wajah kita adalah wajah yang sujud rebah bagi-Nya jua wajah kita adalah wajah yang bukan wajah hanya fatamorgana (Sajak 1972). #Arsitektur #Urbane #ekskursi #Bandung #Latepost

seen from United States

seen from Canada
seen from Australia
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from Germany

seen from Russia
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Kyrgyzstan
seen from United States
seen from Germany
seen from Australia

seen from Australia
wajah kita adalah wajah yang sujud rebah bagi-Nya jua wajah kita adalah wajah yang bukan wajah hanya fatamorgana (Sajak 1972). #Arsitektur #Urbane #ekskursi #Bandung #Latepost
Jurnal Ekskursi Hari Pertama Selasa, 12 April 2016 Dusun Cisumur, Desa Pasir Panjang, kec.Ciracap, kab.Sukabumi
Jurnal Ekskursi Hari Pertama
Selasa, 12 April 2016
Hari ini pukul 09.00 pagi kami kelompok 12 datang ke Dusun Cisumur, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Ciracap, Sukabumi. Tepatnya kami tiba di balau desa Pasir Panjang. Bus rombongan kami (bus 2) datang berbarengan dengan bus dari kelompok 11 (bus 1) yang kebetulan mendapatkan desa yang sama yaitu desa pasir panjang tetapi dengan dusun yang berbeda, kelompok sebelas mendapatkan dusun pasir panjang. Saat sebelum tiba di balai desa, sudah terlihat bentangan sawah dan juga saya melihat ada sebuah took obat-obatan untuk padi dan hama. Saat tiba di balai desa, kami pun bingung mengapa berhenti disini, padahal bila melihat google maps, dusun kami itu berada sekita 800 meter lagi dari balai desa. Setelah menanyakan kepada para tutor kami, ternyata bis tidak dapat menjangkau dusun karena terdapat jembatan yang sangan riskan untuk dilewati oleh bis.
Terlihat di depan kantor kepala desa terdapat seorang pegawai kantor yang mungkin sedang rehat sejenak menghirup udara segar, atau beliau penasawan ada segerombolan orang aneh tak dikenal datang menggunakan bis ini. Di depan kantor terdapat sebuah lapangan yang sepertinya multiguna, mungkin bisa dipakai voli ataupun badminton. Dari balai desa kami putar arah menggunakan bis lagi, sekitar 400 meter dari kantor kepala desa terdapat jalan menuju dusun cisumur. Kami menurunkan barang-barang kami dan langsung dimuat kedalam mobil tutor kami, kak Wibi. Saya diminta ikut mengantarkan ta situ menggunakan mobil dan balik lagi untuk menunjukan rumah tinggal kami. Saya dan kak Wibi menuju rumah tinggal kami dan langsung menurunkan barang-barang bawaan kami ke teras rumah.kami disambut oleh seorang ibu yang saya kita beliau adalah pemilik rumah. Saat saya hendak menjemput teman-teman saya, ternyata mereka sudah berhasil menemukan rumah tinggal ini. Sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, teman kami feby terpeleset atau tisoledat kalau kata orang sekitar, ia terpeleset persis di depan teras rumah saat hendak membereskan tas bawaanya. Menurut teman-teman saya, terdengar suara ‘ceklik’, seperti sesuatu yang berpindah dari tempatnya. Ternyata lutut feby mengalami dislokasi. Kami teman-temannya panik, tetapi ia hanya tersenyum menahan sakitnnya. Tak lama kemudian sang pemilik rumah sudah mengajak kami untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan. Ibu itu mengajak ke rumahnya yang hanya berada di seberang rumah tinggal ini. Kami disuguhi makanan berat ternyata, seperti nasi,sayur mayur, daging semur, kerupuk, teh dll. Entah ini makan siang atau sarapan, atau mungkin makan dhuha? Saya melihat di rumah si ibu terdapat foto keluarganya. Terdapat si ibu dan suami, serta kedua puteranya. Kebetulan, anak tertuanya sedang libur seusai menyelesaikan kuliahnya. Setelah selesai makan dhuha tadi, saya berbincang-bincang dengan si Aa, putera dari ibu itu, sambil menghisap rokoknya dan juga meminum secangkir minuman, si Aa bercerita tentang perkuliahannya dan masa depannya untuk bekerja sebagai pelaut. Ditemani kokokan ayam di sebelah kami dan juga meongan kucing yang memperebutkan tulang ayam dari teman kami, kami berbincang menggunakan bahasa sunda, tetapi yang saya dengar, si Aa sering menggunakan bahasa Indonesia, mungkin karena ia kuliah di semarang, jawa tengah. Teman-teman saya pun sudah mengajak pulang ke rumah tinggal. Di rumah kami berbincang-bincang ringan, sambil melihat kondisi teman kami yang terpeleset itu. Tak lama kemudian, dokter dari sbm datang melihat kondisi feby. Ia ditemani pak Anggara Wisesa serta dua orang kroninya.
