Memahami Dunia Lewat Sepakbola
Bedah buku “Memahami Dunia Lewat Sepak Bola” karya Franklin Foer oleh Muhammad Al Fatih, mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Ada yang bilang sepakbola adalah olahraga nomor satu di dunia.
Dibalik glamornya kehidupan bintang sepakbola, sepakbola selama ini juga dipakai sebagai alat untuk memenuhi kepentingan-kepentingan orang-orang tertentu.
Betapa tidak, olahraga yang berlangsung 90 menit ini ternyata begitu menyedot emosi dari para pemain maupun penggemarnya.
Kedua buah tim yang masing2nya terdiri dari 11 orang sejak awal pertandingan memang dikondisikan untuk saling beradu, dan ternyata tidak hanya dalam lapangan, tetapi suporter sepakbola juga beradu (fisik) di luar lapangan.
Persaingan inilah yang dimanfaatkan untuk menentukan kalah-menang dan siapa yang berkuasa diatas yang lainnya.
Bahkan, sepakbola pengaruhnya meluas hingga tataran panggung politik, ekonomi, budaya, dan agama.
Buku ini setidaknya memberikan cuplikan fenomena sepakbola di beberapa negara berbeda dengan kasus yang berbeda-beda, meskipun tidak mendalam.
Bagi yang tahu tentang Liga Italia, pasti tidak asing dengan Juventus. Klub ini juga sempat terkenal dengan skandal calciopolli nya berupa pengaturan skor pertandingan. Italia terkenal akan rahasia umumnya terkait "membayar wasit". Kenapa demikian?
Setelah berakhirnya perang dunia II, Italia dikuasai oleh tokoh-tokoh yg kemudian menjadi oligarki baru yang berbeda-beda. menjadi tempat lahirnya oligarki baru.
Juventus dimiliki oleh Agnelli, sang empunya raksasa otomotif Fiat dan salah satu pemegang saham terbesar di bursa efek milan. Agnelli dalam mengoperasikan itu semua dengan bersembunyi dibalik layar dengan politisi yang dikontrol untuk meregulasi kerajaan bisnis miliknya.
Hal ini juga tercermin dalam klub miliknya Juve, yang tampil mendominasi di liga italia pasca PD II hingga 1980an. Dominasi itu terbilang aneh karena sering dicurigai atas bantuan wasit.
Hingga muncul AC Milan dengan pemiliknya Silvio Berlusconi. Caranya cukup berbeda dengan Agnelli. Berlusconi sangat dekat dengan Media karena telah membangun kerajaan bisnis berawal dari properti, tv, koran, hingga iklan dan asuransi.
Hingga ia berhasil membangun AC Milan dengan 6 kali juara liga champions-nya, tahun 1994 ia menyatakan, "Kami akan buat Italia seperti AC Milan." Media dan Periklanan miliknya berhasil membawa ia menjadi Perdana Menteri Italia.
Penggunaan Klub Sepakbola sebagai media penguasa efektif dalam menanamkan nilai-nilai kepentingan mereka.
Ideologi, misalnya. Di Serbia, dua klub ibukota Beograd bernama Red Star dan Partizan menjadi tunggangan dua kepentingan. Karena pada dasarnya klub se-kota itu merupakan rival tak terbantahkan, maka landasan ideologi juga bisa diseret menjadi alasan mengapa seorang suporter mendukung klub tersebut.
Red Star milik nasionalis yang menginginkan persatuan Serbia keluar dari bayang-bayang Yugoslavia-nya Uni Soviet. Ultranasionalis, sedangkan Partizan merupakan patron bagi komunis, sehingga disokong oleh tentara yang sebaliknya polisi mendukung Red Star.
Ada hal dibalik perseteruan abadi Real Madrid dengan Barcelona, dimana Barcelona mempunyai latar belakang sejarah panjang bangsa katalunya yang menguasai perekonomian, industri, keindahan seni, tata kota dan bahasa sendiri. Hingga akhirnya Madrid melalui rezim Kastilia ini ingin mempersatukan dengan kerajaan spanyol, termasuk melarang penggunaan bendera dan bahasa Katalunya. Kediktatoran Madrid saat itu pula yang membuat Real Madrid mempunyai pemain-pemain bintang dan menjadi klub yang sukses.
Kemudian dalam perkara agama, kedua klub bisa saling bertikai. Lagi-lagi masih merupakan klub sekota. Di Ibukota Skotlandia Glasgow, terdapat dua klub bernama Celtic dan Rangers. Celtic basis suporternya Katolik, sedangkan Rangers mewakili Protestan.
Persaingan ini sangatlah rawan gesekan. Ada yang ditolak bekerja karena dukung tim lawan, ada yg dibunuh karena pakai jersey di lingkungan yang salah. Belum lagi penistaan agama lewat yel-yel suporter. Bisa jadi ini perang yang belum tuntas antara Katolik dan Reformasi Protestan.
Melihat fenomena-fenomena ini, sepakbola bisa dijadikan sebagai sarana untuk melihat konteks geo-politik yang luas.
Karena banyak sekali orang yang menganggap hidupnya hanyalah tentang sepakbola. Siang hingga malam hanya untuk klub yang dicintai, segala pembicaraan dan urusannya hanya terkait dengan sepakbola.