Hari ini kita memasuki 1 Syawal, setelah kita berjuang selama sebulan di Ramadan untuk menahan makan dan minum dan hal-hal lain yang biasa kita lakukan di luar Ramadan. Sebagian melakukannya terpaksa, sebagian melakukannya karena keimanan. Maka ketahuilah,
كل عمل بني آدم له إلا صيام فإنه لي وأنا أجزي به
"Semua amal anak Adam itu untuknya, kecuali shiyam, sesungguhnya shiyam itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."
Balasan dari Allah atas amal anak Adam bisa sampai 700x lipat. How generous Allah is!
Konsekuensi kita sebagai seorang muslim (aslama-yuslimu-islaman yaitu berserah diri kepada Allah), adalah ketika ada seruan untuk kembali kepada Allah, maka kita patuh dan taat kepada-Nya. Sami'naa wa atho'naa.
Salah satu bukti iman adalah ketaatan. Berilah perhatian kepada orang terdekat kita. Selama ada iman di dada mereka maka mereka adalah saudara kita. Jangan lupa doakan saudara-saudara kita di Palestina 🇵🇸. Betapa mereka masih begitu menderita di sana, meskipun ini hari lebaran di mana seharusnya kita bisa bersukacita. Simaklah hadits berikut:
لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
"Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."
Ada shohabiyyah yang pakaiannya tersingkap lalu diganggu orang Yahudi (yang berasal dari Bani Qainuqa'), maka Bani Qainuqa' seluruhnya diusir dari Madinah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Begitulah kehormatan seorang muslim; dijaga oleh muslim-muslim lainnya.
Amalan yang dilakukan sebagai beban maka akan memberatkan; namun kalau dikerjakan dengan keimanan maka Allah akan ringankan. Seperti shaum ini. Allah karuniakan dua kebahagiaan untuk orang yang berpuasa dengan imannya:
للصائم فرحتان: فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه.
"Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka; dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabbnya."
وما تدري نفس ماذا تكسب غدا وما تدري نفس بأي أرض تموت
Tidak ada yang tahu kapan ajalnya akan datang... namun ia adalah keniscayaan. Maka berdoalah supaya Allah karuniakan husnul khotimah.
Allah sandingkan kata "kebahagiaan" dengan orang yang berpuasa, tapi itu bukan berarti orang yang sekadar menahan makan dan minum saja; melainkan orang yang berpuasa dalam keadaan beriman. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah:
يآيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas ummat-ummat sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Lihatlah saat Ramadan, betapa banyak orang berpuasa, lalu berinfak, lalu tilawah, memaksimalkan malamnya, mengerjakan sholat tarawih... bukankah itu semua digerakkan dengan keimanan? Ghiiroh yang muncul itu asalnya dari keimanan.
Kalau kita dapati perbedaan besar ketika Ramadan dan setelahnya, berarti ada problem dalam diri kita... Mintalah pertolongan kepada Allah untuk memperbaikinya...
Semoga Allah tanamkan keimanan kuat dalam hati kita. Perbaiki amalan kita. Beri kita taufiq untuk melakukannya... Aamiin Yaa Rabb.
Kita ini sejatinya akan kembali kepada Allah...
إن إلينا إيابهم ثم إن علينا حسابهم
Setiap manusia akan kembali kepada Allah.. yang adil maupun zholim, yang sholih maupun tholih... namun yang PERLU DIPERHATIKAN adalah,
apakah kita akan kembali kepada Allah dengan disertai rahmat-Nya atau murka-Nya...?
Sudahkah kita siapkan bekal untuk akhirat kita?
Apakah harta kita sudah digunakan untuk ketaatan kepada Allah?
Sudahkah anak-anak kita, keluarga kita, dididik dengan dasar agama?
Sudahkah muncul di hati kita rasa rindu untuk beribadah kepada Allah?
إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم
Bukankah tanda orang beriman adalah hatinya bergetar ketika disebut nama Allah? Dan apabila disebutkan ayat-ayat Allah maka bertambah keimanannya? Maka semoga Allah kokohkan keimanan dalam hati kita...
Semoga kita termasuk orang-orang yang berbahagia di sisi Allah... semoga Allah pertemukan kita dengan-Nya dalam keadaan berbahagia, farihiin, su'adaa, mabsuuthiin*, sebagaimana dalam hadits di atas,
Kita pasti akan kembali kepada Allah, namun belum tentu kita akan kembali kepada Ramadan... Apabila Ramadan datang lagi tahun depan, kita belum tentu bisa menjumpainya lagi...
Ajal kita pasti akan datang, entah besok, entah lusa, entah tahun depan...
يوم لا تملك نفس لنفس شيئا والأمر يومئذ لله
Hari kiamat kelak akan datang... hari pembalasan itu akan datang. Hari di mana tidak ada seorang pun yang bisa menolong saudaranya yang lain, orang tuanya yang ia cintai, atau siapapun... dan semua urusan pada hari itu ada di tangan Allah.
Ya Allah, selamatkan kami...
*mabsuuthiin: orang-orang yang senang, bergembira, berbahagia.
Kosa kata baru yang kudapat dari temanku asal Madinah, hafizhahallah. Menurutnya kata ini termasuk kata 'ammiyah atau bahasa harian (tidak baku), namun ia menjelaskan bahwa banyak kata tidak baku ternyata berasal atau berakar dari kata baku, oleh karena itu kita tetap bisa dapatkan makna kata ini jika kita cari di kamus bahasa Arab.