“Saya sendiri sudah banyak berpikir, murni dengan sel-sel otak seperti yang selalu kamu anjurkan, menerjemahkan apa yang kamu anggap absurditas. Dan kesimpulannya, alam hati saya tidak mungkin dimengerti siapa-siapa. Tapi ke mana pun saya pergi, kamu tetap orang yang paling nyata, paling berarti. Saya tidak mesti menyikat gigi untuk bisa pulang. Kamulah tiket sekali jalan.” Ini adalah salah satu percakapan yang saya kutip dari cerpen “Sikat Gigi” di buku Filosofi Kopinya Dewi Lestari.
Saya dan Mas @narasibulanmerah membuat dramatisasi cerpen ini dalam rangka memberikan ucapan selamat kepada Dewi Lestari, yang berulang tahun pada 20 Januari kemarin dan untuk memeriahkan bahagia #15tahunSupernova serta diikutkan dalam kuis #HBDee yang diselenggarakan oleh #BentangPustaka. Dramatisasi cerpen ini kami buat dalam bentuk audio yang nanti akan kami upload di SoundCloud @mempertemukan :)
Sore ini selamat menikmati Sneak Peek-nya dulu. Versi lengkapnya bisa kalian dengarkan nanti malam! :)
Cheers,
Tikcil











