Ekstraksi
Ekstraksi /ekstraksi/
(nomina) ringkasan atau ikhtisar
“Hello Sheryl!” Sapa ku.
“Hai Ko!” Balasnya.
“Sehat dan Bahagia kan Sher?Kalau belum bahagia, sini kuajak kamu bahagia.’’ Lanjutku.
“Buseht, masih pagi cuy,pepet terus hahah.” Entah siapa yang nimbrung.
Walau masih pagi, energi kehidupan sudah memenuhi salah satu kampus di ibukota ini.
Kampus. Tempat para mahasiswa menghabisi masa muda dengan energi kehidupan yang meluap-luap.
Kupandangi sekitar. Ada yang berjalan sendiri. Ada yang ramai-ramai. Ada yang necis, kekekinian, ada yang biasa saja. Walau begitu tetap dengan energi yang meluap-luap.
Mata kuliah hari ini begitu-begitu saja. Dipenuhi tugas yang entah kapan berakhirnya.
“Woy, matanya pak,fokusnya kemana tuh?wkwkw’’ ledek temen rese’.
Jikalau bukan karna Sheryl mana mungkin aku akan semangat kuliah. Konyol memang.
Yah setidaknya ini mampu merpetahankan motivasiku untuk kuliah.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
‘’Es Kopsus Kamu atas nama Kakak Ko!’’ panggil salah seorang yang ada dibalik bar. Aku berjalan perlahan mengambil pesanan ku. Membawa gelas berukuran 300cc buatan negeri yang terkenal akan romansa. Duduk di halaman kedai kopi rumahan yang pada namanya ada kata senja. Kuyakin sang pemilik adalah anak indie. Kopi dan Senja. Oh indie sekali. Entah mengapa kopi itu identik dengan senja. Apakah sebuah dosa jika meminum kopi dikala fajar?. Terlepas dari apa yang digaungkan anak indie. Tempat ini cukup baik. Diramaikan temaram lampu-lampu kuning khas warung remang-remang. Diiringi serenade dari musisi yang tak pernah ku kenal namun ada.
“Apakah kamu menikmati waktu mu saat menjadi indie?’’
Sebuah kata-kata atau Quote yang tercetak di bon pembelian kopi ku. Entahlah. Benakku menjawab. Menjadi kebiasaan ku duduk di cafe atau warkop untuk mengerjakan tugas. Seperti Common People. Selain mengerjakan tugas, aku juga menikmati waktu menjadi penonton, penonton drama kehidupan. Menjadi ia yang sendiri dalam keramaian, drama kehidupan. Realita. Bagi sebagian orang merupakan drama yang paling murni karna ia terlahir dengan sendirinya, tanpa dibuat, tanpa ada skrip. Bagiku drama tetaplah drama. Selalu ada yang dibuat, manusia banyak memakai topeng, tergantung kondisi lingkungan. Mereka yang handal akan menjadi chameleon, sedang yang tidak handal akan menjadi anomali. Well, darisini aku belajar kita harus memakai topeng dan sepatu yang tepat sesuai lingkungan agar bias jadi femes.
Kehidupan di Kampus. Umumnya dipenuhi anak-anak muda yang semangat. Semangat buat nongki-nongki tapinya. Penuh dengan semangat muda. Saling bercengkrama satusama lain, bercanda, saling gombal. Pakailah kostum yang sesuai. Kalau terlalu banyak belajar akan dicap nerd. Dideketin ketika ada tugas aja. Kalau tidak semangat bergaul dianggap nolep. Terlalu mudah menghakimi. Dasar kamu. Dasar aku.
Terkadang aku berpikir, apa yang ada dibalik kostum. Kostumku. Kostum kamu, dan tentu kostum Sheryl. Apakah dia memang gadis ceria seperti di kampus, atau malah saat di rumah, dia hanya gadis biasa aja, dan apakah aku masih tetap menyukainya?. Terlalu banyak pertanyaan yang perlu dipertanyakan.
Mungkin kita harus mendpatkan ekstraksi dari kegiatan sehari-harinya, Ringkasan kegiatan. Terutama yang tak terlihat. Karna saat tak terlihat lah maka muncul diri yang asli. Diriku. Dirinya. Diri Kita
EKSTRAKSI













