[PAID PROMOTE ACCELERATE 2018] Tas etnik model kekinian yang keren dengan harga murah? Cus follow @zakwoow_ethnicbag dan @zakwoow_catalogue . Harga mulai dari 45.000 - 150.000 sajaaa!!! Cuss buruan order sebelum kehabisan yaa !! . ORDER FREE ONGKIR? bisa banget via Shopee!! OPEN RESELLER? Bisa juga!Untuk kakak-kakak yang mau berbisnis dgn persyaratan mudah 😊 . Alamat store : jalan komojoyo 8, caturtunggal, depok, sleman. • @zakwoow_ethnicbag @zakwoow_ethnicbag @zakwoow_ethnicbag • #tasmurah #tastenun #tasetnik #tasetnikmurah #slingbagmurah #tascantik #tasmurahjogja #ranselmurah #handmade #zakwoowauthentic #zakwoowstory #wanderinstyle #tasetnik #caritasetnik #ethnicstuff #caritastenun #tenuntroso #dompettenun #dompetetnik #zakwoow #etnik #ethnic #ethniccraft #jogjaetnik #barangetnik
Hai, kamu yang sedang baca postingan ini, apa kabar? Kabarku, kuharap bisa lebih baik dari hari ini. :)
Setelah seminggu tidak bisa berjalan dengan normal karena efek turun dari gunung, banyak yang terjadi. Dengan berakhirnya UAS tanggal 9 Juni kemarin, berakhir pulalah semester 4 yang, yaa, lebih 'hidup' dari semester-semester sebelumnya. Bisa dibilang UAS terlancar dan ter-sesuai dengan kemampuanku dibanding UAS-UAS sebelumnya.
Mundur ke belakang lebih jauh, festival film Eropa yang lebih dikenal dengan Europe on Screen kembali dilaksanakan di beberapa kota besar di Indonesia dari tanggal 2 sampai 11 Mei. Tahun 2010 adalah tahun pertama aku 'mencicipi' beberapa film yang disajikan di festival ini, bersama sahabat-sahabat D3-ku yang gaul itu :p Sejak saat itu, di tahun-tahun berikutnya, aku selalu berusaha menyediakan waktuku untuk setidaknya satu hari saja menonton film pilihan yang disajikan untuk hari itu. Begitu pula pada tahun ini, aku berkesempan menikmati film-film Eropa secara gratisan selama dua hari berturut-turut, hihi.
Aku mengajak Stephanie. Karena kami hanya punya waktu pada akhir minggu, kami memilih hari Sabtu 10 Mei, yang merupakan dua hari terakhir festival. Awalnya kami berencana menonton film Tom Sawyer di Istituto Italiano di Cultura pada pukul 12 siang, lalu berpindah ke Erasmus Huis untuk Searching for Sugar Man pada pukul 14.30. Namun karena kemacetan Jakarta, kami baru tiba di daerah Menteng sekitar pukul 12 lewat, belum lagi kami harus mencari letak gedung IIC, jadi kami memutuskan untuk melewatkan Tom Sawyer dan memilih berjalan-jalan di Jalan Surabaya.
Stephanie memang temanku menjelajah Jakarta, jika sedang terlalu kurang kerjaan kemudian tergerak untuk naik bis keliling Jakarta, Stephanie lah orang pertama yang muncul di pikiranku. Dan berjalan-jalan di Jalan Surabaya adalah pengalaman pertama bagiku dan Stephanie. Jalan Surabaya di daerah Menteng, Jakarta, terkenal karena toko-toko barang antik yang berderet di sepanjang jalannya. Bermacam-macam barang antik mulai dari piringan hitam, satu set peralatan makan ala kerajaan (bahkan mungkin peninggalan kerajaan), keramik, pernak-pernik dan aksesoris peninggalan ratu kerajaan (mungkin?), cermin, lampu gantung cantik, kerajinan-kerajinan tradisional, dan masih banyak lagi barang-barang antik lainnya yang membuatku........... Ahh, sulit dijelaskan, kegirangan seperti anak kecil, cengengesan, gembiraaa sekali. Iya, ingin rasanya memiliki semua barang antik yang ada di sana, serius, barang-barang itu keren bangetttt, dan aku suka banget banget banget! Bahkan aku berjanji pada diriku sendiri, kelak jika aku sudah mempunyai rumah sendiri, aku akan menghiasi rumahku dengan barang-barang dari Jalan Surabaya, hehe. Namun mungkin karena barang-barangnya sulit ditemukan di manapun, jarang ada yang menjual, beda dari yang lain, harga barang-barang di Jalan Surabaya bisa terbilang mahal. Setidaknya, bagiku dan Stephanie. Meskipun begitu, aku berhasil membawa pulang tas superduper keren yang kata penjualnya, merupakan kerajinan asli Kalimantan, dan cincin yang terbuat dari cangkang keong.
