Life’s Best Amazing Director
Saya merenungkan banyak hal selama 1 tahun belakang. Saya bersyukur atas hal yang bisa terjadi sepanjang 2016. God never failed to surprise me. I’m amazed by everything he prepared for me. Mulai dari membuka tahun bersama keluarga, sampai sebuah visi yang tertanam, Encountering Him in everything. Tahun 2016, saya memiliki banyak target dan saya percaya bahwa ini adalah tahun kemenangan bagi saya. And surprisingly it did. Though many ups and downs happened, but i’m still alive and survive, and it’s only by His grace.
Vonis Dokter
“Ini harus diangkat. Nggak bisa nggak, cuma itu jalan satu-satunya. Tapi yah kalo operasi resiko ada dua, suaramu hilang sementara atau hilang selamanya. Mana nomor hp kamu, ini saya mau kirim telp dan alamat saya. Nanti kalo mau diangkat hubungin saya langsung di nomor ini aja,” kira-kira begitulah kata dokter pertama pada saya. Tanpa memperhatikan reaksi maupun ekspresi saya, ia memberikan penjelasan bahwa saya harus dioperasi. Bukan menjelaskan perihal apa yang saya derita, ia justru langsung mengultimatum bahwa saya harus dioperasi. Shock dan kaget tentu saya rasakan. Terlebih karena ia mengatakannya dengan ringan seakan-akan ini adalah hal yang biasa. Apalagi dengan mengatakan bahwa chance suara saya tetap bertahan adalah 50% saja.
“Ini memang harus diangkat. Kalau mau di usg silahkan, tapi ini memang sudah kelihatan bahwa ini harus diangkat. Tidak emergency, nanti saja sewaktu libur kuliah. Kamu tinggal di mana? Ini saya kasih rujukan, nanti operasinya di kota asal kamu saja,” dokter kedua menyatakan hal yang sama kepada saya. Ultimatum yang sama namun dengan cara yang lebih halus dan lebih menenangkan.
“Apa? Operasi? Serius?!” teman saya bereaksi keras saat saya menceritakan jawaban dokter pada saya.
“Ah nggak mungkin, jangan bercanda ah,” mereka masih tidak percaya dan saya hanya tersenyum getir. “Ih kamu kok tenang gitu sih!”
Saya hanya menjawab “Jadi aku harus apa dong? teriak? Nangis? Kan enggak..” mungkin teman-teman saya heran dengan reaksi saya. Mereka mungkin tidak sadar bahwa jauh di dalam hati tentu saya ketakutan setengah mati. Saya hanya tidak bisa mengekspresikannya.
Begitulah kejadian 2 tahun yang lalu, kira-kira tahun 2015. Saya mendapat vonis yang tidak menyenangkan. Di leher saya ada tumbuh benjolan yang awalnya saya kira amandel yang akan menghilang seiring berjalannya waktu. Namun bukannya menghilang, benjolannya semakin bertambah besar. Saya kemudian pergi ke dokter dan mendapat vonis dari dokter. Papa saya langsung menyarankan saya untuk segera diperiksa di Penang untuk mendapatkan third opinion. Jawaban dokter di sana sama, namun jauh lebih melegakan. Hasil usg, rontgen, dan check darah menunjukkan memang adenoma tiroid. Tidak membahayakan, namun akan terus bertambah besar dan bisa menggangu pencernaan dan pernapasan.
Tepat bulan september 2016, saya menjalani operasi untuk mengangkat jaringan tiroid yang sudah membesar tersebut. Berbagai hal muncul dalam pikiran saya, tapi saya berusaha berpikir positif dan positif. Mungkin sebagian orang akan berpikir ini adalah operasi kecil. tapi operasi apapun, selalu ada risiko yang bisa muncul. Dan Puji Tuhan, operasi berjalan dengan lancar. Jaringan yang berukuran sebesar bakso urat itu berhasil dikeluarkan. Pasca operasi, saya tidak diharuskan minum obat tertentu, hanya antibiotik selama seminggu. Selang di dada untuk mengeluarkan jaringan yang tersisa pun boleh dilepas 2 hari setelahnya. Saya juga bersyukur suara saya tidak hilang, bahkan tidak serak seperti yang saya takutkan. Hanya memang masih terdengar lemah dan kecil karena butuh effort untuk bersuara.
