Serving God as God Servant
Hasrat untuk menulis tiba tiba datang lagi kepada saya. Padahal sebelumnya saya sudah bertekad untuk menulis, namun tidak juga saya laksanakan. Status teman dalam facebook yang mengawalinya. Mungkin lebih baik jika saya menulisnya di sini.
“Berada (duduk) di posisi melayani, besar / kecil gedungnya, banyak / sedikit jemaatnya, apapun jenis musiknya, ada persembahan kasih maupun tidak (ini bahkan TIDAK layak jadi pertimbangan), selamanya adalah sebuah anugerah dan kehormatan.
Sayangnya, dari (puji Tuhan) pengalaman saya melayani, saya masih sering menemukan mereka yang meremehkan pelayanan ini; tidak datang latihan, tidak menghafal aransemen / lirik lagu, bermusik / bernyanyi seenaknya, bahkan salah-salah, tidak mendengar kotbah, etc.
•
Sedih.
Seharusnya lebih dari itu. Sadar bahwa sebagai pelayan Tuhan saya juga masih harus banyak belajar dan berbenah, namun saya berani menuliskan hal ini karena saya paham makna dari melayani Raja diatas segala raja, lebih dari sekedar paham; saya bangga dengan kepercayaan ini.
Ada yang sudah melayani bertahun-tahun tapi suaranya masih fals, main musiknya masih salah-salah; tempo, chord, aransemen, penguasaan diri… Celakanya kondisi semacam ini bagi sebagian sudah menjadi hal yang biasa;
•
"Biar Roh Kudus yang menyempurnakan…”
•
•
•
Roh Kudus yang saya kenal dan cintai luar biasa, adalah pribadi yang bukan hanya penuh kasih, namun tertib.
•
•
Lalu, sebagian mulai memberikan alasan klasik ‘tidak ada waktu untuk belajar / latihan..’ 'tidak ada uang untuk kursus bernyanyi / musik…’ 'bakat / kemampuannya biasa saja, yang penting hatinya….’
•
•
Filipi 4:19
•
•
Jadi, kalau kita punya niat, usaha dan yang terpenting sudah berdoa, segala sesuatu yang diperlukan untuk belajar – agar Raja diatas segala raja disenangkan – agar pelayanan kita lebih bertanggung jawab, PASTI ada jalannya. Melayani bukan hanya soal hati, namun kemampuan. Bohong besar kalau ada yang berkata 'yang penting hati’, sehingga mentolerir segala kekurangan yang BISA diperbaiki.
•
•
Kalau belum bisa menghargai pelayanan mingguan, yang sebagian dari kalian anggap adalah hal kecil, bila dibandingkan dengan pekerjaan bermusik / bernyanyi di tempat lain, lebih baik tidak usah melayani dulu. Kalau mau melayani hanya karena mendapatkan PK, lebih baik kembali jadi anak sekolah minggu.
#SundayService
YWS"
Kira kira begitu status facebook sahabat saya. Saya kagum akan dirinya yang memiliki pemikiran seperti itu. Saya salut karena dia tetap setia dalam pelayanan yang dipercayakan padanya. Saya juga paham karena dia sudah malang melintang di dunia ini. Dia menantang saya memberikan opini saya dan tentu saya sangat senang memberikannya.
Saya paham dan sangat paham apa yang ia coba katakan. Saya sendiri juga pelayan di atas mimbar dan saya juga pernah mengalami apa yang ia alami. Saya bersyukur karena diberi kepercayaan untuk menjadi pemain musik. Saya sangat percaya bahwa praise and worship adalah gerbang menuju hadiratNya yang mulia, dan petugas PAW adalah orang-orang yang menghantarkannya.
Di gereja saya, kami wajib latihan sekali sebelum hari Minggu. Dan sebelum latihan, kami harus “ngulik” lagu agar saat latihan hanya tinggal menyatukan dan menyempurnakan. Saya ditempatkan di tim yang secara skill sangat baik dan hampir membuat saya minder, namun saya belajar banyak dari mereka. Meskipun skill mereka tinggi, tidak lantas menjadikan mereka sombong. Ada yang latihan rutin bahkan sampai mengikuti les, padahal kemampuan mreka sangat mumpuni.
