FORCLIME Exhibiton Events and Workshop : Belajar Wildlife dan Fotografi Bersama Riza Marlon
Oleh : Dony Indiarto, Dias Mandala, dan Adrian Dwiputra.
Untuk melengkapi video yang telah dibuat sebelumnya.
Pada hari Jumat pertama di bulan Mei 2012, kami berempat: Dias Mandala, Ashari Zain, Adrian Dwiputra, dan Dony Indiarto berencana untuk menghadiri presentasi dan slideshow yang dibawakan oleh Riza Marlon, seorang wildlife photographer senior yang juga seorang biologist dari Universitas Nasional Jakarta. Acara ini diselenggarakan di di Goethe Institut Jakarta oleh FORCLIME, sebuah organisasi kerjasama antara pemerintah Jerman dengan Indonesia yang bergerak dalam bidang konservasi dan manajemen hutan Indonesia sebagai bentuk upaya untuk mengurangi dampak lingkungan akibat gas rumah kaca. Meskipun tempat penyelenggaraan acara ini cukup jauh dari kampus, kami tetap antusias untuk menghadiri acara tersebut demi mamperluas wawasan kami sambil melepaskan kepenatan ujian akhir semester.
Sekitar pukul 16.45 kami berangkat dari kampus ITB dengan mobil Yaris putih yang dikemudikan oleh Dias dan Dony sebagai co-driver (baca:kenek)-nya. Berdasarkan informasi yang kami dapat acara akan dimulai pukul 19.00. Dengan harapan kami dapat menghadiri acara yang telah kami nanti-nantikan ini tepat waktu, Dias memacu kendaraan dengan kencang, melewati arus kendaraan yang cukup padat di jalan tol menuju Jakarta. Namun, keadaan jalan yang macet, khas jalanan Ibukota, hampir membuat harapan kami pupus. Dengan suasana hati yang waswas, sekitar pukul 20.15 kami baru tiba di lokasi. Di lapangan parkir, kami melihat box-box kayu yang nampaknya mengemas perlengkapan acara yang telah usai. Tidak yakin dengan apa yang kami lihat, kami segera bertanya kepada satpam Goethe Institut apakah acara presentasi Riza Marlon telah usai. “Belum, mas..Masih kok,” jawab Pak Satpam. Setelah memarkirkan mobil, kami pun bergegas menuju ke ruang seminar.
Meskpiun acara hampir usai ketika kami tiba, kami bersyukur masih sempat menyaksikan sesi tanya jawab dengan Riza Marlon. Dalam sesi ini, Riza Marlon, yang akrab dipanggil Bang Chacha, menceritakan pengalamannya sebagai fotografer wildlife selama lebih dari sepuluh tahun. Menurut Beliau, ilmu pengetahuan yang ia miliki sebagai seorang biologist, terutama mengenai biologi perilaku sangat membantu dalam bidang yang ia geluti ini. Dengan dasar tersebut, ia dapat memperkirakan momen-momen ketika objek yang ia foto berada pada “pose” yang tepat karena berbeda dengan foto model pada umumnya, “model” pada fotografi alam liar sangatlah dinamis dan tidak dapat kita atur untuk berpose di depan lensa. Hal ini dapat terlihat dari foto-foto yang Beliau ambil, objek-objek dalam foto tersebut dipotret dalam momen-momen yang sempurna sehingga hasilnya pun mengagumkan.
Sebagai fotografer freelance, Bang Chacha mengatakan bahwa Beliau selalu mengutamakan safety dalam setiap pekerjaan yang ia terima. Sarjana biologi lulusan UNAS ini bercerita bahwa ia pernah menolak tawaran pekejaan yang berhubungan dengan dokumentasi perdagangan gelap satwa liar karena resikonya sangat tinggi. Uniknya, yang lebih ia utamakan bukanlah keselamatan dirinya sendiri, melainkan keselamatan perangkat kamera yang ia gunakan.
Meskipun telah menjadi seorang fotografer wildlife yang berpengalaman, tetap saja terkadang permintaan klien tidak dapat ia penuhi 100%. “Misal, klien minta foto 180 spesies, sebagai seorang fotografer profesional ya kita usahakan secara maksimal dapet semuanya. Tapi, tetap saja lapangan itu dinamis jadi kadang-kadang permintaan klien yang 180, kita cuma bisa kasih 160an,” kata Bang Chacha. Kedinamisan lapangan yang sangat sulit diprediksi membuat perjalanan “dinas” yang Beliau lakukan harus didahului oleh survey lokasi yang mendalam. Menurut Riza, persiapan yang sedemikian matang pun belum tentu menjamin bahwa kondisi lapangan dan keberadaan objek yang akan diabadikan sesuai dengan harapan.”Apalagi dengan persiapan yang tidak matang?” sambung Riza Marlon. Beliau juga memberikan wejangan kepada para peserta presentasi yang juga tertarik untuk mempelajari fotografi alam liar. “Jangan malas untuk mengambil gambar,” kata Beliau. ”Misalnya, kamu tunda ambil gambar hari ini, belum tentu objek yang sama kamu foto besok hasilnya sama.”
