Meski Besok Mati, Tanamlah Pohon
Ada satu pesan Nabi yang terasa sederhana, tetapi mengguncang cara kita memandang hidup, termasuk apa yang terjadi belakangan ini dengan negara ini:
"Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah." (HR. Bukhari & Ahmad)
Kalimat pendek itu bukan sekadar anjuran bercocok tanam. Ia adalah teologi harapan, falsafah kerja dan standar akhlak yang tidak tunduk oleh keadaan dan kezaliman.
Faktanya:
Tiap tahun 10 juta hektare hutan hilang 27 ribu hektare per hari (FAO).
40% daratan kering permanen/mengalami degradasi (UNCCD).
Indonesia menjadi negara kedua terbesar penyumbang deforestasi dunia selama 2015-2024 (GoodStat).
2024 adalah tahun terpanas sepanjang sejarah (World Meteorological Organization).
1 juta spesies hewan dan tumbuhan terancam punah (IPBES Report).
70% habitat gajah Sumatera hilang hanya dalam 25 tahun terakhir (WWF).
Indonesia kehilangan 2.35 juta hektare taman nasional dari tahun 2000-2022 akibat perambahan (KLHK).
Dengan segala pembenaran. Dengan menyalahkan perubahan iklim dan cuaca, ditambah lagi hanya bisa mengatakan bahwa ini takdir Tuhan.
Anehnya, kita masih merasa tidak bersalah, bahkan dengan mentalitas baru: "Lah bumi juga bakal kiamat. Santai. Bakar dulu hutannya, panen dulu cuannya."
Ini mentalitas yang dibantah langsung oleh Nabi SAW, "Besok kiamat? Hari ini tanam." Artinya:
Jangan jadikan kiamat sebagi alasan membenarkan kemalasan.
Jangan gunakan takdir sebagai alasan merusak alam.
Jangan sembunyi di balik agama untuk melanggengkan kebodohan ekologis.
Hadis tentang menanam pohon ini adalah MANIFESTO HIJAU seorang Rasul yang 1.400 tahun lalu sudah bicara keberlanjutan. Sebuah deklarasi Islam sebagai agaman yang pro-lingkungan. Islam yang tegas menghubungkan iman dengan ekologi:
Menanam pohon = sedekah.
Menjaga air = ibadah.
Merusak alam = dosa.
Hewan punya hak hidup di habitatnya.
Tanam pohon = Tanam masa depan yang mungkin bukan untuk kita. Sebagaimana Islam memerintahkan kita berbuat baik untuk mereka yang bahkan belum lahir. Inilah etika ekologiis umat Nabi: kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, melainkan meminjamnya dari anak cucu.
Ingat apa kita salah seorang warga Gaza?
Even as agriculture in Gaza is on the 'verge of extinction,' farmers vow to plant their lands
"To plant a seed is to believe in the future," Abu Hamad said, paraphrasing seed keeper Vivian Sansour. In other words, sowing seeds isn't just about what you can harvest in your own lifetime, but aboaut making sure generations not yet born have something to harvest."
"Menanam benih berarti meyakini masa depan."
Memastikan generasi yang belum lahir memiliki sesuatu untuk dipanen.
Ketika dunia dipenuhi kabar kebakaran hutan, banjir bandang, punahnya spesies, krisis air, panas ekstrem, banyak yang merasa: "Untuk apa? Sidah terlambat."
krisis iklim: ketika kiamat semakin dekat, kita justru diperintah menanam. Menanam pohon adalah metafora dari semua kebaikan kecil. Bahkan jika besok dunia runtuh, hari ini tugasmu tetap sama" menanam, memperbaiki, menyembuhkan.
Kebaikan selalu relevant, bahkan di ambang kiamat, bahwa iman tidak membuat kita berkarya, bahwa menanam-secara harfiah atau metaforis adalah tanda bahwa hati masih hidup.















