The Result
Akhirnya, penantian saya berakhir untuk yang satu ini. Penerbit Mizan telah mengumumkan 20 besar naskah terbaik. Pengumuman ini sebenarnya datang tiba-tiba. Seharusnya, penantian saya ini akan lebih lama hingga tanggal 10 September nanti untuk mengetahui 10 naskah terbaik. Tapi, justru, dengan begini jadi lebih baik. Saya jadi tidak lama menunggu, ya, kan?!
Saat santai lihat-lihat timeline Facebook malam ini, saya cukup terenyak melihat link yang mengarahkan pengumuman 20 terbaik Romance Mizan. Mendadak jantung saya deg-degan. Bahkan saya hampir tak berani untuk mengklik link tersebut. Rasa pengharapan saya masih cukup besar untuk lomba Romance itu, setidaknya 10 besar lolos. Tapi saya siapkan diri saya bahwa hasilnya pun bisa jadi gagal. Saya rendahkan rasa pengharapan saya, lalu saya buka link itu. Dan...tarrraaa!!!
Secara random, saya mencari-cari judul novel dan nama saya. Nihil! Hati saya menciut dan dengan (mencoba) legawa saya telusuri baik-baik satu per satu daftar 20 naskah terbaik itu. Tidak lama, langsung saya tutup. Saya gagal. Dan saya tidak boleh berputus asa. Saya langsung update twitter saya. Saya memang berniat ketika dulu saya sering update proses menulis novel itu bahwa kalah menang--apapun hasilnya--saya pasti akan mengabari seantero Twitterland.
Bagaimanapun, kegagalan saya lolos di Mizan bukan kegagalan sepenuhnya. Pertama, saya tidak gagal melawan rasa malas dan komitmen saya untuk menulis cerita itu hingga tamat--menjadi sebuah naskah novel. Kedua, saya tidak gagal untuk berjuang meraih tempat di hati penerbit. Saya percaya akan kemampuan saya. Keikutsertaan saya dalam lomba ini tak sekadar "nothing to lose", karena saya tidak berniat untuk kalah. I don't want to lose! Bila tulisan saya tidak diterima, itu hanya tergantung selera dan kebutuhan penerbit. Jadi, saya yakin saya memang tidak gagal sepenuhnya. Karya cipta saya akan terus berjaya--setidaknya di dalam relung hati saya.
Teruslah bersemangat, rekan-rekan pejuang lainnya! Kita tidak kalah. Kita hanya ditolak. Dan penolakan itu pertanda pintu kesempatan lain sedang dibuka. Saya percaya, naskah saya telah punya jalannya dan saya tak pernah tahu hingga ia tiba di sana--di tempatnya yang layak.