Selanjutnya kami berpencar untuk melihat situasi dan kondisi dusun cisumur, serta mengetahui batas-batas dusun cisumur agar esok hari kami melakukan penelitian secara efektif, tidak jauh-jauh keluar dusun. Saya dan teman saya Kenny menelusuri dusun ini kearah timur, kearah kami datang tadi. Kami melewati pepohonan yang sangat rindang, dibawahnya terdapat beberapa kandang kambing (domba). Kami menelusuri kandang itu, berharap bisa menemui seseorang yang bisa kami tanyain. Kami menemui seorang ibu yang menggunakan daster sedang menjemur sesuatu yang mirip padi, atau memang itu padi. Ibu itu bilang bahwa yang punyanya sedang tidak ada. Jadi kami melanjutkan penelusuran kami. Sampailah pada jalan raya yang tadi kami lewati dengan bus. Terdapat sebuah warung, berhubung cuacanya sangat panas sekali, saya memutuskan untuk berhenti membeli minuman dingin dan sambil bertanya-tanya. Ada pembeli lain yang kelihatannya habis dari sawah, ia menggunakan topi, berkaos hitam, dan sandal jepit. Ia membawa rokoknya sendiri saat saya menawarinya rokok. Ia bercerita tentang kondisi perekonomian warga dusun cisumur ini, baik sebelum panen ataupun pasca panen. Setelah kami selesai dan merasa harus kembali ke rumah. Saya dan Kenny berpamitan dengan si bapak. Kemudian kami memutuskan untuk kembali ke rumah melalui jalan yang berbeda. Kami menuju kea rah selatan. Di tengah perjalanan, kami menemukan ibu-ibu yang sedang menjemur padi dan ketan menggunakan alat seperti serok untuk meratakan padi dan ketan itu.
Kenny menanyakan banyak hal kepada ibu ini. Ibu yang menggunakan caping, bersendal jepit dan berbaju lengan panjang agar tidak tersentuh oleh panasnya sinar mentari ini menjawab dengan senang hati pertanyaan Kenny. Tak lama kemudian datanglah dua sosok manusia yang tidak asing lagi, ya, mereka adalah ahyan dan bacin, keduanya adalah teman sekelompok kami yang sedang berjalan
Jalan juga menelusuri dusun ini. Kami melanjutkan perjalanan, dari tengah-tengah sawah kami melihat laut selatan, terlihat sangan jelas beserta awan-awan yang sedang menaunginya. Saya berpikir, hal-hal seperti ini lah yang dapat membuat kami tidak ingin pulang ke Bandung. Di tengah perjalanan pula kami melihat sebuah traktor yang mungkin biasa digunakan untuk membajak sawah. Kami sudah tidak kuat lagi dengan panasnya ini. Kami takut dehidrasi dan ditemukn 3 hari kemudian sudah tinggal tulang belulang, akhirnya kami memutuskan untuk segera menuju arah rumah. Cobaan bertubi-tubi, kami nyasar lumayan jauh di persawahan. Medan yang terjal ini membuat kami panik, kami memutar balik haluan kami, mengulang dari tempat kami menemukan traktor. Ternyata dari situlah jalan menuju rumah yang benar. Sampai rumah kami menemukan teman-teman saya sedang membuat jural dan catatan lainnya. Saya memutuskan untuk rebahan di teras,mengeluarkan udara suhu panas dari dalam tubuh saya sambil menarik nafas dalam-dalam. Setelah suhu normal saya kembali, saya mengambil buku catatan saya dan mulai menulis di teras ditemani dua ekor kucing yang sedang tiduran di atas celana yang bertransformasi menjadi lap pel. Efek dari normalnya suhu tubuh saya setelah panas adalah mengantuk. Jadi saya putuskan untuk tidur sebentar. Setelah bangun, saya lanjut menyelesaikan tulisan ini.
Sore ini kami berpencar lagi, dengan beberapa teman saya, kami mengunjungi sebuah lumbung padi atau tempat penyimpanan padi. Kebetulan didepannya terdapat rumah sang ketua lumbung itu. Kami berbincang dengan bapak itu. Ia bernama pak usep. Disini mata saya sudah mulai mengantuk. Saya sudah tidak focus mendengarkan pak usep yang sebenarnya sedang tidak enak badan ini. Dengan baju oranye ‘for greater good’ ini saya melenggutkan kepala saya karena saking ngantuknya. Dan akhirnya tiba lah saat berpulang ke kediaman sementara kami itu.
Sampai di rumah, ternyata sudah ada seorang abah yang sedang mengurut si feby. Ia menggunakan minyak urut ajaibnya yang resepnya ia dapatkan dari cimande,bogor, jawa barat. Ia bercerita banyak tentang pencak silatnya. Ia yang menggunakan kaos hitam dan celana hitam, serta batu akik ini pelan-pelan memijat kaki feby yang sakit. Katanya tidak apa-apa uratnya sudah diberesi, tetapi tidak tahu dengan tulangnya.
Senja pun tiba, kami berbondong-bondong mengantri untuk mandi. Tentunya saya tidak ikut-ikutan. Saya adalah golongan yang mandinya pagi di kelompok ini. Saya masih sanggup tidur dengan badan yang kata orang lengket. Sebelum tidur kak tutor memeriksa jurnal kami dan hasil-hasil observasi kami. Sampai diatas pukul 9 malam, mata saya sudah mengajak untuk pergi ke dimensi mimpi. Ia sudah tidak tahan lagi. Dengan memintanya mata saya untuk pergi ini, berakhir pula tulisan saya ini.
Maskot Kota Batu #soktau #throwback #2012 #Ekskursi #DTKUI (at Kota Wisata Batu Malang)
In Bali
#Ceritanya #ngegambar #dari #Jakarta - #Cirebon (#ekskursi)