Saya kembali ke Medan sehari setelah keluar dari rumah sakit. Di rumah, ternyata saya sempat demam, dan leher saya terasa sakit saat menelan. Saya harus menahan sakit selama seminggu karena dari leher sampai ke dada saya terasa kebas dan kaku. Sungguh tidak enak, saya kepayahan tiap mau tidur dan bangun tidur. Saya kesulitan untuk berbicara keras dan bahkan untuk tertawa pun rasanya sangat sulit. Dada saya juga sempat bengkak kemerahan seperti memar. Saya hanya berharap hal ini normal dan memang bagian dari proses penyembuhan.
Lamaran Pekerjaan
Sebagaimana mahasiswa yang baru lulus, saya rajin apply kiri kanan dan mengikuti job fair. Job fair yang sudah saya daftar berlokasi di Jakarta dan saya sudah mendaftar jauh-jauh hari. Dua minggu pasca keluar dari rumah sakit, saat saya ingin meminta izin untuk pergi, (which is i’m not even sure that i can go bcause of this recovery), ternyata dada saya membengkak, tepat di daerah pemasangan selang pasca operasi. Okay, saya anggap memang Tuhan belum mengizinkan saya pergi. Saya sedih sekaligus lega, karena saya sendiri juga takut untuk pergi. Sedih, karena pressure untuk mendapat pekerjaan sangat besar terutama setelah wisuda. Takut tidak dapat pekerjaan, takut omongan orang, dll. Sedih, karena perusahaan yang saya incar ada di sana. Kakak saya menghiibur saya dengan berkata bahwa kalo itu memang bagian saya, pasti tidak akan kemana. Saya merelakannya karena mungkin saat itu belum saatnya saya ‘pergi’ dari rumah.
Seminggu setelah itu, saat bengkak di dada mulai membaik, saya mendapat panggilan untuk interview di Jakarta. Salah satu perusahaan yang sangat saya tunggu kabarnya. Namun justru saat itu, luka bekas operasi saya infeksi. Luka itu terus mengeluarkan nanah. Badan saya drop dan saat itu mama saya berkata bahwa kesehatan saya lebih penting. You have no idea how it broke my heart. Rasanya seperti tidak adil. Kenapa harus di saat seperti dan kenapa harus terjadi lagi saat saya ingin interview? Saya minta diextend, dan HRDnya bilang bahwa saya akan dipostpone dan dimasukkan ke dalam list tunggu. Mereka belum tau apakah saya bisa diproses apa tidak. Well kalian yang pernah mencari pekerjaan pasti paham jika HRD sudah bicara begitu. Dengan sangat berat hat saya merelakannya sambil terus berharap akan tetap diberi kesempatan. Mama saya hanya menyuruh saya berdoa, agar perusahaan itu mau mempertimbangkan.
I’m so sad, this is a job that i’ve been waiting for, and i couldnt even fight for it. God i want this. This is what i said to Him, and try to let it go if this isn’t the best for me.
Setelah itu saya mendapat panggilan untuk wawancara lagi di Jakarta. Well kali ini saya merasa siap, dan saya merasa saya harus berjuang lagi as a jobseeker, dan tidak mau merelakan hal seperti ini lagi. Saya memberanikan diri pamit kepada orang tua. Saat mereka melihat keseriusan saya dan kesiapan kesehatan saya, akhirnya mereka iznikan saya berangkat. Sungguh jaraknya hanya berselang 2 hari. Sabtu saya mendapat pengumuman, dan saya menguatkan tekad untuk berangkat hari Senin.
I should say miracle did happen. And I must say that God is so romantic. He had His way and i could not find out what God has done from the very beginning till the end.
I graduated in the right time, I got my surgery done, I got my job. All in the amazing and wonderful ways.
Saya bersyukur segala target yang saya buat di awal tahun 2016 bisa tercapai meskipun dengan cara yang aneh, unik, dan luar biasa. Saya percaya Tuhan adalah sutradara dan penulis skenario terbaik dalam hidup ini. Buat kalian yang sedang menunggu jawaban doa, percayalah Tuhan tidak tidur, mungkin ia hanya mempersiapkan waktu terbaik untuk menampilkan ‘naskah’ versi terbaikNya.
“What no eye has seen, what no ear has heard, and what no human mind has conceived” the things God has prepared for those who love him—
- 1 Cor 2 : 9
Ps. The Job that I got is the Job that i’ve been waiting for half a year.









