Swayne’s hartebeest Alcelaphus swaynei
Observed by canadianorway, CC-BY-NC-ND
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Philippines
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Australia
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from Philippines
seen from United States
seen from Italy
Swayne’s hartebeest Alcelaphus swaynei
Observed by canadianorway, CC-BY-NC-ND
16-летняя бегунья из Эфиопии :))
IAAF World U20 Championships Tampere 2018
#axum#acumnorthensteleapark#yirtik_harita#etiyopya#ethiophia (itfaiye Egitim Merkezi)
Motherly love | © David Burnett
This particular Nekisse Shakisso from the Sidamo region in Ethiopia, as sourced and roasted by Coutume Paris, must be one of the best coffees I've had in a while.
It's a pretty interesting natural processed coffee, but without the off-notes of over-ripe fruit. Instead, you get a nice hint of blueberries and white flowers, with a mild but present acidity. Awesome stuff.
Check the place out if you're in town!
His Imperial Majesty Menelik II.
(March 9, 1889 – December 12, 1913)
Mengenal Lebih Dekat Kekristenan di Etiophia
ADDIS ABABA (ETHIOPHIA) - Untuk bangsa Barat, beda rasanya mengunjungi gereja-gereja di Etiopia. Agama Kristen yang dianut memang sama, namun dikemas secara eksotis dengan sedikit sentuhan Timur Tengah. Dalam beberapa hal, umat Kristen di Etiopia sama seperti umat Kristen di Timur Tengah suasana syahdu dalam gereja, cara berpakaian kaum perempuannya, dan bahkan cara mereka berdoa: bersujud di atas kedua lutut. Bangsa Etiopia merasa bangga atas sejarahnya, apalagi karena mereka tidak pernah benar-benar mengalami penjajahan. Kebudayaan Kristen di Etiopia Utara telah tercatat sejak abad keempat Masehi. Pada hari-hari besar keagamaan seperti Natal dan Tiga Raja, ribuan peziarah berkumpul di tempat-tempat suci seperti Axum dan Lalibela. Beberapa dari mereka bahkan berjalan kaki berhari-hari menuju tempat-tempat suci tersebut. Dataran tinggi Etiopia memang penuh dengan jalan setapak yang telah berabad-abad usianya. Meskipun demikian, jalanan tersebut masih terus digunakan. 10 perintah Tuhan Di Etiopia terdapat sebuah tempat suci yang hanya boleh dimasuki oleh para pendeta. Kapel suci di Axum, menyimpan sebuah salinan Tabut Perjanjian, yaitu 10 Perintah Tuhan yang dipahat di atas batu. Dengan 10 Perintah tersebut Nabi Musa mengikat perjanjian antara manusia dan Tuhan. Menurut bangsa Etiopia, Tabut yang asli ada di Etiopia dan disimpan di kapel dekat gereja St. Mary di Axum. Setiap tahunnya, ribuan peziarah datang mengunjungi gereja dan kapel tersebut. Hanya dari balik jeruji besi mereka dapat menyaksikan kapel tersebut. Para wisatawan bahkan tidak diizinkan mendekatinya. Peraturan ini dikeluarkan setelah dua wisatawan memanjat masuk lewat jeruji besi untuk melihat Tabut dari dekat. (Kompas/Tim PPGI)
dari www.kabargereja.tk
[TRANS/IND] Cerita di Balik Kunjungan Junho '2PM' ke Ethiopia
Jakarta - Pertengahan Januari lalu, Junho '2PM' pergi ke Ethiopia selama 8 hari 7 malam. Namun saat itu belum diketahui, apa alasan kepergian Junho ke negara tersebut. Junho ternyata pergi ke Ethiopia bersama World Vision. World Vision adalah organisasi kemanusiaan yang berdedikasi pada orang-orang miskin di seluruh dunia. Cerita di balik kunjungan Junho itu diceritakan oleh seorang sukarelawan World Vision di Korea (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh 2PMalways). Tak seperti selebriti lain yang secara khusus dikontak oleh World Vision untuk membantu, Junho sendiri yang menghubungi World Vision untuk bertemu dengan Felmeta, anak asal Ethiopia yang sudah satu tahun terakhir dibiayainya secara diam-diam. "Aku ingin pergi ke Ethiopia dan bertemu Felmeta," ujar Junho saat itu. Ia bahkan sudah mengatur waktu liburan dengan manajernya agar bisa segera bertemu Felmeta. Junho terbang ke Afrika pada 16 Januari dengan duduk di kursi ekonomi. Ia dikabarkan menghabiskan 17 jam perjalanan dengan membaca buku. Setelah sampai karena Ethiopia adalah negara miskin, di hotel tempat mereka menginap tak ada restauran. Junho dan tim World Vision pun harus memasak sendiri. Sampai tiba waktunya untuk bertemu Felmeta. Anak itu langsung memeluk Junho. Junho memberinya seekor kambing, menemani Felmeta ke sekolah, dan memberinya segala macam peralatan sekolah. Selama seminggu di Ethiopia, Junho terlihat sangat menikmati liburannya. Ia bahkan sempat menangis ketika harus pulang ke Korea. "Akan sangat baik jika orang-orang yang bahagia bisa melirik ke anak-anak ini dan berbagi sedikit kebahagiaan dengan mereka," ucap Junho saat itu. Well done, Junho! (Sumber foto: World Vision via 2PMalways) (cr : detikcom. ast/mmu)