Molekulikan mewawancarai Bodhi IA dan bagaimana dirinya serta kawan-kawan membangun kolektif Ruang Gulma
oleh Annisa Rizkiana Rahmasari
Terletak di Bangunjiwo - Bantul, Ruang Gulma menjadi rumah sekaligus titik temu anak-anak muda pelaku eksplorasi seni dan musik di Yogyakarta. Lebih jauh, kolektif ini berkomitmen mengajak orang-orang yang terlibat untuk juga bersolidaritas dalam gerakan sosial serta melihat kebersamaan dalam kolektif sebagai daya untuk saling mendukung kebertahanan hidup satu dan yang lainnya.
Bodhi IA adalah seniman, musisi, dan salah satu orang di balik berdirinya Ruang Gulma. Molekulikan berbincang banyak dengannya tentang perspektif Bodhi dalam praktik zine-making, tumbuh bersama rumah kolektif di Pekalongan dan Yogyakarta, serta hal-hal menyenangkan yang menyertai semua proses ini.
Simak obrolan kami di sini :
“Sebelum Ruang Gulma dibentuk, aku sempat membuat komunitas juga bernama Rumah Hujan di Pekalongan. Kegiatan kami selain diskusi, adalah bikin pameran di trotoar, atau membuat panggung jalanan di alun-alun kota. Tadinya kami yang cuma berkumpul untuk main skateboard pun mulai berubah bersamaan dengan boomingnya wacana Cak Nun di generasiku. Aku baru saja lulus SMA dan awal-awal kuliah kala itu. Kami di Rumah Hujan juga membuat kelas untuk anak-anak pesisir yang tidak sekolah dikarenakan mereka harus melaut. Dan karena dulu frekuensinya cukup sering, aku sampai harus bolak-balik Jogja - Pekalongan setiap minggu.”
1. Halo Bodhi, terima kasih untuk kesempatan yang menyenangkan ini. Bolehkah sebelumnya memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?
Halo namaku Bodhi IA, sehari-hari aku tinggal di Ruang Gulma Collective. Semoga kamu juga sehat dan dalam keadaan terbaikmu ya. :)
2. Bagaimana pertama kali kau mengenal zine? Apakah kau membuatnya secara individu atau sudah terlibat dalam kelompok?
Pertama kali mengenal zine, aku membaca sebuah zine kolektif berjudul Menggapai Utopia. Zine ini juga dibuat untuk benefit kolektif di Palembang. Kamu bisa cari tahu pembuatnya lewat blog Sangkakalam, Palembang. Dari pengalaman tersebut aku jadi tahu bagaimana media alternatif dapat berfungsi untuk menyalurkan pendapat atau ekspresi kita tanpa harus melewati birokrasi penerbitan yang panjang. Pertama kali aku membuat zine, bahan kertas yang aku pakai berasal dari pembungkus nasi! Mungkin sekitar tahun 2011-2012. Aku membuatnya secara mandiri lalu kusebar di kampus. Isinya gagasan dan berbagai macam ekspresiku di awal masa kuliah. Hahaha, kalau sekarang baca lagi pasti ketawa karena sudah nggak relevan lagi dan lucu saja rasanya.
3. Bagaimana kamu melihat ekosistem penciptaan zine di kota tempat tinggalmu? Apa keseruan dan hambatannya di sana?
Kebetulan kini aku tinggal di Yogyakarta (sejak tahun 2011) yang mana sebelum aku datang pun kultur zine di sini sudah cukup dikenal melalui berbagai festival zine bawah tanah. Serunya adalah ketika membawa semangat tersebut ke kota kelahiranku di Pekalongan. Beberapa orang justru menyebutku sebagai provokator sampai mencibir dibelakang dan menjauhiku karena aku dianggap sebagai pengaruh buruk hahaha. Kalau sekarang, serunya aku bertemu dengan banyak pegiat zine dan bisa melakukan banyak eksplorasi dalam konteks penciptaan, distribusi, serta berbagi wacana antar zine maker.
4. Membawa identitas dua kota, apakah Bodhi menemukan similaritas dari gerakan-gerakan kolektif di Pekalongan dan Yogyakarta?
