Namaku Awan. Aku tahu kalian mengira aku ini lelaki. Salah besar.
Aku perempuan.
Entah ibu dan bapak berpikir apa saat aku lahir. Bukan hanya aku. Masku bernama Guntur. Ini masih lebih baik, adik perempuanku dinamainya Petir. Untung saja kami hanya tiga bersaudara, tak kubayangkan bila ada adik-adik lain yang akan bernama Gluduk, Mendung, Gerimis, dan lainnya.
Tapi aku bersyukur,setidaknya aku masih diberi nama yang lebih normal dari Petir.
“Mbak Wan, coba aja namaku bagusan dikit ya, apa kek. Hujan atau Angin, itu kan jauh lebih baik.” Keluh Petir padaku saat kami memancing. Kami sedang menemani Mas Guntur.
“Masih mending kamu Tir, coba kalo nama kamu Hujan, mentok-mentok bisa salah panggil jadi Ojan,”
“Kan nggak lucu Mbak, nanti kalo aku nikah, undangannya ‘Petir dan Adi’ pasti dikiranya itu undangan pasangan homo yang nikah,”
Mas Guntur langsung tertawa. Sebenarnya aku ingin tertawa juga, tapi kutahan, tak enak melihat manyunnya yang melebihi mulut ikan hasil tangkapan Mas Guntur.
“Wes ah, saben dino kok masalahi jeneng ae. Sinau seng bener Tir, marai pikiran Bapak karo Ibu nang surgo,” kata Mas Guntur mengelus kepala Petir.
Aku selalu mengagumi Mas Guntur. Dia bijak. Bijak dan humoris. Dia adalah mas sekaligus Ibu dan Bapakku. Aku dan Mas Guntur berbeda 4 tahun. Usia 22 tahun tidak membatasinya untuk selalu berusaha menghidupi kami.
Ibu dan Bapakku sudah meninggal karena tragedi gempa di Jogja. tepatnya saat Petir masih berusia 5 tahun. Menyedihkan memang.
Mungkin aku belum sempat menerima jawaban yang jelas atas apa arti namaku, nama Mas Guntur, dan nama Petir semasa orangtua ku hidup. Mengapa kami dinamai sebuah nama yang berhubungan langsung dengan atas langit.
Setiap kutanya mereka hanya menjawab, “Setiap nama pasti punya arti tersendiri Wan. Nanti juga kamu tau,” hanya begitu mereka jawab.
Tapi hari itu, sebelum gempa di Jogja saat kami pulang ke kampung halaman tersebut, entah ada angin apa Bapak mengajak aku dan Mas Guntur membahas masalah nama..
“Kamu masih penasaran ndak Wan?”
“Penasaran apa?”
“Nama kamu sama Masmu,” katanya mengebulkan asap rokok dari hidungnya.
“Masihlah, apa Bapak, Ibu suka unsur langit? Tata surya?” tanyaku kala itu masih SD, masih ngelantur.
“Bukan dek, waktu Bapak Ibu pacaran, ngapelnya di luar angkasa,” jawab Mas Guntur yang masih SMP.
“Ndak no,” Ibu pun nyengir
“Kalo sewaktu-waktu Bapak sama Ibu udah nggak ada, udah diambil kembali ke atas. Jadi kalian tetep deket sama Bapak Ibu. Guntur, Awan, Petir di atas, sama-sama Bapak, Ibu” begitu kata Ibu.
Aku dan Mas Guntur yang masih kecil usia saat itu hanya senggol-menyenggol siku dengan sejuta pertanyaan. Ngomong opo sih iki
Dan sorenya setelah terjadi gempa, kami mencari Bapak dan Ibu yang saat kami temui sudah tak bernafas tertimpa batu bata tembok rumah Mbah kami.
Arti Sebuah Nama -via kemudian.com (6 years ago)














