Semua punya cerita untuk didengar.
Semua punya cara untuk berbagi.
Bahwa siapa yang kamu anggap layak untuk dibagi dan didengar, your choice.
Ada yang dapat dengan mudah membagi hidupnya, ada yang memilih menutup rapat dan hanya membiarkan segelintir orang masuk. Aku? Mungkin yang kedua. Waktuku banyak kuhabiskan untuk mengenal aku, memahami perasaanku, mengerti apa yang kumau. Egois? Ya, emang. Aku, kamu, dia, pada dasarnya manusia memang egois. Namun kadang aku berpikir, apakah aku terlalu memikirkan aku dan lupa dengan sekitarku?
Hidupku sempura. Setidaknya orang melihatnya begitu, dan aku juga menganggap begitu. Sesempurna itu, hingga aku mengira semua orang hidupnya seperti aku. Selalu berkecupukan finansial, berlimpah kasih sayang orang tua, dikelilingi teman-teman asik, tidak bermasalah di sekolah. As I grow up, I was exposed by some of my friends’ stories. Suka nggak habis pikir sih, kok bisa mereka punya masalah seperti itu. Kok bisa mereka survive dengan segala beban mereka. Kok masih bisa mereka tertawa bersamaku, sejenak melupakan pedih kehidupan mereka.
Sering aku membayangkan ada di posisi mereka, terjepit antara pilihan-pilihan suram dan hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Aku rasa aku tak sanggup. Aku pasti hancur, layaknya porcelein koleksi rumahan yang sering dilap kemudian tiba tiba dijatuhkan dari lantai sekian. Jadi berkeping-keping, berhargaku akan sia-sia. Tapi, apa yang terjadi pada mereka banyak yang tiba-tiba. Lalu ketakutan menyerangku, akan apa yang hidup akan tawarkan di masa depan. Ups I mean, akan apa yang harus pasti akan aku hadapi nantinya. Apakah aku bisa se-baja mereka yang sudah pernah merasakan dibanting, diinjak, dilempar? Takut, sedih, pusing, menolak, itu sih yang aku rasain kalo mikir ini.
Mungkin, selain terus mengenal diriku yang sangat kompleks, aku mulai lebih membuka diri. Sambil terus menyadari, betapa beragam dan lucunya hidup ini.
Menyiapkan diri, untuk ada saat siapapun ingin berbagi. Meneguhkan hati, bahwa ada seseorang yang mendengar dengan peduli.