Recruitment Call! Do you want to volunteer for EMA and be a part of a multicultural and dynamic environment? Say no more!😊 EMA is currently looking for ambitious go-getters for the positions mentioned. EMA is a purely volunteer-based association that relies on its enthusiastic volunteers for growth, learning and getting the job done! Being an EMA volunteer means taking ownership, being passionate and also having fun while you help create the EMA community. While volunteering at EMA, you: - Learn new things (a lot of new things!) - Meet people from all around the world! - Give back to the EMA community! - And get recognized for your incredible work! Visit the link to find out more: www.em-a.eu/volunteer If you're interested to work with EMA, you can apply to become an active volunteer ASAP! The deadline is rolling, so we will close them as soon as we find someone EMAmazing, don't miss out on the chance. APPLY NOW! Deadline to apply: 24.00 CEST, 31st of August, 2022 #erasmus #erasmusmundus #ema #emjmd #erasmusplus #erasmusplus (at ScholarshipJamaica.com) https://www.instagram.com/p/ChpUMqnuKY4/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Prolog: Hello world! Ternyata udah setahun ya berlalu dari tulisan pertamaku di seri “Being an Erasmus Nomad”. Padahal dulu berniat mau banyak sharing soal Erasmus+ supaya makin banyak yang aware dengan beasiswa ini, eh batal karena ke-moody-an ku. Maapkeun. Anyway, tahun ini Indonesia masuk Top 20 Countries dengan jumlah penerima beasiswa Erasmus+ terbanyak loh, HOORAY! Which btw motivates me to continue this #ErasmuStory, so enjoy...
---
Bukan, ini bukan ‘rumah’ dengan konotasi ala pujangga yang mengatakan hatimu adalah rumahku. Ini rumah beneran, tapi dikasih tanda kutip karena bentukannya bisa macem-macem. Bisa berupa kosan, dorm, atau apartemen. Why I decided to talk about this? Sebelumnya kan udah ngebahas soal visa, nah salah satu berkas yang wajib ada saat apply visa adalah bukti/kontrak tempat tinggal di negara yang kita tuju. Karena kedutaan ga mau dong kalo kita jadi gelandangan di negara mereka. Tapi, gimana ya nyari dan milih 'rumah’ yang akan ditempati selama beberapa bulan atau bahkan setahun? Padahal, kesana aja belom. Gimana kalo ga sreg? Lebih amit-amit lagi, gimana kalo ketipu?
Lagi-lagi, sebagai seorang Erasmus Nomad, proses mencari ‘rumah’ udah kualami lebih dari sekali. Yang mana, dapetnya emang gampang susah-susah (lah susahnya lebih banyak dong wkwk). Beberapa temenku kadang milih untuk nyari seadanya di awal, ntar pas udah sampai di negara tujuan, baru deh nyari yang beneran sreg di hati. Well, it could be one of your options. Tapi, aku personally kurang suka kalo harus sering pindah-pindah gitu (karena bawaannya segambreng coy!). Makanya dulu juga cuma pernah pacaran sekali, karena males pindah-pindah hati #eh.
Anyway, sebagaimana cerita Drama Visa sebelumnya, let me tell you the stories country by country.
Salzburg, Austria (1)
Kebetulan, waktu itu aku dapet admin program yang baik bangeeeet. Namanya Liesa. Doi yang dari awal bantuin aku dan temen-temenku nyari tempat tinggal di Salzburg. Doi nawarin kami untuk stay di studentenheim aka dorm khusus pelajar dan mahasiswa. Sepengetahuanku, dorm ini bukan milik kampus. Jadi, ada yayasan-yayasan yang nge-handle beberapa dorm yang tersebar di seantero Salzburg.
Dari beberapa pilihan, yang tampilannya oke (based on their website photos) dan harganya terjangkau adalah Europa Kolleg. Lokasinya sih agak ‘pinggiran’, tapi naik bus ke kampus cuma 10 menitan. Liesa pun akhirnya mengusahakan kami untuk dapet kamar di dorm tersebut.
Seharusnya, sebagai mahasiswa internasional, urusan per-dorm-an ini dilakukan via yayasan bernama OEAD. Tapi... di OEAD ini ada biaya registrasinya dan depositonya mahal! Sedangkan, lebih murah kalo kita ngurusnya via Salzburger Studentenwerk, yang sayangnya dikhususkan cuma untuk mahasiswa asli Austria. Untungnyaaaa, Liesa berhasil merayu Studentenwerk untuk bersedia nyediain kamar-kamar buat kami. Down side-nya, kami ga bisa dapet kamar yang private. Harus sharing, sekamar berdua. Terutama karena kami disana cuma sekitar 4 bulanan. Agak sedih sih awalnya, tapi ya udah deh ya terima aja. Mayan bisa lebih ngirit juga HAHAHAH.
