FanCorner - Xenokuden The Fantasy Story by Xenokuden Hanya di http://toraheki.com/fancorner-xenokuden-fantasy-story-xenokuden/ Toraheki
Check Info Gaming Indonesia Terbaru di http://toraheki.com/fancorner-xenokuden-fantasy-story-xenokuden/
FanCorner - Xenokuden The Fantasy Story by Xenokuden
Kali ini Toraheki membuka sebuah fitur baru bagi kalian pembaca setia Toraheki.com yang memiliki sebuah karya seni milik mereka sendiri yang ingin kalian tunjukan ke teman – teman disini dalam fitur FanCorner !
Dalam pembukaan fitur ini, kami memiliki sebuah karya literatur original yang akan kita post dalam beberapa kali di minggu – minggu yang akan datang, karena sifat dari submisi kali ini yang memiliki cerita yang panjang, submisi pertama ini merupakan novel dari Jodi Alvayet berjudul Xenokuden The Fantasy Story yang menceritakan dunia fantasi Xenokuden perjalanan persaudaraan yang penuh dengan cerita mendebarkan, mengharukan yang kental dengan suasana RPG klasik cocok untuk kalian pecinta novel fantasy, enjoy bagian pertama dari novel Xenokuden ini guys!
“Hah…! hah…!! hah…!! hah…!!” Aku terus berlari masuk kedalam hutan. Terdengar bunyi decakan air akibat kakiku yang berlari diatas sungai kecil.
Kalau dipikir-pikir… sungai dan pemandangan disini sebenarnya cukup indah, tapi saat ini aku tidak bisa memikirkan hal itu, yang terpikir diotakku sekarang hanyalah lari dan lolos dari kejaran gerombolan Mamboo…
Tunggu, sepertinya aku belum memperkenalkan diri ya?… baiklah, namaku Putri la Congcor. Orang-orang didesaku biasa memanggilku Putri. Aku berasal dari keluarga yang kaya dan terhormat. Ayahku bernama Komen en Congcor dan menjabat sebagai kepala desa didesa Weswud…
Lalu kenapa aku bisa sampai berlarian dihutan ini dengan ketakutan?… Hmm, ceritanya begini…
Disuatu kawasan barat bumi Xenokuden ini terdapat desa kecil yang bernama Weswud. Keadaan desa itu selalu aman dan tentram, para penduduknya selalu hidup harmonis dan damai. Ayahku, Komen en Congcor menjabat sebagai kepala desa disitu dan memimpinnya dengan baik… Tetapi dua bulan terakhir ini kami mendengar telah muncul gerombolan perampok yang selalu menyerang desa-desa kecil. Perampok yang menamakan dirinya dengan gerombolan Mamboo. Mereka adalah pembunuh berdarah
dingin yang benar-benar kejam! mereka selalu membunuh siapapun dari desa yang mereka serang dan membakar habis semuanya tanpa tersisa sedikitpun termasuk harta dan penduduknya… yang tersisa hanyalah puing-puing desa tersebut.
Korban kebiadaban mereka sudah dua desa tetangga yaitu desa Gidia dan desa Mamod… tampaknya sekarang ini korban mereka sudah bertambah satu lagi… ya, desakulah korbannya.
Aku berhasil lari dari desa itu ketika sedang terjadi pembantaian yang mengerikan. Ayahku menyuruhku kabur sejauh mungkin dari tempat itu sedangkan beliau menolak untuk ikut denganku, dia lebih memilih berjuang bersama para pejuang didesa kami dari pada meninggalkannya. Ibuku juga tampaknya tidak mau meninggalkan ayah sendirian… Aku sebenarnya juga ingin ikut berjuang, tetapi aku tidak mempunyai keahlian dalam bertempur. Mungkin satu-satunya kelebihanku yang aneh adalah aku mampu melihat gerakan seseorang dengan baik walau secepat apapun…
“Hah!!… hah!!… hah!!…” Ok, tampaknya penjelasanku sudah cukup, saat ini aku harus mencari jalan keluar agar bisa lolos dari para perampok itu.
“Hah… hah… hosh!!… hosh!!…” dadaku serasa mau pecah! aku sudah tidak tahan lagi… Sialan!! pikirku, mereka benar-benar tidak mau menyerah. Mungkin karena prinsip mereka yang selalu membunuh siapapun dari desa yang mereka serang itu yang membuat mereka terus mengejarku.
“Itu dia! Dia ada disana!!” teriak salah satu dari perampok itu.
Celaka! Aku sudah ketahuan. Sepertinya aku harus lebih cepat lagi dalam berlari, pikirku.
“Hah!… hah!!… hah!… hah…!! hah…” nafasku sudah nggak karuan… tapi aku harus terus berlari dan berlari… aku harus lolos dari biadab-biadab itu…
“Cepat!! Dia sudah tidak jauh!… jangan biarkan dia lolos!!” Aku mendengar teriakan salah satu dari mereka lagi, dan tampaknya kali ini aku benar-benar tidak akan lolos. Nafas, tenaga, dan semangatku sudah habis… Aku akhirnya menghentikan langkahku.
Tak lama kemudian merekapun telah berada didekatku. Jumlah mereka ada lima orang. Wajah mereka semuanya garang dengan armor yang terbuat dari kulit dan dilengkapi dengan kain merah dilengan mereka yang merupakan tanda anggota gerombolan Mamboo, serta sesuatu yang paling membuat bulu kudukku merinding… golok besar yang tampaknya sudah tidak diragukan lagi ketajamannya.
“He he he… sampai disini saja kesempatanmu untuk melarikan diri.” kata salah seorang dari mereka. “Ya… sebaiknya kau menyerah dan berdoa selagi masih ada kesempatan. Tenang aja, kami akan melakukannya dengan cepat, kujamin kau tidak akan merasakan sakit sedikitpun… he he.” ujar salah seorang lagi.
“Hah…hah…hhh…” Akupun diam membisu sambil mengatur nafasku.
“Hehh… dia sudah tak dapat berbicara lagi, sebaiknya kita selesaikan saja dengan cepat dan kembali kedesa itu.” kata salah satu dari mereka. “Hmm… kau benar, kita selesaikan saja sekarang biar urusan jadi gampang.” sahut lawan bicaranya.
“He-he… sorry gadis manis, sepertinya kau sudah tak punya lagi kesempatan untuk mengucapkan kata-kata terakhirmu.” katanya sambil mengangkat pedangnya yang besar dan tajam tinggi-tinggi siap membelahku.
Tampaknya riwayatku sudah tamat… pria ini sudah siap membunuhku. Maafkan aku ayah, aku tidak dapat meloloskan diri dari mereka… aku tidak dapat meneruskan generasi keluarga Congcor… impianku selama ini akan hilang… Rasanya aku ingin menangis… menangis dan menyesal… tapi itu semua sudah tidak ada gunanya lagi, nyawaku sekarang sudah ada diujung tanduk… selamat tinggal semua…
Kulihat orang itu menggerakkan tangannya dan golok itupun meluncur ke kepalaku… aku memejamkan mata…