Memaknai Kembali Konsep Pendidikan Ki Hadjar
Konsep Pedagogik kritis yang diungkapkan oleh Paulo Freire adalah menciptakan pendidikan yang merdeka. Namun sebenarnya jauh sebelum itu, tokoh-tokoh pendidikan nasional Indonesia seperti Ki Hadjar Dewantara telah mempraktikkan pendidikan yang memerdekakan.
Menurut Ki Hadjar ada tiga dimensi dalam kemerdekaan, yaitu:
Mampu berdiri sendiri dengan kata lain tidak hidup terperintah
Tidak tergantung kepada orang lain, dengan kata lain berdiri tegak karena kekuatan sendiri; dan
Dapat mengatur dirinya sendiri atau dengan kata lain cakap mengatur hidupnya dengan tertib.
Pada kenyataannya, nilai-nilai pemikiran Ki Hadjar banyak bergeser dalam dunia pendidikan. Dilingkungan sekolah masih sulit kita temukan sebuah ruang pembelajaran dimana siswa merasa menjadi murid yang merdeka. Belum tercipta aksi dialogis, guru cenderung bersikap otoratif dalam memegang kendali. Keotonomian pada murid ini bagi Ki Hadjar Dewantara begitu penting bahkan dia mengungkapkannya begitu radikal, yaitu para guru sesungguhnya berhamba pada anak.
Menurut KHD ,pengajaran sebaiknya Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin.
Ajaran dan anjuran Ki Hadjar sangat relevan dengan kondisi kekinian. Di saat kita dihadapkan dengan problem kebangsaan seperti kekerasan di dunia pendidikan, pengabaian pada pentingnya penguatan karakter, maka konsep pendidikan yang memerdekakan antara guru dan siswa menjadi solusi. Sebab itu, kontekstualisasi ajaran Ki Hadjar Dewantara di zaman kini menjadi penting.














