Kita akan berbicara banyak tentang cinta, pengorbanan, perjuangan, ketulusan, dan kebahagiaan yang aku sendiri masih belum ahli memahami itu semua. Apa yang tertulis disini hanyalah refleksi dari yang telah aku rasakan dan pikirkan. Mari bicara tentang pengorbanan dan perjuangan terlebih dulu. Kita harus sama-sama memahami bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, setiap orang akan mempunyai pengorbanan yang berbeda-beda untuk mendapatkan hal yang sama. Kita tidak bisa memakai lamanya waktu sebagai parameter kita telah berjuang lebih keras dari orang lain. Kita tidak bisa mengukur siapa yang berkorban lebih banyak. Ambillah contoh dalam berdagang, jika ada dua orang penjual yang memiliki target penjualan sama misal 100 unit, pedagang A berjuang selama 3 bulan untuk mencapai target itu tetapi selama 3 bulan percepatan yang dia buat biasa saja berbeda dengan pedagang B yang berusaha menawarkan barang dagangannya setiap hari ke orang lain, akhirnya dalam waktu satu bulan pedagang B mampu mencapai target, tetapi pedagang A belum juga mencapai targetnya. Apa kita bisa bilang bahwa pedagang A berjuang lebih keras dari B? Apakah salah sang pembeli jika membeli barang dari B yang baru berusaha 1 bulan hanya karena ditawarkan lebih sering? Setiap orang memiliki pengorbanannya masing-masing untuk mendapatkan sesuatu dan bukan kita yang menilai besar-kecilnya pengorbanan kita sendiri.
Selama ini aku merasa ternyata hal yang paling penting harus ada dalam kebersamaan adalah kenyamanan. Cinta itu berproses begitu pula kenyamanan. Namun, kecepatan dan percepatan prosesnya itu tergantung cocok atau tidak cocok. Dalam kebersamaan, jika memang kita tidak ingin berpindah ke lain hati, kita wajib mempertahankan hati yang telah diikat dengan milik kita. Aku percaya bahwa cinta bukan hanya sebatas kata-kata tetapi lebih ke perbuatan terhadap orang yang kita cintai. Cinta itu adalah tentang memberi bukan meminta. Jika A dan B saling mencintai, maka A akan memberikan kebutuhan B dan B akan memenuhi kebutuhan A tanpa dipinta terlebih dahulu. Cinta itu memberi, saling mengusahakan, dan timbal-balik. Cinta juga bukan paksaan, cinta tidak bisa dipaksakan.
Cinta itu bukan proses jual beli. Kita tidak pernah bisa komplain dan protes apabila kita mencoba membuat anak kecil menyukai kita dengan memberinya banyak permen, tetapi setelah itu, si anak tetap saja tidak menyukai kita. Kita tidak bisa memaksa anak itu untuk menyukai kita, dan tidak benar jika kita menganggap seharusnya anak itu menyukai kita karena kita telah memberinya banyak permen. Kita tidak bisa melakukan itu, cinta bukanlah proses jual beli. Apakah kamu merasa bahwa kamu telah berkorban lebih lama? Ini amatlah rumit, cinta bukan sebanding dengan apa yang diberikan atau siapa yang berkorban lebih banyak. Bukan. Aku sulit memahaminya. Kita tidak bisa menyamakan urusan ini dengan jual beli seperti di pasar.
Ada dua kalimat yang masih aku ingat dan akan terus kuingat. Pertama, "jika aku mencitaimu, aku tidak akan bisa berkata kau adalah segalanya bagiku, aku tidak akan bisa hidup tanpamu." Yang kedua, "jika aku mencintaimu, aku juga tidak bisa berkata mencintaimu sepenuh hati, tetapi aku mencintaimu dengan semua ruang kosong di hati yang kumiliki."
Ya, mengatakan bahwa orang yang kita cinta adalah segalanya bagi kita merupakan salah satu bentuk pemujaan, kita akan mati tanpa dia adalah berlebih-lebihan dan harus dihindari. Kita tidak boleh mencintai makhluk lebih dari kita mencintai Sang Pencipta. "You're my everything" adalah salah satu bentuk syirik kecil yang harus dihindari oleh seluruh muslim. Jika kita telah memahami kalimat pertama maka kalimat kedua adalah akibat logis dari kalimat pertama. Kita telah mengisi hati kita terlebih dahulu oleh Yang Mahakuasa. Maka, mencintai sepenuh hati adalah bentuk pengingkaran kalimat pertama. Jika kita betul-betul membearkan kalimat pertama, maka kita tidak akan pernah bisa mencintai sepenuh hati tetapi dengan seluruh ruang tersisa yang kita miliki.