Setelah puas menjelajahi Jalan Surabaya, aku dan Stephanie segera menuju Erasmus Huis. Karena aku pernah belajar bahasa Belanda di Erasmus Huis selama tiga bulan pada tahun 2011, kami tidak perlu kesulitan mencari letak gedungnya.
Jadi, highlight hari itu selain Jalan Surabaya adalah film Delicacy, yang kami tonton pada pukul 5 sore, setelah Searching for Sugar Man. Film Prancis yang dibintangi Audrey Tautou ini bercerita tentang bagaimana dua orang yang kelihatannya sangat tidak mungkin untuk jatuh cinta, terlalu di luar perkiraan orang-orang untuk berpasangan, ternyata malah saling jatuh cinta dan berpasangan. Karakter kaku, kikuk, dan polosnya pemeran utama lelaki lah yang menjadi penyegar dalam film ini.
Aku meng-update tentang kegiatanku hari itu di BBM sehingga Adon menyadarinya dan mengajakku menonton gratis lagi esok hari. Sebenarnya, untuk esok hari, aku berencana menonton Ernest and Celestine (Film yang pernah direkomendasikan oleh O) di Goethe Haus pukul 12 siang, sendirian saja. Tapi karena aku sudah cukup lama tidak bertemu Adon, dan hitung-hitung merayakan statusnya yang jadi anak Jakarte, ku-iya-kan saja ajakannya. Jadi sebenarnya, untuk hari ke-2 merupakan rencana di luar perkiraan. :))
Adon mengajak teman perempuannya yang lain, yang juga merupakan anak Jakarte baru, Nita namanya. Kami bertemu di depan Sarinah, lalu naik taksi menuju Goethe Haus. Kami tiba tepat pukul 12, dan untungnya masih kebagian tiket. Dan pantaslah O merekomendasikan film ini, aku tersentuh, bahkan menangis di akhir film. Ernest and Celestine merupakan film Prancis yang menceritakan persahabatan antara tikus dan beruang yang sebenarnya merupakan hal tidak wajar dalam dunia pertikusan dan dunia perberuangan. Film ini film kartun, dan aku sangat terkesima dengan nuansa pastel di dalamnya. Ada bagian di mana hanya ada alunan melodi sebagai backsound disertai gambar-gambar cantik yang bergerak-gerak. Bagian paling manis, paling kusuka.
Ada waktu rehat setengah jam untuk melanjutkan ke film berikutnya, yaitu Wadjda. Adon, aku, dan Nita mengobrol di tempat duduk-duduk pada ruang outdoor. Nita mengeluarkan biskuit yang dibawanya untuk teman mengobrol kami. Sejak itu aku tau bahwa biskuit Deka rasa choco-banana adalah cemilan yang endeus bingit dan sampai saat ini masih sering kubeli untuk cemilanku. Thanks to Nita, haha.
Wadjda juga film yang sangat menarik. Merupakan film Jerman dengan setting Riyadh, Arab Saudi, tentang gadis berumur 10 tahun yang terlalu berbeda dengan gadis-gadis seumurannya, gadis yang keluar dari jalur, banyak akal, cerdik, berani, dan menghidupi mimpinya. Film ini memperlihatkan betapa perempuan Arab Saudi diberi anugerah lebih dibanding perempuan dari negeri manapun, dalam hal kecantikan wajah.