Kurang lebih begini penampakan kamarnya (foto diambil dari https://studentenheim.at/)
Fasilitas: Kasur, lemari, meja belajar, rak buku, dapur+kamar mandi dalam.
Harga: Sekitar 270euro per bulan.
Nah, untuk urusan pencarian ‘rumah’ yang pertama ini no drama sih. Ya karena dibantuin banget sama Liesa. Bahkan, saking baiknya, doi juga ngebujuk koordinator program untuk nalangin dulu uang deposito kami! Duh, tau aja deh Liesa kalo kami ini para sobat misqueen lol. Ga hanya itu, doi juga yang ngebeliin segala perintilan semacam bantal, selimut, sprei, alat masak, dan alat bersih-bersih buat kami, luv Liesa <3
Europa Kolleg is one of the best dorm in Salzburg sih menurutku. Walopun lokasinya ga di tengah kota, tapi walking distance dari Hofer (salah satu supermarket termurah di Austria) dan McD! Cocok buat aku yang orangnya introvert merepet individualis, jadi kalo lagi males ngobrol sama roommate atau kepingin fokus belajar, tinggal melipir dah ke McD haha. Deket sama mall juga. Deket sama gym kampus. Pokoknya pas banget untuk mahasiswa. Denger-denger, dapetin kamar disini juga mayan susah. Soalnya pada mau kesitu semua haha.
Tapi... buat para calon pendaftar DCLead, jangan harap bakal semudah ini juga ya. Karena Liesa udah resign, jadi yang dibantuin sebegininya cuma angkatanku doang. Angkatan-angkatan bawah setelahku pada disuruh nyari sendiri semua wkwk.
Brussels, Belgium
Walopun di VUB (kampusku yang di Brussels) juga ada adminnya, tapi kami cuma dikasihin link beberapa opsi akomodasi yang bisa dicoba. Yang intinya, silahkan mencari sendiri (MANDIRI WOY!!! Lol). Salah satunya yang ditawarkan adalah dorm kampus bernama U-Residence. Lokasinya di lingkungan kampus, jadi bener-bener deket, ngesot udah bisa nyampek kelas hehe. Bangunannya juga modern karena waktu itu terhitung baru selesai dibangun. Tapi aku ga buru-buru memutuskan untuk ambil karena ada hal penting banget yang ga disediakan, yaitu KOMPOR. Di dalam kamar cuma ada kulkas dan microwave. Padahal, untuk bisa berhemat sekaligus makan makanan halal yang sesuai dengan lidah Indonesia, ya kudu banget untuk masak. Makanya ketika tahu kalo ga disedian kompor, aku langsung meragu. Ada sih yang nyaranin untuk beli kompor listrik aja, yang harganya juga terjangkau. Tapi, setelah nyari-nyari info, karena kamarnya ga didesain untuk kompor, alarm kebakarannya jadi sering bunyi. Yang akhirnya bikin pengurus gedung jadi marah-marah. Big no sih buatku, daripada ntar diusir ya kan, apalagi kalo lagi goreng terasi atau ikan asin hihi.
