Kudeta Mesir: Sebuah Pelanggaran HAM
Sudah satu bulan belakangan ini, kita diakrabkan dengan berita mengenai kudeta dan kerusuhan di Mesir. Peristiwa ini sudah mengakibatkan puluhan orang tewas; syahid insya Allah; dan ribuan orang luka-luka. Sebenarnya apa yang terjadi di negeri piramid itu?
Kerusuhan di Mesir ini bermula pada 30 Juni 2013, ketika banyak orang mengadakan demonstrasi karena tidak puas dengan kinerja Presiden Muhammad Mursi; presiden pertama yang terpilih secara demokratis setelah 30 tahun era kepemimpinan Hosni Mobarak. Salah satu alasan yang mereka kemukakan adalah timbulnya banyak permasalahan ekonomi di era Mursi, seperti kenaikan harga makanan pokok, listrik, dan BBM, walaupun tidak naik secara signifikan. Namun pers sangat berperan dalam memanas-manasi dan membakar kemarahan rakyat.
Akhirnya pada 3 Juli 2013, militer Mesir di bawah pimpinan Menteri Pertahanan Abdul Fatah Al-Sisi menyatakan berakhirnya kepemimpinan Mursi sebagai presiden. Namun banyak dari masyarakat pro-Mursi yang tidak terima dengan pelengseran ini; terutama dari kalangan partai Ikhwanul Muslimin; karena merasa Mursi adalah presiden yang mereka pilih dengan suara mereka sendiri. Mereka mengadakan demo tandingan, yang menuntut dikembalikannya legitimasi pemerintahan pada Mursi. Tetapi militer Mesir tidak tinggal diam. Mereka tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk melawan demonstran pro-Mursi, bahkan tidak segan menembaki demonstran ketika sedang melaksanakan sholat. Akibatnya puluhan orang tewas dan ratusan hingga ribuan orang luka-luka. Berita terakhir mengatakan sudah 55 orang yang tewas; syahid insya Allah; dan 1000 orang luka-luka. Kejadian ini adalah sebuah pelanggaran HAM berat, karena menewaskan banyak warga sipil yang tidak bersalah.
Saat ini Mursi sendiri masih “diamankan”; kalau tidak bisa disebut diculik; oleh militer Mesir, dengan dalih untuk menjaga keamanan dirinya. Mursi telah dipindahkan lokasinya setidaknya tiga kali , dari fasilitas Departemen Pertahanan , dalam kendaraan lapis baja di bawah penjagaan ketat, dan sekarang Mursi berada dalam fasilitas Militer di luar Kairo, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Selain itu, militer Mesir juga melontarkan tuduhan-tuduhan kepada Mursi, dengan menudingnya bekerja sama dengan Hamas dalam kerusuhan di penjara Mesir tahun 2011 silam. Militer Mesir juga menuduh Mursi telah melakukan serangkaian penculikan, pembunuhan tentara, dan sejumlah tuduhan lainnya.
Sikap kami terhadap kerusuhan di Mesir ini adalah bahwa kami MENGECAM keras kudeta Mesir dan sejumlah kekerasan yang dilakukan oleh militer Mesir terhadap masyarakat. Biar bagaimanapun, Mursi adalah presiden yang sah dipilih secara demokratis oleh masyarakat Mesir. Mesir adalah negara demokrasi, semestinya suksesi presiden dilakukan dengan cara demokratis pula, bukan dengan cara kudeta berdarah seperti ini.
Kami juga MENUNTUT pembebasan Mursi dan pengembalian kekuasaan kepadanya. Mungkin pemerintahan Mursi masih belum berjalan dengan baik. Namun patut diingat, dia baru memerintah selama 1 tahun, dan mewarisi sistem rusak warisan 30 tahun pemerintahan Mobarak. Mustahil untuk memperbaiki Mesir secara menyeluruh dalam waktu 1 tahun saja, jika orang-orang pemerintahan kebanyakan masih antek-antek Mubarak yang otoriter seperti Sisi.
Akhir kata, kami menghimbau marilah kita bersama-sama MENDO'AKAN keselamatan untuk saudara-saudara kita di Mesir, dan semoga konflik dan kejahatan kemanusiaan ini dapat segera berakhir.
Amrizal Aufar
Kepala Departemen Syiar dan Kajian Islam Strategis (SKIS)
FSI FEUI 2013,
Akuntansi FEUI 2010