Dari Goethe Haus, Adon, aku dan Nita menuju Pasar Festival untuk makan sore. Kami banyak bercerita, tentang Adon dan Nita yang bekerja keras bagai kuda sehingga tidak punya waktu untuk bersenang-senang, tentang kuliah dan ketertarikanku pada bidang pemasaran, dan tentang O. Aku sudah bercerita pada Adon tentang O, dan ia meminta Nita memberikan saran atau pandangan baru. Dan Nita, sebagai orang asing yang baru mengetahui ceritaku dan O, memberikan pandangan yang tepat sasaran, yang membuatku tertohok, yang membuatku berpikir. Yaa, seperti: "Percuma kamu lari kalo ga tau garis finish-mu di mana." Hehe. Mengesalkan ya Nita. Mengesalkan dalam artian yang bagus, maksudnya.
Sepertinya aku akan membahas O secara khusus dalam satu postingan.
Oke, sekian tentang keriaan Europe on Screen. Tanggal 29 Mei yang lalu, gereja kami merayakan ulang tahun yang ke-3 dengan berkebaktian padang di Taman Wiladatika, Cibubur, sekaligus memperingati hari Kenaikan Yesus Kristus. Melalui permainan-permainan yang kami ikuti, membuat keakraban antar jemaat semakin bertambah. Pastinya kegiatan yang menyenangkan dengan lokasi yang bisa dibilang menyegarkan mata.
Pertemanan rombongan pendakian Ciremai tidak berakhir begitu saja, kami memiliki grup whatsapp untuk saling mengobrol hal tidak penting, berbagi info-info, dan merencanakan perjalanan atau pertemuan lain. Rencana kopdar kami terlaksana pada 7 Juni yang lalu, di Summarecon Mall Bekasi. Semua bisa hadir kecuali Bang Anton, Rizky Fauzi, Bang Dwi, dan Desty. Saat itu hari Sabtu, aku melaksanakan UAS dari pukul 1 sampai 3 siang, lalu berangkat menuju Bekasi. Karena kopdar dilaksanakan di Bekasi, apalagi kami berjanjian pada malam hari, sudah dipastikan aku harus menginap di rumah Septi, yang merupakan warga Bekasi sejati.
Kami berkumpul di downtown Summarecon Mall Bekasi, menyantap makanan yang kami pesan sambil mengobrol dan menertawakan hal-hal yang bisa ditertawakan saat pendakian kemarin. Hanya sebentar saja kami menghabiskan waktu di downtown, lalu kami memutuskan untuk berpindah ke alun-alun Bekasi. Dengan suasana yang lebih nyaman, 'ramah', dan duduk ngemper beralaskan tikar, obrolan kami menjadi lebih hangat, lepas, dan hidup. Alun-alun Bekasi membuat ingatanku melayang pada alun-alun Jogjakarta, suasana dan keramaiannya sama persis, kecuali lahan semen pada Bekasi, lahan rumput pada Jogja.
Ditutup dengan pembicaraan tentang perjalanan berikutnya yang menggantung, kami kembali ke rumah masing-masing, sekitar pukul setengah 12 malam saat itu. Keesokan harinya, aku mengikut saja apa rencananya Septi hari itu. Kebetulan, Septi dan tiga temannya sudah mempunyai rencana untuk mengikuti Jakarta International 10K, yaitu lari massal pada car free day dari jalan Sudirman sampai Thamrin, Jakarta. Walaupun kami tidak lari bersungguh-sungguh pada acara itu, namun aku menikmati suasana hiruk pikuk Jakarta pada pagi itu. Kami menyusuri sepanjang jalan Thamrin sampai ke Monas. Sesekali dengan berlari, lebih seringnya dengan berjalan santai.
Ramainya jalan Thamrin pagi itu menjadi kenikmatan tersendiri bagiku. Aku tidak peduli dengan matahari yang membakar kulit tanganku. Aku menikmati melihat banyaknya manusia tumpah ruah di jalanan, jajanan-jajanan di pinggir jalan, berbagai macam komunitas yang berkumpul, dan ada beberapa orang yang membawa anjing peliharaannya. Minggu pagi itu aku melihat beberapa husky dan retriever, itu yang paling membuatku sumringah.
Well, mungkin itu saja beberapa kejadian penting dalam hidupku beberapa minggu ini. Aku tidak pernah menulis dengan singkat ya, hihi. Untuk kalian yang bersedia membaca setiap ceritaku, terima kasih! :)