Kalau di Jogja aku pikir teman-teman banyak melakukan kegiatan dengan semangat ekplorasi di garda depan. Sedang di Pekalongan, anak-anak muda seusiaku lebih banyak fokus pada bagaimana caranya membangun basis ekonomi sebagai support system keluarga. Meski di Jogja beberapa aktivitas serupa memiliki motivasi ekonomi, namun hal itu tidak jadi yang utama. Aku pun mengalami bagaimana ketika masih tinggal di kota kelahiranku jadi seniman itu seperti pekerjaan yang mudah jadi bahan cibiran. Saudara-sadaraku masih melihat apa yang kulakukan itu main-main, dibandingkan anak tetangga yang bekerja di kantor, jadi polisi atau tentara. Dianggap sebagai pengangguran saja itu cukup membuat mentalku down. Padahal yang kami lakukan dalam kolektif itu sebenarnya "menanam" banyak hal, yang tentu hasilnya tidak akan instant. Ketika tinggal di Jogja banyak teman-teman rantau bisa memiliki kebebasan untuk membuat apapun dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kultur kesenian di Jogja juga sudah terbentuk sejak lama. Sehingga orang-orang di sekitar Ruang Gulma pun cukup mengerti dengan apa yang kami lakukan. Warga juga sangat paham, maka beberapa kali kami beraktifitas bersama tetangga di Bangunjiwo pun oke-oke saja. Setiap hari anak-anak tetangga pasti main ke Ruang Gulma. Entah sekedar main musik, menggambar, baca buku, atau nongkrong cari Wi-Fi. Tapi pada akhirnya baik di Pekalongan ataupun di Jogja, kami yang berkomitmen dengan apa yang kami lakukan di kolektif memilih untuk tidak ambil pusing dengan omongan orang hahaha. Persamaannya juga kalau saat ini, banyak teman mulai yakin apa yang mereka lakukan itu penting. Setidaknya untuk kesehatan mental mereka sendiri di tengah menjalani realitas yang menjenuhkan. Selain itu karena dinamika sosial media yang begitu masif juga, dua kota tersebut punya selera dan wacana yang agak mirip. Mungkin di Pekalongan pelakunya tidak banyak dan peristiwa kesenian masih terbatas. Tapi beruntung kini aku dan teman-teman mulai membangun kembali sesuatu yang baik di Pekalongan bernama Ruang Tengah. Harapannya ini bisa jadi titik baru di kota kelahiranku untuk melakukan ekplorasi maupun membuka banyak kemungkinan baru.
5. Bagaimana kamu mengartikan kota sebagai rumah di sini?
Entahlah, aku lebih sepakat bahwa “rumah” itu bukanlah lanskap fisik namun lebih berupa “akal”. Sehingga dimana saja aku berada, aku bisa membuat tempat itu sebagai rumah. Kota bisa didefinisikan sebagai latar belakang tempatku meletakkan jangkar. Dan sebagai kreator aku berusaha sekali untuk tidak berjarak dari karakter lanskap kota/desa yang aku singgahi. Tujuannya, supaya bisa mengerti bagaimana kita sebagai manusia harus berkomunikasi entah menyapa atau membicarakan wacana yang lebih penting dan tepat guna.
“Tujuan utama kami di Ruang Gulma adalah bagaimana kami sebagai kolektif dapat menjaga interaksi antar manusia itu sendiri sehingga definisi kami tidak berhenti sebagai kelompok seni saja. Embrio awalnya dibuat untuk sama-sama membangun ruang hidup yang kami sepakati, dimana aku dan teman-teman mengusahakan suatu ruang hidup yang suportif. Saling menguatkan satu sama lain. Filosofi nama "gulma" juga dapat diartikan seperti demikian : Kalau sendiri ia hanya dianggap tanaman pengganggu, namun jika semua lahan ditanami gulma kita akan dapat menemukan padang lamun hijau yang mirip lanskap film Teletubbies! Hahaha. Intinya kami ingin dapat membuat gerakan dimana seni dan solidaritas dapat bersinergi.”
6. Bagaimana kamu melihat relasi zine dan anak-anak muda sekarang? Apakah kamu pernah terlibat dalam sebuah kegiatan maupun lokakarya yang secara khusus berbicara tentang ini?
Menurutku zine merupakan salah satu sumber wacana alternatif dimana anak muda dapat membicarakan apapun dengan bebas. Keliaran inilah yang melatih kita untuk menghargai perspektif orang lain. Dan ya, aku pernah terlibat beberapa kali dalam acara yang berkaitan dengan zine. Salah satu yang kuingat adalah bagaimana zine bisa menjadi medium yang efektif untuk teman-teman komunitas LGBTQ membicarakan keresahan akan diskriminasi yang mereka alami. Tak hanya itu, zine juga berfungsi sebagai media informasi atas peristiwa sosial politik yang jarang diberitakan di media masa arus utama.
