Why i resigned from last company
Tulisan ini bukan untuk bertujuan untuk menjelek2an perusahaan, apalagi perorangan. Ini murni hanya uneg2 yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Semoga tulisan ini ada pelajaran bagi kita semua, khususnya bos-bos perusahaan.
Jujur aja keputusan resign ini sebenarnya cukup mendadak. Tidak sampai satu bulan sebelum saya resign. Bahkan dari saya pertama kali ke site (Februari 2022) sampai saya cuti (April 2022) pun tidak ada rencana ingin resign, walau teman2 sudah banyak yang resign. Kalo ditanya why you quit? ya simpel aja jawabnya, karena udah dapat perusahaan baru hehehe. Tp kalo ditanya why you seeking the new job? Nah ini yang akan aku bahas.
Sebenarnya baru terpikir untuk mencari pekerjaan baru sejak akhir april kmrn dimana ada peluang untuk bekerja di dekat rumah. Akhirnya melamar aku ke perusahaan tersebut. Kebetulan, ada seorang process engineer yang mengundurkan diri dan akhirnya interview lah. Alhamdulillah perusahaan bisa menerima aku, memang proses perekrutannya cenderung cepat. Setelah diterima, akhirnya pada Mei 2022, aku resmi mengajukan resign.
Selain itu, salah satu faktor yang melatarbelakangi aku mau resign adalah faktor lingkungan. Beberapa kali selama cuti aku ditelpon kerjaan padahal bisa lewat chat. Bahkan yang paling mencengangkan adalah waktu aku disuruh meeting mendadak sekali. Ditambah lagi klien yang meminta saya untuk mengerjakan suatu pekerjaan padahal sedang cuti. Selain itu, tidak ada back to back alias process engineer sendiri, ditambah lagi tidak ada drafter sehingga saya sangat overload. Saya sudah menyampaikan ke manager mengenai penambahan orang dan masalah cuti diganggu, jujur saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Selain itu juga, kondisi lingkungan di sana dengan internet yang sangat sulit dan tidak bisa keluar kemana2, bahkan belanja aja sulit.
Setelah mengajukan resign, drama pun terjadi. Dimana manager saya menahan saya untuk tidak resign karena tidak ada pengganti. Pada akhirnya setelah menimbang2. Akhirnya saya memutuskan untuk resign. Eh pas resign malah salah seorang rekan kerja malah nyinyir saya wkwkwk. Ditambah lagi tidak ada ucapan goodluck dari atasan2 saya, malah disinggung masalah etika ketika resign.
Selain itu, juga saya tidak cocok dengan beberapa klien yang songong dan rekan kerja yang sangat mengganggu saya. Tapi itu tidak menjadikan alasan yang kuat untuk resign karena its too personal for me. Kembali lagi, lo bekerja dengan siapapun orangnya ya harus tetap profesional. Menjadikan alasan personal sebagai alasan untuk resign menurutku ya nggak banget lah.
Finally aku balik ke Jakarta tanpa menggunakan biaya kantor alias biaya sendiri. Dari situ aku mendapat pelajaran bahwa sebesar apapun gaji, setinggi apapun jabatan, kalo lingkungannya toxic ditambah sistem manajemen yang kurang baik ya tetap aja gak betah dan resign juga akhirnya. ingat, kesehatan mental dan jiwa itu lebih penting. Kalau kita kenapa-napa, ya perusahaan bisa cari pengganti, tetapi keluarga? kita gak bisa mencari ayah atau kakak pengganti!
Banyak banget pelajaran yang aku petik selama ini, tapi satu hal yang ingin disampaikan kepada kalian terutama para bos-bos di sana. Kalau kalian menganggap karyawan sebagai aset dan dijaga dengan baik bukan cuma semata hanya untuk mencari keuntungan semata, ya karyawan juga akan betah dan akhirnya tidak banyak yang resign. Toh, juga suatu perusahaan bisa mendapat keuntungan banyak karena karyawan juga kok.
Disini sekali lagi, aku bukan mau jelek2in perusahaan. Karena bagaimanapun perusahaan udah mau nerima aku untuk bekerja, apalagi perusahaan ini bisa jadi tempat lebih dari 100 orang mencari nafkah. Disini bener2 i have great experience and great knowledge from here.
Terima kasih dan mohon maaf