Forgiveness Project #23: Sudah Kubilang, Aku Memang Mengecewakan
Sejak pertama, sudah kubilang, kan, kalau aku ini mengecewakan? Harapan-harapanmu tentang aku itu, sesungguhnya terasa sangat mengganggu. Sebab, hanya karena melihat satu sisi kehidupanku, kamu melambungkan harap seolah aku memanglah begitu: sebaik yang kamu harapkan. Sebelum hari ini, sejak awal perkenalan kita dulu, ingatkah kamu bahwa aku sudah lebih dulu meminta maaf? Saat itu, kubilang, maafkan aku atas banyaknya ketidaktahuanku, juga atas segala lakuku yang mungkin akan tak sesuai dengan harapanmu.
Bagaimana pun, aku tidak bisa mengontrol isi kepalamu, memasuki setiap ruang-ruangnya untuk kemudian membereskan semua persepsi dan harapanmu tentang aku.
Maka kubiarkan saja sambil kuluruskan pelan-pelan dengan mengatakan, “Tidak, aku tidak sebaik itu.” Namun, di sisi lain mungkin sudah selayaknya aku melayangkan syukur kepada Rabbku, sebab dengan ini berarti Dia telah dengan sangat baik menutup aib-aibku, sekalipun itu terhadapmu, orang yang paling lekat dengan keseharianku.
Sekali dua kali, tak kusangka aku bisa dengan berani menunjukkan kelemahan-kelemahanku di hadapanmu. Aku tidak ragu untuk mengatakan kepadamu apa-apa yang menggusarkan hatiku. Aku tidak malu untuk bertanya hal-hal bodoh yang barangkali tak penting bagimu. Aku juga tidak segan membiarkanmu tahu bahwa aku bisa marah, putus asa, dan bahkan menangis tersedu-sedu; sesuatu yang tidak mungkin kulakukan kepada orang lain yang tidak dengan baik mengenalku. Ketika menyaksikan semua ini, bagaimana perasaanmu? Bukankah kamu jadi tahu bahwa aku, orang yang sangat kamu harapkan itu, nyatanya adalah juga manusia biasa yang hidup secara biasa-biasa sebagai seorang manusia?
Meski kutahu bahwa aku ini mengecewakan, kamu tahu, satu-satunya hal yang kutakutkan adalah menyakiti hati orang-orang.
Iya, aku takut ketidaksempurnaanku memunculkan masalah baru pada diri orang lain yang sebenarnya ingin kujaga dengan baik, termasuk kamu. Aku tidak pernah tahu bagian mana dari diriku yang mungkin akan melakukan itu, entah sikapku, perasaanku, atau bahkan pikiranku. Tapi, bukankah semua orang mengecewakan dan berpotensi untuk saling mengecewakan bagi satu sama lain?
Diantara semua hal menarik yang terjadi dalam setiap interaksi, konflik adalah satu hal yang kini paling bisa aku syukuri. Iya, awalnya aku adalah pengecut yang selalu ingin damai dan mencoba sebisa mungkin untuk tidak berkonflik dengan siapapun. Tapi, di antara orang-orang yang berpotensi saling mengecewakan seperti kita (dan yang lainnya), mustahil jika konflik meniada begitu saja. Bukankah begitu?
Di satu sisi, konflik memberi tahu kita bahwa begitulah kita, saling mengecewakan. Lalu di sisi lainnya, konflik juga berbaik hati mendewasakan kita, bahwa akhir yang baik dari setiap konflik yang ada selalu lebih dari bisa untuk kita upayakan.
Apakah akhir yang baik itu? Alih-alih menumbuhsuburkan kecewa, kurasa akhir yang baik itu adalah ketika kita pada akhirnya saling memaafkan, meski sesulit apapun konflik yang ada untuk diredakan. Cara yang kita punya untuk saling memaafkan barangkali tidak sama dengan kebanyakan orang. Namun, dengan atau tanpa terkatakan, saling memaafkan tetaplah saling memaafkan, bukan? Sebab kita sadar, bahwa hanya dengan memaafkanlah kita dapat saling menumbuhkan kebaikan.
Meski aku mengecewakan, terima kasih karena telah menerima apa pun yang tak sesuai harapan, berlapang dada saat dikecewakan, dan juga memilih untuk menjadikan pemaafan sebagai akhir permasalahan sekaligus awal dari sebuah kebaikan.
___
Picture: Pinterest