Mulai deh aku hunting opsi lainnya. Sampai niat banget bikin pro-cons list buat nentuin mau milih dorm yang mana. Sebenarnya bisa juga sharing flat sama temen. Namun, lagi-lagi, karena aku tipe introvert individualis, aku pingin nyari tempat tinggal yang fully private. Selain itu, aku prefer dorm karena pasti ada pengurusnya. Sehingga kalo ada apa-apa, misalnya ada yang rusak, bisa tinggal manggil, ga perlu rempong sendiri. Terus ada laundry room, jadi kalo mau nyuci baju ga perlu nyari tempat laundry di luar. Mau nyuci baju tengah malem atau dini hari? Bisa banget karena buka 24 jam, asalkan berani aja gelap-gelap sendirian di basement lol. Tarif bulanannya juga udah include semua, termasuk biaya air, listrik, dan internet. So yeah, those could be some of your considerations when choosing a place to stay when studying in Europe ;)
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya waktu itu aku milih Village Patrimmonia (sekarang namanya ganti jadi 365, go check https://www.365rooms.be/). Dari segi harga, sebenernya pricey. Karena untuk kamar kecil seluas 12 meter persegi, per bulannya aku harus bayar 505 euro (udah setengah dari jatah uang bulanan Erasmus itu woy!!! *nangis). Tapi, menurutku worth it. Dengan rajin masak sendiri, remah-remah uang yang tersisa masih cukup buat menghidupiku kok, bahkan masih bisa traveling wkwk. Cerita perburuan dorm ga berhenti sampai disitu. Walopun udah mutusin milih dorm ini, tantangan selanjutnya adalah milih kamar. Jadi, dorm ini terdiri atas beberapa gedung, yang mana layout kamar masing-masing gedung tuh berbeda, meskipun luasnya sama. Alhasil, lama banget waktu itu milihnya. Berkali-kali ngasih list kamar preferensi ke manajer dormnya untuk minta real photo-nya. Endingnya, aku milih kamar di lantai 4. Di dorm yang tanpa lift. Tapi kuanggep aja kesempatan untuk olahraga tipis-tipis haha. Dan aku ngerasa, pilihanku udah perfect choice banget, karena temen-temenku yang tinggal di dorm yang sama pun akhirnya iri sama kamarku HAHAHAH. Pesan moralnya: Hard work indeed pays off #halah.
Brisbane, Australia
Tantangan pencarian rumah sebagai perantau nomaden terus berlanjut. Saat akan ke Aussie, tantangannya berupa durasi tinggalku yang sangat singkat, cuma 3 bulan. Padahal, student dorm di sana semuanya minta minimal stay-nya selama 6 bulan. Ketika lagi bingung nyari-nyari tempat tinggal, ada temenku yang nawarin buat sharing apartemen. Awalnya aku ragu, karena temenku ini cowok. Tapi aku juga ga punya pilihan lain, karena dari 4 mahasiswa programku yang milih buat ke Aussie, yang cewek emang cuma aku. Apalagi temenku ini non-Muslim, ada sedikit kekhawatiran kalo dia akan sering masak makanan non-Halal. But again, in desperate times, you don’t really have a choice haha. Kebetulan temenku ini emang salah satu temen deketku, kita udah sering travel bareng, dan aku udah cukup tau karakternya doi. Doi pun orangnya bersih banget (bahkan bisa mandi sampai 5x sehari lol!), jadi bakalan terhindar dari drama kzl dengan roommate yang jorok. Juga jarang minum alkohol, so no drunk or hangover drama HAHA. And yeah, at the end, I agree to share an apartment with him.
Nah, yang kemudian repot hunting apartment, ya temenku ini. Aku lebih banyak berleha-leha lol. Setelah berbagai pertimbangan, kita mutusin stay di salah satu apartment di kawasan Fortitude Valley, yang mana kita nyewanya via AirBnB!!! Banyak yang kaget tiap kita ceritain soal ini. Karena kan AirBnB identik dengan nyewa rumah buat liburan doang. Well, it turns out, you can rent for a longer period. Ada beberapa plus-minus sih manfaatin AirBnB untuk nyewa tempat tinggal saat studi. Plusnya, ga perlu bayar deposit yang mahal. Biasanya, kalo lewat jalur ‘normal’, dibutuhin deposit sekitar 1-2x lipat dari tarif bulanan. Di sisi lain, dengan nyewa via AirBnB, kondisi rumahnya saat kita pertama dateng juga ready-to-be-stayed banget. Ibarat hotel kan ya, pasti dirapiin banget sebelum kita dateng. Peralatan rumah tangganya juga lengkap. Sedangkan, kalo kita nyewa dorm/apartment pada umumnya, seringkali kosongan. Cuma ada kasur dan furnitur. Minusnya? Bayar mahal di depan karena harus langsung bayar buat 3 bulan. Bayangin kalo ternyata ga cocok dan pingin pindah, bakalan rugi bandar.
Untungnya, tempat yang kami pilih waktu itu bagussss bangeeet. Sama sekali ga ada niatan pindah. Apartemennya luas. Segala peralatan rumah, dari kebutuhan primer sampai tersier tersedia (ada kursi pijet dan table football segala!). Ownernya juga ramah banget. Pas kita ngelapor ada yang rusak, gercep banget buat benerin. Kebetulan juga, di deket apartemen itu ada toko daging halal dan asian market.