Berada dalam tim seperti ini membuat saya berpacu. Saya juga mengulik lagu, saya ingin equal dan bersama memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Saya belajar bahwa agar bisa membawa jemaat connect kepada Tuhan, terlebih dahulu harus kita, petugas PAW yang connect kepadaNya. Bagaimana kita bisa connect jika sikap hati kita dari awal sudah salah? Saya sangat setuju dengan sahabat saya. Saya sedih dengan orang yg berlindung dibalik “Yang penting hati, atau Tuhan yang menyempurnakan” Tentu hati penting, untuk itu kita harus memberikan yang terbaik. Caranya? Ya bukan dengan sikap pasrah, pasif, apalagi menghindari tanggung jawab. Latihan, latihan dan latihan. Kalau teman kita menghabiskan waktu sejam dan kita tidak bisa, ya lakukan dua jam! Selalu ada cara jika kita memang mau. Sedangkan yang ahli saja masih tetap latihan, kenapa kita tidak? Kalau teman kita bisa menghapal chord di luar kepala dan kita tidak, ya catat! Tidak perlu merasa malu apalagi pura pura bisa menghapal. Hal itu lah yang saya pelajari saat berada di tim ini. Saya bisa bilang bahwa saya belajar banyak dalam pelayanan ini. Saya belajar untuk terus upgrade kapasitas diri dan mau dikoreksi. Karena itu menurut saya evaluasi bersama adalah hal penting. Kita mungkin tidak mengetahui kelemahan/kesalahan kita dan mungkin teman kita mengetahuinya. Evaluasi! Bukan untuk menjatuhkan, namun agar ke depannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. JIka latihan, datanglah tepat waktu agar waktu tidak terbuang sia-sia. Saat hari H, datanglah lebih awal untuk mempersiapkan diri dan dan segalanya. Setelah ibadah, lakukan evaluasi agar kita mengetahui apa yang menjadi kendala dan apa yang harus diperbaiki ke depannya. Kesannya menyeramkan? Kok lebay? Kok pakai evaluasi segala? Hei ini memang pelayanan, tapi jangan pernah menyepelekan hal ini. Untuk organisasi saja kita bersedia berkorban, kerja keras. Untuk pekerjaan kita berusaha tampil sebaik mungkin dan menyenangkan bos kita. Apa bedanya dengan pelayanan? Apakah karena tidak ada sistem reward and punishment? Atau lagi-lagi karena anggapan ‘’yang penting hati’’? Kita perlu cek hati kita kalau memang jawabannya iya. Kesungguhan hati kita dalam melayani tentu dilihat bagaimana kita mempersiapkan diri kita melayani Sang Raja. Reward yang kita dapat bukanlah dari manusia. Saya percaya Ia adalah Allah yang menyediakan segala sesuatu dan orang-orang yang sungguh-sungguh melayaniNya tidak akan pernah berkekurangan.
Pelayanan butuh komitmen. Tentu saja. Tidak jarang saya melihat orang-orang dalam pelayanan justru tidak bisa menjaga komitmennya bahkan keluar karena alasan yang sepele. Saya sendiri pun tetap berusaha menjaga komitmen saya. Jenuh dalam pelayanan pun pernah saya alami, saya merasa bosan dan menghindar dari pelayanan saya. Tapi saya sadar bahwa Tuhan tidak pernah menyerah akan hidup saya dan terus berusaha menarik saya kembali. Puji Tuhan saya mampu memperbarui komitmen saya dan saya lagi-lagi bersyukur berada dalam tim yang memiliki komitmen.
Kita memang tidak sempurna, tapi Allah kita sempurna. Kita harus selalu striving for excellence, dalam hal apapun termasuk dalam pelayanan kita.
Teruntuk sahabat saya, saya bangga dan salut atas kesetiaan dalam pelayanan yang kau tunjukkan. Saya hanya berharap bahwa kita bisa finishing well dalam pertarungan ini. And, I’m so surprised that you can write your opinion loud and clear! Really! You have to start your own blog and let me know if you do!!