7. Menurut kamu, seberapa pentingkah sebuah rumah kolektif memiliki perpustakaan yang juga menyimpan arsip-arsip zine?
Penting sekali. Meskipun banyak orang berkilah bahwa belajar tak harus dari membaca tapi menurutku dengan membaca apapun, termasuk zine, membuat kita tak menjadi angkuh maupun merasa paling benar, atau paling parahnya menjadi megalomania yang mengira bahwa kebenarannya adalah satu-satunya yang harus diyakini semua orang.
7. Bagaimana Bodhi sebagai seniman melihat irisan Ruang Gulma dengan praktik zine yang dilakukan olehmu dan teman-teman di dalamnya?
Zine dalam pengalamanku sangat berfungsi sebagai pintu awal keingintahuan kita tentang sesuatu terlebih pengetahuan yang sifatnya subkultur dan alternatif itu tadi. Namun setelahnya kita juga tetap perlu memiliki pembanding wacana dengan mencari tahu sudut pandang lebih banyak lagi entah dengan membaca atau diskusi dengan teman. Sebagai seniman, media ini membuka peluang arena apresiasi. Salah satu zine berisi ilustrasi-ilustrasi yang sangat layak dikoleksi yang pernah kubaca dulu adalah Penahitam. Kita juga jadi tahu siapa membuat apa, siapa dimana, siapa ngomongin apa. Dia membuka jalur pertemanan dan turut serta melebarkan jaringan. Zine jugalah yang membuatku kenal kamu! irisan zine dengan teman-teman Ruang Gulma juga cukup jelas. Karena sebelum bergabung dengan kolektif ini pun, banyak teman-teman anggota yang sudah aktif membuat zine terlebih dahulu. So, kami sering menggunakan zine sebagai awal mulai mendiskusikan sesuatu. Kami juga menmakainya sebagai alat kami menyebar gagasan dan ruang apresiasi sebesar-besarnya dalam format cetak. Di rumah kami saat housemeeting, ide-ide seru bisa muncul dari zine-zine yang kami dapatkan. Jadi wahai teman-teman semua, jangan ragu untuk menitipkan zine kamu dirumah kami ya! It means a lot to us!
7. Ruang Gulma berdiri pada tahun 2014 yang mana sudah berjalan tahun ke-tujuh betul yah?
Yup. Kami mulai pindah dan menciptakan Ruang Gulma dari tahun 2014. Aku nggak pintar berhitung, tapi rasanya betul! Enam tahun (artinya kami sudah bayar kontrakan rumah sebesar 120 juta hahahaha). Melihat angka itu bisa dilewati, membuat kami yakin juga bahwa banyak hal dapat diselesaikan dengan cara kekolektifan, patungan, gotong-royong.
8. Apakah kamu pernah memiliki keresahan/kebingungan dalam konteks penciptaan zine di sini? Apabila ada maukah kamu berbicara tentang itu lebih jauh?
Tidak. Selama ini aku kembali pada prinsip: Ciptakan apapun yang ingin kau ciptakan.
9. Apa yang membuat kamu menyukai zine secara khusus?
Kebebasannya membicarakan apapun. Kalau dianalogikan, keasyikan zine making buatku seperti membangun istana dari pasir pantai! Setiap orang bisa punya kuasa atas apa yang ingin ia sampaikan.
10. Apakah kamu memiliki harapan akan ekosistem penciptaan media alternatif (secara spesifik zine) di Indonesia kedepannya?
Berharap Indonesia bisa memiliki ruang digital yang sifatnya kepemilikan publik dan secara khusus mengumpulkan arsip zine dari siapapun di sini sehingga semua zine-makers dapat mengunduh + mengunggah zine mereka.
11. Bagaimana kamu melihat kemungkinan Indonesia Zine Festival?
Sangat mungkin terjadi apabila ada orang yang mau meluangkan waktu untuk mengorganisir para zine maker di sini.
Terima kasih, Melampaui Mata!
_______________________________________________________________________
Simak juga arsip karya Bodhi dan Ruang Gulma di :
https://www.instagram.com/melampaui_mata/
https://www.instagram.com/ruang.gulma/