Pada sesi pertanyaan terakhir, seorang peserta menanyakan kepada Riza Marlon mengenai ketertarikannya untuk terjun dalam bidang konservasi. “Saya agak kurang optimis dengan konservasi di Indonesia. Sudah sering saya dan rekan-rekan saya menyaksikan eksploitasi sumberdaya alam yang tidak sesuai peraturan. Dan sudah sering juga saya laporkan pada pihak yang berwenang di bidang tersebut,” jawab Beliau. “Tapi ya enggak ada respon yang nyata. Tetap saja tidak ada tindakan tegasnya.” Menurutnya, konservasi di Indonesia merupakan perkara yang rumit karena berhubungan dengan beberapa kepentingan yang seringkali tidak sejalan dan diperumit dengan ruwetnya birokrasi. Setelah sesi tanya jawab diakhiri, Riza Marlon menyempatkan diri untuk berbagi cerita di balik foto-fotonya yang ditampilkan pada slide show.
Kebetulan pada saat kami menghadiri presentasi dari Om Chacha, hadir seseorang yang tampak kami kenal. Beliau adalah Dr. Barita O. Manullang, seorang primatologist senior Indonesia, rekan Prof. Djoko yang menemani & membimbing teman-teman peserta kuliah Biodiversitas Tropika ke Pusat Primata Schmutzer April lalu. Dr. Barita mengaku kenal dan lebih sering bertemu Prof. Djoko ketika sedang penelitian di lapangan. Dilihat dari tahun kelulusan sarjana, mereka kebetulan seangkatan. Setelah lulus sarjana, Dr. Barita melanjutkan studinya hingga mendapatkan gelar Ph.D di University of California, Davis. Dr. Barita adalah seorang peneliti yang kaya akan pengalaman, berbagai pekerjaan dan penelitian pernah dilakoninya, dari penjaga loket tiket kebun binatang Ragunan hingga kini bekerja di Zoological Society of London.
Dr. Barita merupakan sosok yang ramah, bersahaja, dan sangat senang berbagi ilmu. Begitu menyapa beliau, kami menyempatkan diri berdiskusi singkat tentang primata tentunya. Isu krusial mengenai konservasi primata, khususnya orangutan, adalah tempat reintroduksi untuk hewan tersebut. Salah satu parameter yang perlu dipertimbangkan adalah keberadaan sumber makanan bagi orangutan di calon lokasi reintroduksi. Buah dari tumbuhan Ficus merupakan makanan preferensi utama bagi orangutan, karena itu kelimpahan dan distribusi Ficus adalah bioindikator apakah suatu lokasi cocok menjadi habitat orangutan. Ficus adalah genus yang setidaknya terdiri dari 850 jenis spesies. Namun terdapat dua spesies utama yang menjadi preferensi makan orangutan yaitu Ficus drupacea and Ficus benjamina. Ternyata fungsi Ficus bagi orangutan tak hanya sebagai sumber makanan, namun juga sebagai habitat mengingat orangutan tergolong hewan arboreal. Selain itu akar gantung pada Ficus juga dimanfaatkan orangutan sebagai media mobilisasinya dengan menggelayut antar akar gantung dari pohon ke pohon lainnya.
Dr. Barita menawarkan apakah kami mau dikenalkan kepada Riza Marlon, tentu saja! Kami dikenalkan sebagai rekan-rekan mahasiswa Biologi ITB, mahasiswanya Prof. Djoko. Belum pernah terpikir bahwa status tersebut menjadi akses tersendiri untuk mengenal tokoh-tokoh Indonesia di bidang biologi. Kali ini kami merasa bangga menjadi mahasiswa yang diajar oleh Prof. Djoko T. Iskandar karena ternyata banyak orang diluar sana mengenal dan menghormatinya. (meski disisi lain kami malu karena sering tertidur di kelas beliau). Om Chacha menanggapi dengan ramah dan kami berdiskusi singkat. Beliau tak segan menawarkan akses untuk bertanya dan berdiskusi dengannya. Boleh melalui e-mail, bahkan boleh saja bertandang ke rumahnya di daerah Bogor. Beliau juga menawarkan kami untuk bergabung dengan milis herpetologi Indonesia yang digagas rekan-rekan mahasiswa IPB. Beliau menekankan demi ilmu pengetahuan, tak perlu adanya arogansi almamater.Kita semua perlu saling bertukar pengetahuan dan ide.