Seems like everything’s good huh? Well, tetep ada ‘tapi’-nya sih. Tiap kali aku cerita kalo stay di kawasan ini ke temen-temen sesama orang Indo yang di sana, pasti mereka bakalan heran. Kenapa? Karena Fortitude Valley itu semacam kawasan night-life nya di Brisbane lol. Di seberang apartemenku aja banyak bar. Tiap weekend, malem-malem pasti rame dengan musik buat joget-joget HAHA. But, I don’t consider this as a downside. Soalnya, aku ga pernah ngerasa terganggu. Justru terbantu ketika awal pertama kali sampai di Brisbane. Waktu itu, pesawatku landing tengah malem. Awalnya, aku berencana untuk stay beberapa jam di bandara dan baru ke apartemen di pagi hari. Tapi karena ternyata bandara Brisbane kecil dan tidak se-comfy Changi (oops), niat itu kubatalkan. Nekat aja jam 1 pagi naik bus ke apartemen, meskipun temenku ditelponin ga kunjung ngangkat (doi udah tidur wkwk). Untungnya, karena jadi pusat night life itu, tengah malem pun masih rame di sekitaran apartemen. Aku pun ga ngerasa takut/khawatir. Begitu nyampe, aku dan temenku malah late-dinner dengan makan McDonalds yang ada di deket apartemen. So, another moral story: Yes, AirBnB could be one of your choices when looking for a place to stay under 6 months (hopefully this platform could survive this pandemic :’)).
Salzburg, Austria (2)
Di postingan sebelumnya, udah kuceritain kalo aku balik lagi ke Austria di masa-masa terakhirku kuliah. Serupa dengan pencarian rumah di Australia, permasalahan yang dihadapi ialah singkatnya durasi tinggalku. Cuma 3 bulanan. Yang tentunya menjadikanku sulit mendapat dorm idaman. Yup, dari berbulan-bulan sebelumnya, aku udah berusaha berkomunikasi dengan Salzburger Studentenwerk demi bisa kembali dapet Europa Kolleg. But as I said earlier, dorm ini adalah incaran banyak mahasiswa, jadi susah banget buat dapet kamar di sana. Akibat masa tinggal yang singkat, aku pun akhirnya ga bisa mendapatkan kamar dengan status sebagai mahasiswa. Meski nyewa lewat yayasan yang sama, tapi kali itu aku baru bisa dapet kamar via layanan guest house mereka (https://guesthouse.at/en/). Jadi, hitungannya bukan per bulan, tapi per hari!!! Lebih mahal? Jelaslah!!! Tapi, setelah kuhitung-hitung, masih on budget. Another down side? Sama kayak nyewa via AirBnB, bayarnya di awal *langsung kuras tabungan.
Karena ga memungkinkan untuk dapet Europa Kolleg, aku pun ditawarin untuk stay di Franz von Salles Kolleg. Gedungnya sebelahan banget sama Europa Kolleg. Jadi secara lokasi, tentu ga ada masalah. Cuma memang gedungnya lebih tua gitu. As I have no better options, yaudah aku setuju untuk ditempatin di sana. Dari sisi estetika kamar, it’s certainly not as good as Europa. Astaga, isi kamarnya tabrak warna banget lol. Lantainya coklat kayu yang motifnya rame, gorden ijo, dapur merah, and worst of the worst, dinding kamar mandinya oren gonjreng dong woy!!!
Sumber foto: https://guesthouse.at/en/hostels/franz-v-sales-kolleg/
But, of course, I don’t hate everything about this dorm. Ada beberapa perks yang aku suka juga. Salah satunya, karena aku nyewa sebagai ‘guest’ bukan mahasiswa, kamarku dibersihin setiap seminggu sekali. Seprei dan handuk rutin diganti dan tempat sampah dikosongin. Juga dapet peralatan dapur yang mayan lengkap. Selain itu, ukuran kasurnya juga lebih gede dari kasur single pada umumnya. Cocok buat aku yang kalo tidur ga bisa pose normal. Best of the best, view kamarnya dong!!!
Apalagi kalo pagi-pagi, berkabut gini...
Salah satu kegiatan favoritku semasa tinggal di kamar ini adalah duduk di dekat jendela sambil muterin musik selo yang syahdu. Di antaranya, lagu-lagu Adhitia Sofyan atau Fourtwnty. Terus ngelamun deh ngeliatin pemandangan. Yang kemudian bikin bersyukur, ah betapa indahnya bumi Allah~
So yeah, these were my experiences on looking for homes in Europe and Australia. It was not easy, but give it a lil bit of effort or you might regret it. It will be the place where you spend your time after an exhausting day in campus, so you need to make sure that you will enjoy it ;)