapi apa daya.. sedih? Sangat. Semacam tak ada pilihan lain. Bingung kemana harus berkeluh kesah; tak ada sandaran. Cirebon, 04th Oct ‘15
Sayang,
Sayang, malam ini hujan tak kunjung reda menciptakan resah dan dingin gigil. Tak ada pelukan dan deru napas hangatmu di tubuhku seperti malam lalu. Ahhh.. Rupanya resah ini karena merindumu.
Sayang, malam ini ditemani rintik hujan yang menimpa genting aku merenung merunut segala hal yang telah kita lewati bersama.
Sayang, terima kasih untuk segala waktu yang kau sisihkan untukku sedari dulu saat kau bisa datang kapan saja hingga kini di sibukmu yang menciptakan lelah, yang pertemuan kapan saja tak mampu lagi kita ciptakan. Kau selalu tanya bagaimana, aku bilang ini sebuah perjuangan agar kebersamaan tak lagi menciptakan jarak agar kapan saja bisa aku benamkan tubuh dalam pelukanmu. Maaf untuk hari-hari sulit yang kita lewati dan kebingunganmu karena tangis dan marahku tiba-tiba.
Sayang, terima kasih karena mencintaiku. Aku mencintaimu karena aku lebih dulu dicintai. Kelak yang aku mau tak lagi kepercayaan dan kesetian yang selalu kita pertanyakan.
Dariku, Yang Mencintaimu
First Impression
Menggelikan memang mengingat hubungan kita yang masih hitungan jari, tapi kau telah berani mengenalkanku pada pengganti sosok orang tuamu; kakak tertuamu.
Setelah perkenalan itu ada komentar pedas yang mampir ke telangaku melaluimu, ini memang salahku menuruti nafsuku yang ingin tahu komentar kakakmu tentangku, kau bilang kakakmu bilang aku orang yang cuek. Baiklah, aku terima. Kenyataannya memang begitu, tidak akan aku pungkiri, toh aku memang bukan orang yang pandai basa-basi.
Ada kesan yang aku tangkap dari perkenalan dan pertemuan itu. Salah satunya; aku bahan tertawaan kakakmu dan temannya hanya karena aku tidak bisa keluar malam. Menggelikan memang mengingat kakakmu memiliki anak perempuan.
Lalu, diam-diam aku tersenyum kecut sedikit meringis.
Tapi aku bisa mengerti mungkin keluargamu memang keluarga yang liberal. Bebas. Tapi miris mengingat ada banyak anggota keluarga perempuan di sana.
Selanjutnya, percakapan tidak penting mengalir begitu saja, dan aku lebih banyak diam tenggelam dalam rasa yang benar-benar kacau.
Kak, perkenalan kemarin itu bukannya membuatku bertambah yakin padamu. Tapi membuatku semakin down, entah mengapa rasanya sulit sekali percaya lalu menghilangkan segala ragu yang enggan pergi dari dalam diri.
Lalu, bagaimana kita selanjutnya? Entahlah..
Cirebon, July 12th 2015
Salah?
Berada disini, disisinya; terasa menggelikan. Memang ada pengakuan, tapi aku terasa bukan siapa-siapa. Lucunya aku bertahan, entah atas alasan apa.
Begitu banyak hal yang mati-matian aku kompromikan, tapi selalu runtuh tanpa sempat berhitung. Saat disisinya adalah saat terberat, bahkan aku sempat menerawang sembari meneliti setiap inci wajahnya dan aktifitasnya.
Kadang tanpa sadar mataku berkaca menahan bulir kristal itu jatuh; memikirkan diri ini. Rasanya seperti ada yang salah, ada kesalahan yang tanpa sengaja aku torehkan pada diri sendiri. Perih.
Comfort is Just an Illusion, But Pain is Real
Mengutip kalimatnya Nova Riyanti Yusuf dalam novel Mahadewa Mahadewi, “comport is just an illusion, but pain is real.”
Awalnya aku kira mencoba bersamanya akan menghentikan lelah serta mengobati kesakitan. Nyatanya? Bersamanya aku semacam merasakan berlari ribuan mil tanpa alas kaki.
Ada kenyamanan sekaligus kesakitan yang aku rasakan bersamaan saat dipelukannya. Kesakitan yang justru rasanya bertambah bila alam sadarku bekerja mengingat bahwa orang yang mengaku mencintaiku ternyata masih belum berdamai dengan masa lalunya.
Aku kerap curiga saat dengan bangga dia ceritakan tentang si A si B yang ini yang itu, yang katanya temannya; nyatanya aku sadar mereka itu bukan sekedar teman biasa. Lalu aku? Entah terlalu naif atau memang dia yang terlalu pintar; aku hanya diam saja kadang menanggapi seperlunya, mencoba sewajar mungkin. Ini semacam self defence; sebut saja begitu.
Air mataku kerap bergulir tanpa kompromi saat dipelukannya, seolah berkhianat karena tidak mampu menahan kesakitan yang menusuk nusuk tanpa permisi.
Hingga kini rasanya aku belum menemukan alasan mengapa aku ingin mencoba bersamanya, bahkan sedikitpun aku tidak pernah percaya pada kata-kata cintanya.
Ternyata meyakinkan diri sendiri lebih sulit dari pada meyakinkan orang lain.
Aku bahkan meyakinkan diri sendiri untuk tidak jatuh cinta lagi, melindungi diri dari kesakitan yang lebih.
Jika saatnya nanti, mungkin saja aku jatuh cinta padanya, aku ingin merasakan jatuh cinta terhebat dalam sejarah hidupku. Bahwasannya saat itu tiba, aku yakin itu benar-benar cinta.